close

[Album Review] Blur – The Magic Whip

blur
blur
blur

Blur – The Magic Whip

Parlophone / Warner Bros.

Watchful Shot : Go Out – I Broadcast

[yasr_overall_rating size=”small”]

Lain dengan Oasis yang dua dekade karirnya dihabiskan dengan malu-malu menjulur keluar dari pakem amannya, musikalitas Blur terus beranjak binal dan barbar di tiap album. Semenjak Think Tank, Blur resmi menjadi versi bengal dari Radiohead, dan saya menaruh banyak harap pada The Magic Whip.

Di sisi lain, saya sempat terganggu dengan kover album ini: ilustrasi neon lit berbentuk es krim cone dengan aksara Cina (berbunyi ‘Blur Magic-whip’), persis bergaya plang restoran kwetiau di film-film action Mandarin. Faktanya, kover ini justru menjalankan eksistensinya dengan sempurna. Dalam The Magic Whip, Damon Albarn merupakan seorang Britania tulen yang terjebak di hiruk pikuk mobil sedan lusuh, gemerlap neon norak, guguran kembang api, dan segala latar ideal untuk pengambilan gambar film Police Story. Dunia sudah terlampau luas baginya untuk hanya mencibir London di “Parklife” dan “Boys And Girls”. Ia menghabiskan lima hari di Hong Kong—titik temu glamoritas dan keresahan belahan dunia Barat dan Timur—untuk mengumpulkan lirik dan melangsungkan rekaman. Secara ajaib, The Magic Whip sungguh seperti membuat kita hadir di sana tanpa harus misalnya, klise mendatangkan paduan suara pop Mandarin. Sepanjang 51 menit, ada es krim cone, neon lit, chinese food, Bruce Lee, dan pisau dapur di kiri dan kanan.

Sayang, dengan dominasi nomor mid tempo, The Magic Whip agaknya terlampau terjerumus dalam utak-atik atmosfir hingga malah berakhir bagai Everyday Robots (album solo Albarn) yang kehilangan lagu-lagu pentingnya: “Everyday Robots”, “Mr Tembo”, atau “Lonely Press Play”. Kembalinya Graham Coxon—pasca absen di Think Tank—juga tak banyak berperan. Tak ada dari “Lonesome Street”, “New World Tower”, “Thought I Was a Spaceman”, “Ghost Ship”, dan “Mirrorball”, yang semenarik tajuknya. Beberapa yang menjerat perhatian diantaranya adalah kala Albarn meledek nyenyapnya bar penuh lentera pada “Go Out”, “Ice Cream Man” dengan bebunyian mesin es krim—atau pinball, bubble gum, apalah—yang berfungsi bak uang receh di “Money” (Pink Floyd), dan riff dugal “I Broadcast” yang mengingatkan pada “F.I.N.E” dari Aerosmith.

Dari Hong Kong, Albarn juga pasang mata pada sosial-politik Benua Kangguru (“There are Too Many of Us”) dan Korea Utara (“PyongYang”). Yang disebut pertama, lebih memikat dengan topik overpopulasi: There are too many of us / That’s plain to see / We all believe in praying / For our immortality.” Sayang, dengan lagi-lagi nomor trip hop atmospheric, there are too many of them. Di akhir resensi ini, banyak opini yang saya tarik kembali. Saya beralih mengagumi sang kover neon, namun tak lagi banyak berharap pada musiknya. Relakan Albarn menyeberang lagi ke barat sebatang kara, bercengkerama dengan gajah-gajah Afrika, dan merilis album solo keren seperti Everyday Robots. [Soni Triantoro]

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response