close

[Album Review] Boy Horror – Dedikasi

boy horor cover

Review overview

WARN!NG Level 10

Summary

10 Score

Label: Death Breath Records

Watchful Shot: ALL TRACK

Surabaya dikejutkan dengan obituari singkat, tentang keputusan Screaming Out, legiun hardcore punk kawakan yang menyatakan akan mengubur diri sendiri dan berpisah tanpa mengucap salam dalam sebuah status media sosial. Satu persatu veteran hardcore punk tumbang berguguran. Lalu apa? Berharap pada regenerasi? Cuih! Nyatanya kini hanya ada segelintir nama saja yang masih bertahan hingga hari ini. Dan yang lain? Mungkin sekarang tengah berada di tengah lantai dansa, lengkap dengan membawa pasanganya yang lebih mirip terlihat pameran berjalan,  atau mungkin dalam tongkrongan klab-klab mobil borjuis dengan tubuh bersimbah kapitalis.

Namun seiring itu, ada kabar lain yang setidaknya membuat senyum di bibir hitam penuh nikotin saya kembali merekah. Mini album Boy Horror, sebuah band yang namanya telah berkalang tanah—mungkin satu era saat Megawati menjual Indosat—akan dirilis dalam format fisik oleh Deathbreath Records, sebuah record label kemarin sore yang terus menuai kejutan berarti.

Mendapuk judul Dedikasi sebagai nama EP-nya, mereka merekam ulang lima track yang dulu pernah mereka rilis dalam format digital dengan berkualitas buruk, menjadi bernas tak karuan dengan mengundang lima vokalis kolektif lain untuk turut menyumbang letupan suaranya dalam EP ini. Tentu saya senang bukan main. Kira-kira euforianya sama seperti saat menertawakan lawakan terlucu abad ini; saat Fahri Hamzah yang mengatakan gedung DPR miring tujuh derajat, lebih dari menara Pisa! Mungkin ini adalah jawaban mengapa kondom harus diciptakan.

“A Better Home” didaulat sebagai trek pembuka. Mendapuk Bagas dari WolfxFeet untuk melantunkan nomor pertama, Boy Horror berhasil membuka kolektif kekaryaan ini lewat emosi vokal yang meletup-letup. Riff gitar yang catchy yang terdengar lebih punk rock layaknya Nofx, berhasil bersatu dengan gempuran d-beat di sektor drum yang membuat nomor ini kian eksplosif dan berdaya ledak tinggi. Lagu ini merupakan tembang yang tepat saat dinyanyikan bersama kawan-kawan lama, dengan pengaruh miras di tongkrongan Gang Setan sambil mengenang kenakalan masa muda yang telah mereka kerjakan.

Di nomor berikutnya, Bryan dari Pollar 33 ambil bagian dalam mengisi vokal. Karakter suara parau mirip Brian Kaczmarczyk, vokalis Counterparts semakin menyulut tensi album ini menjadi kian memanas dalam nomor “Dedikasi” Lalu “Hantam dan Buang” menjadi track nomor 3. Pada lagu ini Boy Horror mencoba kembali pada scene hardcore dimana mereka dibesarkan; 80’s Hardcore. Era dimana semua orang mengangap Ian MacKayey bak sosok juru selamat karena getol menyuarakan straight edge. Di sini karakter vokal dari Henry vokalis Strenght of Change terdengar Champion-esque. Sebuah nomor klasik yang dipastikan tetap akan menyulut circle pit dalam tiap show mereka.

Rasanya penantian yang akan mendekati satu dekade ini tak sia-sia. Florensius Ade, selaku konduktor sekaligus yang menyatukan kembali serpihan-serpihan masa silam yang tercecer untuk kembali mengibarkan bendera yang sempat jaya di skena Surabaya pada awal milenia kedua silam, bekerja dengan sangat baik. Bahkan yang mengherankan, musik yang mereka tulis bertahun-tahun lalu masih terdengar relevan hingga hari ini.

Sebuah track kurang ajar yang akan memaksamu mengumpat adalah “We Shout”. Bagaimana mungkin mereka mampu mengawinkan Social Distortion dengan NOFX di tengah teriakan gang vocal disegala lini. Serta menghadirkan nyawa early Beastie Boys di nomor pamungkas “Fuck Your Crew”, adalah lagu yang cocok untuk mengokupasi headset kalian saat tengah berada di depan kawat berduri dan di tengah-tengah buruh non-kompromis tiap kali kalian merayakan Mayday.  Fuck you! Fuck your crew! [WARN!NGMAGZ/Reno Surya]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response