close

[Album Review] Bjork – Vulnicura

bjork_vulnicura_0
bjork
bjork

Bjork – Vulnicura

One Little Indian Records

Watchful Shot: Lionsong – History of Touches – Notget – Quicksand

[yasr_overall_rating size=”small”]

Dengan apa mengobati rasa patah hati yang terlanjur terkatung-katung dalam hati? Bjork menjawabnya dengan sebuah album penuh kesembilan. Putus cinta dengan kekasihnya, Matthew Barney malah membuat album ini sebagai entitas kesenian yang jujur. Vulnicura adalah bentuk emosi jiwa manusia dalam wujud Bjork, serta menampilkan seni dalam bentuk fungsionalnya. Ikon pop bandel yang telah melewati masa laris manis di era 90-an ini menjawab tantangan ego seorang seniman. Sembilan nomor sendu dan cubitan nada-nada minor sama sekali tak memberi kesempatan untuk beriang gembira. Masih dengan musik elektronik cengeng yang dipandu Arca (DJ asal Venezuela) dan The Haxan Cloak (Bobby Krlic) serta sayatan orkestral violin, Bjork sadar dia sedang tak berpura-pura menahan tangis.

Vulnicura memang tak sedahsyat Vesperite atau Homogenic yang menembus penjualan jutaan kopi, namun Bjork telah meningkatkan kualitas musiknya secara blak-blakan. Ia tak butuh nada-nada pemanis sebagai premis awal menuju penyebaran lagu yang luas. Meski bisa dicurigai Bjork sedang mengeksploitasi kesedihannya sendiri, mau tidak mau Vulnicura memang sedang mengajak orang-orang untuk memahami hatinya. Menaruh “Stonemilker” dan “Lionsong” pada dua urutan pertama adalah hal yang tepat. Dua nomor paling ramah didengar pada album ini memiliki rentetan nada violin murung yang indah, nuansa soul beat DJ, serta lirik pedih menggugah jiwa.

Sedangkan “History of Touches” dan “Black Lake” diduga sebagai puncak tumpah ruah tangis sang Bjork. “History of Touches” memiliki subjudul yang tertulis di booklet: ”3 months before”, serta “2 months after” untuk “Black Lake”. Dua nomor yang berdekatan dengan tanggal putus ini bahkan memiliki nuansa paling suram. Nuansa lirik I wake you up/ in the night feeling / this is our time together / therefore sensing all the moments / we’ve been together” di “History of Touches” sama muramnya dengan “you give nothing to give / your heart is hollow / I’m drowned in sorrows / no hope in sight of ever recover / eternal pain and horrors,” pada “Black Lake”.

Sementara “Notget” menjadi nomor paling kaya musikalitasnya dengan gesekan violin cepat serta beat drum elektronik yang menyertai. Bjork sendiri tidak serta merta memisahkannya dari sendu dan tangis. Meski diliputi kepedihan yang mendalam, tanggung jawab objek kemurungan tidak hanya terletak pada Barney. Adalah “Quicksand” yang mendeskripsikan cinta kasih seorang Bjork pada ibunya. “Quicksand” ditulis Bjork pada 2011 lalu saat ibunya koma akibat kanker. “Our mother’s philosophy / it feels like quicksand / and if she sinks / I’m going down with her” menaruh bukti bahwa cinta dan kasih adalah sikap yang paling jujur darinya.

Desain sampulnya menyiratkan bahwa hati seorang perempuan tengah berduka. Persilangan wajah sedih dan luka menganga pada bagian dada tentu menambah pertanyaan besar kuantitas kepedihannya. Sungguh dosa besar bagi Barney jika setelah ia mendengar album ini dan tidak kembali pada Bjork. [Yesa Utomo]

 

 

 

Tags : album reviewbjork
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response