close

[Album Review] Christabel Annora – Talking Days

Christabel Annora

Review overview

WARN!NG Level 8

Summary

8 Score

 

Label: Barongsai Records

Watchful shot: “Rindu Itu Keras Kepala”, “Satu”, “Sunshine Talks”

Year: 2016

Pertemuan pertama dengannya terjadi saat gelaran Folk Music Festival 2016 di Kota Malang. Berdiri di antara barisan line up yang sudah mempunyai taji, ia menyelip di sela-sela kotak reputasi. Mencoba menawarkan rakitan baru di tengah arketipe yang berkembang, menanti konsekuensi lagak berteras kepastian. Apakah usahanya menghasilkan nilai yang sepadan? Apabila yang terbesit justru fatwa penolakan dalam pikir, kiranya polikel nalar patut dipertanyakan.

Christabel Annora—begitu pseudonimnya ditermakan—menggunakan keyboard sebagai organ andalan. Ia menggebrak melempemnya genre yang berkelintaran di lubang telinga; dogmatisnya gitar kopong, absurdnya deru distorsi, maupun capaian vokal yang tak terarah sketsanya. Dengan cermat, Christabel memasukan pelbagai varian bumbu di bawah resep klasik yang sudah dicintainya sejak lama. Tak percaya? Lihat saja debut albumnya yang bertajuk Talking Days; bukti terkini berbalut pembacaan nurani.

Memuat 13 (tigabelas) nomor, Talking Days merupakan lembarannya yang menuliskan kisah era lampau, hari ini, serta momentum angan di depan mata. Ia tak ingin terjebak dalam melankolia akut, namun juga menolak kenaifan kala mengapungkan benang dambaan. Dengan demikian, ia cukup berdiri di tengah koridor ataupun labirin keterkaitan yang menghimpitnya di antara gelas ilusi dan pedang tajam realitas. Karena baginya langkah tersebut mampu menjaga dari terjangan kemustahilan yang kelak menyeret pada lubang bias impian.

Talking Days dibuka oleh “Early Reflections” yang mengapung sedari perjumpaan. Menyibak kelambu perkenalan bersama tafakur nada kesenangan yang terpendam layaknya Starlit Carousel milik Frau. Kemudian komposisi berjudul “Selfishness” mengurai tikar kesyahduan selama tiga menit berjalan. Menghunus pelan bak repertoire ciptaan Keiko Matsuzaka seraya mempertahankan aransemen pop yang tak usang.

Lalu tiga nomor berikutnya adalah favorit saya. Trek “Satu” menggambarkan ironi berlatar jazz dengan obsesi batin yang berkebalikan. Tatkala obrolan narsis menyoal rutinitas urban memenuhi seisi kepulan asap dan gelak tawa, yang timbul dalam diri malah dilema tak bertuan. Progresi kord yang disusun Christabel tampak tenang permukaan di samping menyisakan ruang kosong, seolah sengaja dipersiapkan untuk permainan solo Bud Powell.

Sedangkan “Rindu Itu Keras Kepala” yang dibawakan bersama Iksan Skuter terdengar begitu bluesy dengan hook memikat serta melodi tajam hasil asah dari tuts piano kesayangannya. Mendayu lantas membuihkan sangka yang sebenarnya perkara berbagi perspektif tentang kerinduan. Terakhir, di tembang “Lucid Dream” Christabel menggoreskan panorama serba elusif, sukar ditebak, dan cenderung dubius akan bebunyian efek tambahan yang disamarkan. Ibarat menyaksikan jamuan Karen Carpenter ketika menuturkan “Yesterday Once More” di musim penghujan yang pekat.

Apabila ingin menjelajah keseluruhan personanya, Christabel telah menyediakan sisi lain dari Talking Days yang pantang Anda lewatkan. Menunjukan kompetensi tunggal lewat eksplanasi instrumental “Inside Your Unconscious Mind”, menaikan pembenaan dengan pemasangan beat atraktif pada “Feel So Alive” ataupun “Sunshine Talk” yang menarik kesamaan harmoni pengiring 500 Days of Summer, hingga membawakan ulang salah satu balada terbaik generasi indie, “Desember” dari Efek Rumah Kaca tanpa harus merusak fondasi aslinya, sebelum ditutup keratan orkestrasi minimalis beridentitas “If These Walls Could Talk”.

Keberadaannya membuktikan bahwa pemanfaatan potensi berbanding lurus dengan kualitas yang dihasilkan. Mengusung etos totalitas, ia berhasil menciptakan skemanya sendiri yang berisi pelbagai alur; bahagia, duka, sampai twist mengejutkan. Dengan rancangan cetak biru yang sudah ia persiapkan beberapa tahun silam, ia mendapatkan ekspektasi sesuai acuan. Entah secara estetika ataupun entitas penafsiran akan dirinya.

Debut albumnya tak dapat dipungkiri telah membawa angin kesegaran yang meniupkan nafas dari mesin tenun pemburunya. Christabel dengan tegas tak ingin terlibat dalam transmutasi arus dan mengambil keputusan untuk menorehkan jangkauan yang berlandaskan keyakinan atas sibiran memori. Ia tak terpaku pada bentuk tertentu ataupun menutup kesempatan yang lahir selama berandil dalam proses kreasinya. Terpenting, ia terus meramu beragam rona yang nantinya dapat merefleksikan petualangannya mengarungi enigma. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response