close

[Album Review] Brandon Flowers – The Desired Effect

The_Desired_Effect
The Desired Effect
The Desired Effect

Brandon Flowers – The Desired Effect

Island / Virgin EMI

Watchful Shot: “Can’t Deny My Love”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Efek taburan debu peri di intro lagu pertama, “Dreams Come True” (shit, judulnya) mungkin adalah metode siar glamoritas yang paling menggelikan dari Brandon Flowers, musisi akbar abad 21 yang meniti sorotan di perbatasan antara bintang rock dan bintang pop. Pada karir solonya, ia nampak memilih yang kedua. Misalnya, dengan memilih produser Ariel Rechtshaid yang pernah bekerja dengan Beyonce, Madonna, atau Usher untuk album kedua ini, The Desired Effect.

Pasca album solo pertamanya (Flamingo) terdengar seperti album cadangan The Killers, label rekamannya sempat menyarankan Flowers tampil di lagu-lagu DJ. Tak lama setelahnya, ia terinspirasi dari anthem gay, “Smalltown Boys”—nomor dari Bronski Beat, trio synthpop populer Britania—dan menyuguhkan sesuatu yang katanya berbeda di The Desired Effect. Ada synthesizer, new wave, pentolan Pet Shop Boys (Neil Tennant), dan sentuhan Duran-Duran. Semua itu berkesan inovatif andai kita lupa bahwasanya 30 sampai 50 persen komposisi musik The Killers faktanya juga di bawah pengaruh eksplisit elemen-elemen itu.

Salah satu keuntungan mendengarkan album solo Flowers adalah kesempatan untuk lebih fokus menikmati vokalnya yang gospely dan mengkilap, seperti di “Can’t Deny My Love”. Namun, tetap saja ia berlantun begitu mirip dengan Bono, terutama pada “Never Get You Right”, “I Can Change” dan “Between Me And You”. Sementara “Lonely Town” agaknya tidak bisa tidak mengingatkan pada era disko Queen.

Materi The Desired Effect yang terlampau terkemas rapi malahan berakhir cenderung dingin dan tawar. “And when you’re down / Girl, you got to know this / Nobody else is in your room / We’ll make it through,” bunyi “Still Want You”, lagu yang terlihat paling sadar akan bahaya perosok synthpop kaku. Selain lirik tipikal gemerlap dansa, dihadirkan juga koor anak kecil di reff menggila: “Crime is on the rise, I still want you / Climate change and death, I still want you / Nuclear Distress, I still want you / The Earth is heating up, I still want you / Hurricanes and floods, I still want you”. Meski bukan tidak mungkin menyeret kepala untuk bergoyang sejenak, namun terobosan itu tak terlalu menolong keseluruhan The Desired Effect yang memang didominasi oleh pop arena hambar. Setelah melakukannya pada Flamingo, ini kali kedua saya sedikit bersyukur Bono tak pernah merilis album solo. [Soni Triantoro]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.