close

[Album Review] Chance The Rapper – Coloring Book

static1.squarespace.com
coloring book
coloring book

Label                     : – (2016)

Watchful Shots : “All We Got”, “No Problem”, “Blessings”, “All Night”, “Finish Line/Drown”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Musik rap kelas berat tidak harus menceritakan asam garam tumbuh di lingkungan yang keras atau pengalaman menjadi seorang white trash yang tinggal di parkiran trailer RV. Tidak pula melulu memamerkan sejumlah gadis yang disetubuhi hingga kewalahan dalam Rolls-Royce bersepuh emas kemarin malam. Pemuda dari keluarga baik-baik dan serba berkecukupan juga bisa membuat telinga gempar dengan rentetan kata sarat makna. Atau, lebih tepatnya untuk kasus Chance The Rapper, mengisi lubang kosong dalam jiwa yang nihil iman.

Memiliki bapak seorang petinggi di jajaran pemerintahan Chicago juga tak lantas membuatnya congkak layaknya putra-putra Ahmad Dhani. Dia tahu dari mana ia datang, dimana ia berada sekarang, dan sejauh apa ia bisa melangkah. Chance The Rapper hanya berfokus pada musiknya. “I don’t make music for free, I make ‘em for freedom,” tidak ada sama sekali aura munafik dalam potongan lirik “Blessings” tersebut.

Kanye West mengembalikan jasa Chance The Rapper yang membuka The Life of Pablo dengan kolaborasinya dalam “All We Got”, surat pertama dalam kitab puji-pujian Coloring Book. Sumbangan suara dari Chicago Children’s Choir turut mempercantik mosaik suara dalam lagu ini. “All We Got” memberikan garis besar haluan bermusik dalam mixtape ketiga Chance The Rapper.

Semangat “All We Got” kemudian semakin panas dengan bagian pertama “Blessings” yang dipenuhi kiasan mitologi Kristen. Intro Jamila Woods seakan membawa pendengarnya ke dalam gereja dengan suasana khusyuk. Sementara itu, laksana pasukan Israel yang mengepung Kota Yerikho, Donnie dibekali terompet untuk meruntuhkan tembok penghalang iman dan mengiringinya dalam semacam perjalanan transendental. Berkah selalu berlimpah bagi mereka yang rajin memanjatkan doa. Amin.

Tuhan secara penuh merangkul Chance The Rapper dalam “Finish Line”. Dalam nomor ini seisi hatinya tercurahkan, bersyukur atas banyak hal, mulai dari rasa cinta terhadap kekasih dan anaknya hingga rindu kampung halaman yang telah terpuaskan. Bahkan sempat mengambil hikmah dari kematian anjing perliharaan dan kecanduan Xanax yang sempat ia lewati belakangan ini.

Selayaknya penutup kebaktian Gereja Karismatik yang mantap, “Drown” menanamkan harapan untuk terus berjuang, jangan sampai tenggelam dan terseret hidup dengan segala macam masalahnya. Wajar saja kalau mulai muncul ide untuk berpindah agama sambil mendengarkan kembali “Blessings” sebagai penutupan. “They want four minutes songs/You need a four hour praise dance/performed every morn,” sepucuk saran lain dari Chance The Rapper yang patut dipertimbangkan.

Kredit khusus harus diberikan kepada The Social Experiment. Mereka sedikit banyak berkontribusi untuk menghidupkan kemeriahan musik yang membalut Coloring Book. Sarat akan elemen jazz dan soul, berpadu dan saling menguatkan ketika dipertemukan dengan khotbah dari Pendeta Chancelor Bennett. Sungguh sedih dan rugi bagi orang-orang yang tertutup hatinya dan tidak merasakan urgensi untuk berpasrah menadahkan tangan saat mendengarkan mixtape ini.

Coloring Book terdengar berbeda kala sedang tidak sibuk dengan paduan suara dan organ gerejanya. Keragaman ini terasa jelas dalam “All Night” yang mengingatkan kita pada musik house Chicago di era keemasannya. “Juke Jam” juga terlihat kontras dari segi substansi yang dibawakan. Bukan berarti sepele, hanya saja kalah signifikan dibanding track lainnya. Sementara itu “D.R.A.M. Sings Special” bisa mencuri sentimen tersendiri dari subspesies emo yang menjadi bulan-bulanan di sekolah atau lingkungannya.

Mungkin sindiran paling vulgar ditujukan kepada sekumpulan label rekaman. “If one more label try to stop me it’s gonna be some dreadhead niggas in your lobby,” oceh Chance The Rapper di “No Problem”. Jelas penggalan lirik barusan pun masih terhitung halus dalam norma hip-hop. Wajar, masalah terbesar yang pernah dialami Chance The Rapper dengan figur otoritas adalah diskors sepuluh hari lantaran membawa ganja ke sekolah. Sudah. Jadi jangan harapkan bualan cengeng tentang pengalaman ditembus timah panas di atas panggung. Tidak terbayang pula untuk menemukan potongan wajah Chance The Rapper dalam koleksi mugshot kepolisian Chicago.

Tapi jangan pernah sekali-kali meragukan kemampuannya dalam merangkai puisi dalam setiap hitungan beat. Tidak butuh waktu lama sampai nanti saatnya Chance The Rapper menggedor batas baru dalam ranah musik hip-hop. Coloring Book membuktikan peningkatan dan kematangan yang signifikan dibanding dua materi yang mendahuluinya.

Perbandingan dengan The Life of Pablo rasanya tidak bisa dihindari. Tentunya, kedua rilisan ini memiliki pendekatan yang jauh berbeda. Sebagai permulaan, Chance The Rapper tidak mengaku sebagai tuhan. Namun, bukan permasalahan sulit untuk menilai Coloring Book sebagai karya yang lebih memuaskan dibanding album terakhir sang inspirasi.

Tidak banyak kata-kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan pengalaman religius ketika mendengarkan Coloring Book. Ini merupakan karya yang begitu personal dan dapat dengan mudah mencapai relung hati tergelap dengan segala harapan dan kebahagiaan di dalamnya. Mungkin Jake dan Elwood Blues bisa menjelaskannya dengan lebih lancar. Mereka yang pernah mengikuti kebaktian dengan James Brown sebagai pendetanya. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response