close

[Album Review] DIIV – Is The Is Are

diiv
diiv
diiv

Label                     :               Captured Tracks (2016)

Watchful Shot   :               “Under the Sun”, “Bent (Roi’s Song)

Rating                   :               !!! 1/2

Terlalu banyak kisah yang dapat diceritakan dalam album teranyar DIIV. Berandal indie-rock dari New York ini nampaknya paham betul bagaimana memicu kompleksitas dan kemudian menjadikannya karya terbarukan yang wajib disimak. Topik utama masih seputar kegilaan Zachary Cole Smith. Ia tetap berada pada kursi perhatian; pusat dari segala aktifitas maupun kreatifitas band yang berdiri sejak 2011. Dominasinya sangat kuat. Pikiran di otaknya memiliki beribu ide dan fantasi liar yang berteriak kencang seraya ingin dimuntahkan. Berbanding lurus dengan kehidupan nyatanya yang ramai pemberitaan. Entah faktor krisis kepribadian, ketergantungan narkotik sampai kisah asmaranya dengan Sky Ferreira yang terlihat absurd di depan mata. Alih-alih jatuh ke lembah keterpurukan layaknya star-syndrome kebanyakan, Zachary justru merefleksikan problematika tersebut ke wadah inspirasi untuk karya-karya DIIV berikutnya. Konon cerita, semasa berada di pusat rehabilitasi Zachary menulis sekitar 300 (tiga ratus) bakal lagu yang proses pembuatannya tinggal menunggu waktu. Sebagai orang awam, angka 300 rasanya muskil dibayangkan. Tapi Zachary tetaplah Zachary. Daya magisnya tak lain dan tak bukan adalah personanya sendiri. Kehebatannya timbul dari seluk-beluk kehidupannya yang suram. Seperti sebuah mukjizat, ia terus berujar sembari memikul alur perubahan. Namun bagi saya Zachary tak ubahnya seperti alter ego kesukaan Fincher; sisi lemahnya melukiskan jiwa hebatnya yang tertimbun keadaan.

Selepas merilis Oshin empat tahun yang lalu, DIIV kembali datang mempersembahkan album kedua bertajuk Is The Is Are. Perbedaannya dapat dirasa cukup signifikan. Kala album pertama menghadirkan kesan anggun terhadap salam perkenalan, yang kedua terkesan menunggangi kenyamanan serta mengaduk lebih banyak eksplorasi musik agar tak dicap membosankan. Meski demikian, DIIV masih mempertahankan apa yang didefinisikan sebagai identitas bermusik walaupun tak segan menuangkan cairan kimiawi baru bagi keseluruhan komposisi. Pedal shoegaze menderu tanpa ampun, irama krautrock sedikit terlihat dewasa dari biasanya, efek delay yang mengawang akan kesan penghidupan sensual dan penyesuaian industrial-rock lebih dikedepankan. Melihat terdapat tujuh belas nomor dalam Is The Is Are cukup membuat diri terkesima. Bagaimanan bisa mereka seproduktif itu di tengah himpitan rasa jenuh atau tindak konyol yang selalu menghantui? Sekali lagi berkat Zachary semua mampu terealisasi; penegasan status eksistensi mendorong untuk berkarya dengan susunan yang panjang. Is The Is Are merupakan permadani double-side yang biasa dijual di pelataran Griffith. Dua side yang harus senantiasa Anda bolak-balik ketika mesin pemutar sudah memutuskan berhenti. Sembari menemani perjalanan ke Central Park atau Longside’s Bar di belakang Stasiun Metro, lagu-lagu DIIV menjadikan siang tak bersumbu pada porosnya.

Entah mengapa saya menganggap Is The Is Are adalah bentuk cinta kasih, dedikasi juga loyalitas mereka kepada New York—walaupun sebenarnya ada beberapa track yang menggambarkan persoalan pribadi sebagai isu terkini. Semacam konstruksi audio yang bertutur mengenai idealisme diri di balik lanskap kemegahan gedung pencakar langit serta silogisme sosial dari banyak kultur. Babak awal diceritakan melalui “Out of Mind”. Tanpa merasa digdaya, rongrongan gitar Bailey menghamba pada kesemuan; berucap tentang persoalan yang tak kunjung usai. “Under the Sun” bisa dinikmati di suatu hari pada musim semi yang kaku. Dikuasai rasa malas yang besar mengakibatkan para pengunjung Empire berucap menjengkelkan. “Bent (Roi’s Song) cocok mendampingi dokumentasi retro Hockney. Sedangkan “Dopamine” merepresentasikan blok padat di wilayah selatan yang nikmat untuk dijelajahi.

Warna musik DIIV di Is The Is Are begitu beragam. Tidak cukup berpaku pada fondasi yang lalu tetapi juga berani menjadikan album ini sebagai basis penguasaan ranah genre lain. Ambil contoh “Loose Ends” yang sarat bebunyian shoegaze dengan panduan ketuk futuristik Ben. Atau “Take Your Time” yang bernafaskan krautrock era kebangkitan dimana jemari Colin bertempur melawan gebrak estetika Zachary. Juga “Blue Boredom” yang digarap bersama sang kekasih membawa memori lampai Warpaint di masa dua puluh. Cabikan bass Davin terdengar melodius dan penuh presisi. Terlebih saat memainkan pola “Dust” dengan menerawang sekaligus seksi. Nomor favorit menjadi hak milik “Waste of Breath” dan “Yr Not Far”; perkawinan silang antara industrial-rock dengan kohesi post yang nakal.

Melalui Is The Is Are, DIIV seolah ingin menyampaikan justifikasi mengenai kegundahan yang dialami tiap personil. Bahwa sejatinya musik merupakan labirin yang harus diselami kerumitannya. Bahwa musik sejatinya menjadikan pedoman hidup yang esensial dibanding ucapan klasik tokoh ternama. Dengan musik, mereka mampu membagi kepingan yang sirna untuk kemudian dibangun atas dasar kecintaannya terhadap sudut kota. Dan jika ada yang bertanya kemana arah melangkah selanjutnya, mereka kompak menjawab; semua akan baik-baik saja. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response