close

[Album Review] Dhira Bongs – My Precious

DHIRA+BONGS
DHIRA BONGS - MY DREAM
DHIRA BONGS – MY PRECIOUS

Dhira Bongs – My Precious

Label: Frisson Entertainment

Watchful Shot: Momentum Bias Alright Then Ice Cream

[yasr_overall_rating size=”small”]

Don’t judge a book by its cover, kiasan ini tidak hanya berlaku bagi buku saja, namun juga untuk CD album, apalagi untuk My Precious. Bisa dibilang, pendengar awam akan membeli sebuah album musisi pendatang baru karena tertarik pada artwork kovernya –seperti terlihat artsy atau tidaknya. Tapi jangan samakan persepsi itu kepada album ini. Walaupun artwork album ini terlihat sangat simpel dan tidak menggoda, coba dengarkan dulu materi lagunya, Anda tidak akan kecewa.

Album ini adalah buah hasil pertama side-project yang digagas oleh Dhira sendiri. Meski berasal dari kancah musik ska, Dhira, gitaris skamigo ini berhasil memberi nafas segar dalam industri musik indie Indonesia. Nomor-nomor seperti inilah yang seharusnya menghiasi frekuensi radio sekarang, bukan lagu hacep jedap-jedup yang justru bisa membuat kepala pening.

My Precious diawali dengan “You’re My Precious Mom (Intro)”, nomor instrumental tanpa vokal. Secara mulus, Anda akan mengira ini adalah lagu kover dari Sungha Jung. Awalan yang halus untuk sebuah album pop swing jazz tentunya. Memasuki nomor-nomor selanjutnya, Anda akan disambut oleh vokal renyah nan imut ala-ala Arina ‘Mocca’. Lalu ada “Momentum Bias”, yang dibantu oleh Riksa & Ndik ‘Bandung Inikami Orcheska’. Sebagai orang dengan peran untuk memperkaya elegansi lewat trombone dan vokal bass, mereka berhasil. Dengan tempo yang meninggi, pada urutan ke-6, “Alright Then” menyambut pendengar dengan rasa sukacita dalam riff-riff gitar Dhira. Dan tentu, jangan lupakan petikan bass groovy yang sanggup menghipnotis jari kalian untuk mengulangi lagu ini lagi dan lagi. Membawakan lirik tentang keseharian, terkesan apa adanya, dan terutama tidak melulu tentang cinta adalah salah satu dari sekian banyak aspek yang patut diapresiasi dari seorang Dhira. Seperti pada nomor Ice Cream yang dapat mengingatkan kita bahwa aransemen pada lagu adalah yang paling penting. Tidak peduli (atau me-nomer-sekian kan) lirik atau bahasa yang digunakan pada lagu itu.

Dari sekian nomor ini, yang tidak bisa disangkal adalah, pendengar pasti akan merujuk ke kota Bandung ketika harus menebak-nebak darimana Dhira berasal. Materi dan musikalitas album ini secara inplisit sudah terinjeksi oleh kondisi demografis kota Bandung yang sejuk. Yang terasa juga di dalam musik Angsa dan Serigala, dan Mocca (lagi). Stereotip musik easy listening yang saya sebut dengan istilah B’andung banget’ sangat lekat di album ini. Dan anda tidak akan pernah tahu jika hanya melihat kovernya saja, dengarkan dulu. [Dwiki Aprinaldi]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response