close

[Album Review] Black Star – Luar Angkasa

blackstar
blackstar
blackstar

Record Label: Demajors (2016)

Watchful Shot: “Luar Angkasa”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Setelah sempat menghilang kelar merilis album perdana 2009 lalu, Black Star kembali hadir dengan album kedua. Menggaet Demajors, band ini mencoba membuka sebuah lembaran yang (saya pikir) bercerita tentang perjalanan luar angkasa sesuai tajuk album yang mereka usung, Luar Angkasa, lengkap dengan gambar astronot di muka depan.

Tampaknya Black Star memakai istilah Luar Angkasa sebagai sebuah ruang yang memberikan kesempatan untuk bereksplorasi dalam bermusik mereka. Sama seperti berpetualang di luar angkasa dimana kita bisa mencari dan menemukan hal yang baru, Black Star mencoba bereksperimen dengan musik pop. Walaupun apa yang mereka lakukan ini sudah pernah dilakukan oleh Radiohead atau versi lokalnya, Efek Rumah Kaca.

Ke 10 lagu yang ada di piringan audio ini memuat tempo yang variatif mulai dari pelan semacam “Romantisme Digital”, atau “Genocide” yang akustik, sampai ke yang sedikit upbeat semacam “Luar Angkasa” atau “Now I Know Who You Are”. Secara musikal, mau tidak mau saya merujuk ke Efek Rumah Kaca sebagai pembanding Black Star, versi ringan tentu saja.

Penggunaan Bahasa Indonesia dan Inggris dalam album ini seolah ingin menunjukka eksplorasi mereka dalam departemen lirik tapi sayangnya masih seputar hal yang overrated semacam cinta. Mungkin lirik “Euthanasia” semacam “Buta mata, hampa jiwa, mati saja, euthanasia” yang mencoba mengulik tema yang tidak biasa but still sound cheesy. Atau “Jugun Ianfu” yang bercerita tentang lembaran hitam sejarah bangsa Indonesia dengan lenguhan “Ku bukan pelacur, dirampas dilacur”.

Menyimak cerita dibalik single “Luar Angkasa” mungkin lebih menarik perhatian karena lagu ini didapuk menjadi soundtrack sebuah serial komik karya Haryadhi, Rixa. Komik fiksi ilmiah yang pengerjaannya tidak main-main ini, antara lain berkonsultasi dengan  Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), bercerita tentang anak petani kelapa sawit yang berpetualang di luar angkasa. Kolaborasi antara musik dan komik ini menjadi keunikan tersendiri tentunya karena selama ini kebanyakan musisi berkolaborasi dengan film sebagai soundtrack-nya.

Black Star mencoba membuat sebuah musik yang bisa merasuk dari kepala untuk kemudian menyentuh ke dalam jiwa, yang dalam beberapa hal berhasil terutama kalau kamu suka ERK atau Radiohead. Hasil percobaan yang didapat memang bukanlah sesuatu yang breaking through tapi secara keseluruhan album ini pas sebagai pembuka para penikmat musik mainstream untuk sedikit melongok ke wilayak eksperimentasi, yang ringan tentunya.[WARN!NG/Indra Menus]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response