close

[Album Review] Brightsize Trio – First Step

logo bst jpeg

Review overview

WARN!NG Level 3

Summary

3 Score

Label: Zhu’fu Record (2016)

Watchful Shot: “Illusion”

Sebagai aset pembuktian, tiga awak blues dari Yogyakarta baru saja merilis boxset album perdananya First Step Februari lalu. Album yang lebih dulu meluncur pada Oktober 2016 ini tampil kembali dalam komposisi boxset berikut olah kreatif berupa kalung dan kaos. Berada sebagai outsider dari BST, kelahiran First Step yang lamat-lamat ini jadi bahasan cukup mengherankan. Pasalnya cuaca di tubuh BST yang notabene akrab dengan arus berkesenian kolektif dan kreatif bisa jadi solusi, kalau tak mau dibilang batu loncatan. Pendengar mau tidak mau mengambil Summerchild, GIE atau pun Tone Dial sebagai komparatif.

BST adalah Angga Waskita (vocal, gitar), Endy Barkah (drum) dan Desy Nugroho (bass). Mendengarkan First Step, sebagaimana blues yang berpeluh dan bersendu dikasari dengan  drive pedal gitar Angga, bukan perumpamaan negatif meski adat tersebut sudah dipatri lama. Hal itu juga satu keseruan dalam mazhab modern blues. First Step terbangun atas lima lagu, empat lagu berbahasa Inggris dan satu berbahasa Indonesia. Dari unit lirik, lima lagu yang dihadirkan BST dalam First Step menyodorkan orientasi ke-aku-an yang sedang dalam kesepian, seperti penggalan “… my own way…”, jika pun bukan kesepian, performa individualis subjek “Aku” tak pernah luput dari hal yang sepi. Menariknya, kesepian dan kepayahan di sana bukan ditangisi melainkan sebuah selebrasi yang terkesan nakal seperti dalam “If You Got No Money”.

Dari lima track yang ditodongkan BST, dalam lirik, “Illusion” melewati kematangan kreatif yang paling nyaman dinikmati telinga. Meskipun menggunakan metafor-metafor kontradiktif, logika yang kabur itu justru menawarkan perasaan yang dalam tentang (lagi-lagi) performa “Aku” nan kontemplatif. Dua lagu lagi berjudul “I’m Not a Loser”  dan “Kisah Tanpa Cerita” dibangun atas arus perasaan yang sama sekali berbeda. Jika “I’m not a Loserbercerita keyakinan, “Kisah Tanpa Ceritabernuansa kepayahan.

Unit musikal tak diragukan lagi, BST yang biasa bervakansi dalam tradisi seniman blues berjuluk jam session sudah tentu masing masing matros BST punya skill berkendali mumpuni dalam blues. Tapi apa lah skill dalam blues ketimbang feel and soul. Dan BST bermain musik, mengatur knob, meraba tempo dalam perasaan dan jiwa yang selaras dengan lirik-lirik lagunya.

Mendengar komposisi musik BST ibarat tiga mata harpun menusuk  paus, sebelum tusukan masuk , ada sebersit dentuman terkesan bulat dan melawan, dentuman yang mawaktu itu berngiang terus dalam kepala. Ya, racikan musik Bright Size Trio bak peristiwa saat-saat dentuman tiga mata harpun masuk, menusuk punggung paus, perih, tebal dan berulang. Analogi tersebut tak berlebihan menyimak track berjudul “Illusion”. Riff n lick Angga dilapisi pedal “wah wahyang tajam menggeliat mengoyak-ngoyak, menghabisi si paus, benar-benar habis, hancur, remuk dibagi-bagi. “Ilussion” diawali crescendo, disulam lewat susunan rapat dari bass Desy dan irama perkusi yang lamat-lamat mengeras nan dinamis. Dinamika paling kentara pada nomor “If You Got No Moneydan “I’m Not a Loser”, tempo yang berubah pelan di bridge lalu kembali padat seperti ketukan semula menjelang coda.

Track berjudul “First Step” berbahan nada-nada yang riang, meskipun sesekali dikasari oleh drive gitar Angga namun vocalnya yang tersusun chromatic memberikan kesegaran dalam First Step. Begitu juga dengan “Kisah Tanpa Cerita”, ekplorasi vokal Angga dengan mengistirahatkan pakem pentatonic memercikkan kekayaan musikalitas BST. [kontributor/Galih Fajar]

 

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response