close

[Album Review] Elephant Kind – City J

City J

Label: Frisson Entertainment
Year: 2016
Watchful shot: “Keep It Running”, “The Saviour”, “Beat Ordinary”
WARN!NG Level: !!!!

Julian Day adalah mitos. Ia merupakan fatamorgana dari apa yang mengaitkan keterhubungan antara dua sumbu pemantik api; Scenarios dan Promenades. Bayangnya menghadirkan sisi gelap yang menggambarkan wajah diri kita sebagai seonggok makhluk berwujud manusia; ambisi, depresi, dan motivasi yang terus berkutat tanpa henti. Ia memang fiktif, tapi bukan berarti kisah yang dituturkan dianggap khayal begitu saja. Bahkan bisa dibilang naskah yang dikerjakannya menerabas rumput realita di ujung mata. Jika pada bab pertama masih berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran imbisilnya lantas berakhir tragis di babak selanjutnya, maka di City J kharisma Julian muncul kembali; membawa identitas baru yang membuat batin terbelalak.

City J merupakan album penuh perdana dari Elephant Kind; trio electro-pop dari Jakarta yang digawangi oleh Bam Mastro (vokal, gitar), Dewa Pratama (gitar), dan Bayu Adisapoetra (drum). Keberadaan mereka menegaskan anggapan bahwa musik pop sebenarnya tak melulu berkutat pada zona itu-itu belaka; lirik tak istimewa, aransemen terlampau biasa, serta kemasan mutu yang jauh menarik rasa. Walaupun demikian, Elephant Kind mencoba menggusur definisi tersebut. Lewat sentuhan yang tersusun atas kompleksitas berproses, pengulangan fase berkali-kali, sampai bongkar pasang muatan instrumental, pop di tangan mereka berubah menyenangkan; memuja marwah kebahagiaan yang terbagi dari bongkahan tawa, kemeriahan pesta bujang, dan rayuan singkat kepada seorang wanita di rooftop pinggiran kota.

Saya tidak dapat memungkiri Jakarta telah membentuk citra bermusik Elephant Kind yang mencerminkan gemerlap lampu sorot. Secara musikal, pengaruh lanskap metropolitan menuntun perlahan dengan balutan reverb yang sensual maupun harmoni R&B yang terkadang mencabik rangsang. Di lain sisi, penulisan lirik pun juga tak jauh dari tema kehidupan urban; terjebak kejenuhan, pencarian makna semesta di balik tiang beton penyangga gedung pencakar, mengobati trauma percintaan, ataupun membiarkan gairah yang menggebu sepanjang waktu. Alhasil, keduanya berhasil diolah agar menghasilkan jepret fotografi yang kelak mampu diilhami barisan para umat.

Sebelum City J lepas ke khalayak ramai, internal Elephant Kind diguncang dengan mundurnya salah satu personil mereka: John Paul Patton. Banyak yang berspekulasi hengkangnya Patton bakal mereduksi kekuatan band secara keseluruhan. Faktanya, hal tersebut hanya omongan semata. Meski di album ini tetesan keliaran yang disumbangkan Patton seperti di dua karya terdahulu tak lagi terdengar, Elephant Kind terus melaju. Bam masih menjadi poros utama dari segi kreatif. Idenya beribu tafsir tumpah ruah di sekat-sekat dentuman yang melambat. Kehadiran Bayu dan Dewa juga tak dapat dihiraukan begitu saja. Dewa bisa dibilang penanggung jawab keluarnya ketetapan rancak dari perangkat elektroniknya. Sedangkan Bayu menjaga arwah konsistensi agar tak kabur dari kejaran pukulannya.

Terdapat 12 (duabelas) komposisi yang dimuat di dalam City J. Pelangi modular mendominasi suasana penyambutan meski tetap dibumbui pendulum konvensional. Cabikan bas memikat dengan tenangnya, ketukan drum dipacu terkendali, dan sayatan gitar Bram tak terhadang olahan ritmis yang terkontrol. Taruh sejenak angan terhadap aroma indie-pop yang disertakan pada dua EP di momentum lampau. Kini, giliran beat kencang yang merasuk konvoi pesta di antara himpitan realita.

“Beat Ordinary” membuka kemungkinan-kemungkinan untuk bangkit dari keterpurukan. Sepercik api kemarahan yang dibungkus dengan konstelasi ala Tahiti 80. Lalu “Keep It Running” menyediakan kolaborasi mewah yang melibatkan Kallula dan Neonomora. Sayup-sayup lengkingan Neonomora yang agak berat dilapisi teriak sensual milik Kallula. Sejurus berselang, jemari Bram bergerak sendirian seolah tak peduli ajakan persembahan. Di track “The New Dog” dan “Love Ain’t for Rookies” mereka berupaya mengenyahkan keraguan melalui hook tanggung yang samar-samar mengajak berdansa. Lupakan sekilas umpatan yang terucap karena itu wujud kebebasan ekspresi. Kemudian “Something Better” menurunkan tempo pengaturan sejalan kesepian yang mendera diri. Vokal Bam yang merintih pelan mengacaukan deru nafas sintetis; harga sepadan semestinya dibayar tuntas.

Jangan lupakan juga “True Love” maupun “The Saviour” yang terilhami kharisma The 1975 kala bergurau di pelataran Leeds Festival. Sebuah soundtrack di mana hidup tak melulu berakhir tragis nan menyedihkan. Selanjutnya “Montage” yang kental dengan loops masa keemasan Visage; lembut namun menghujam bertubi-tubi. Yang terpenting, “Bruises The Sky” masih memaparkan hantaman riff populer minim distorsi sebelum menuntun pada kecermelangan “Fiction” dan “24”. Ibarat ajang reuni Grouplove dan The Brother Kite yang ditemani geliat pancaran synth.

Dimensi pop selalu menawarkan banyak alternatif penjelasan, definisi, gambaran, referensi, serta rujukan yang bisa Anda temukan di pranalar lokal maupun internasional. Akan tetapi, tak usah menyulitkan diri. Cukup simak jalannya City J dari awal hingga akhir; resapi perlahan, setapak demi setapak, dan jika memungkinkan goyangkan sekujur tubuh agar tak merasa kaku. Lantas pikirkan dengan seksama bagaimana pop mampu hidup di tangan orang-orang yang tepat, dengan visi yang jauh menatap ke depan laiknya Elephant Kind. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response