close

[Album Review] Exhumation – Opus Death

opus

opus

Exhumation – Opus Death

Label : Morbid Bastard dan Evil Prevail

Watchful shot: Soul Wanders, Upon Our Hordes, Graveyard Alike, Lullabyss

[yasr_overall_rating size=”small”]

Pendewasaan dalam bermusik tidak melulu berbicara mengenai sound modern, teknikalitas serta kerumitan dalam meracik komposisi dalam sebuah album. Opus Death, yang merupakan opus kedua Exhumation, band death metal dari Yogyakarta, membuktikan hal tersebut.

Opus Death berbentuk lebih absurd, primitif, morbid, gelap, serta nihilistik jika dibandingkan dengan karya pertama mereka tahun 2012 silam, Hymn to Your God. Pendewasaan yang mereka terapkan adalah dengan lebih mengilhami ‘death’ itu sendiri, bagaimana ‘death’ itu seharusnya berbentuk: ugly and rotten. Bersiaplah kecewa untuk para fans death metal trendi, karena Opus Death ini bukan untuk telinga anda. Tidak akan kita temui ritmis groovy ataupun basa-basi teknikalitas bergitar ala akrobat sirkus pasar malam. Opus Death tidak dihadirkan untuk menghibur kalian.

Meskipun berbentuk lebih primitif, hal itu bukan berarti menjadi sebuah stereotype suatu hal yang tidak mampu dicerna oleh telinga. Sound mereka kali ini lebih organik daripada album pertama mereka dan itu justru adalah keunggulan dari album ini. Menyimak track pertama, “Soul Wanders” kita akan dibawa kepada sebuah perjalanan apokaliptik menuju enam kaki di bawah tanah. Dibalut oleh riff-riff gitar jahat serta solo gitar yang mampu membubuhkan aura ‘kematian’ yang lebih dalam di album ini, bukan serta merta untuk unjuk gigi saja. Nomor “Upon Our Hordes” sendiri dengan sukses membuat bulu kuduk saya merinding mendengarkannya dan membuat saya membayangkan sedang menggali kubur saya sendiri.

Opus Death ini sendiri dibagi menjadi dua sesi, side Opus serta side Death, yang dimana pada masing-masing sesi ditutup dengan nomor instrumental, “The Sleeping Darkness” dan “Lullabyss”. Kedua nomor tersebut juga tidak mengurangi nilai unsur ‘death’ di album ini, karena kedua musik instrumental tersebut bukanlah acara akrobatik bermain skill. “The Sleeping Darkness” dimainkan dengan keys dan “Lullabyss” dimainkan dengan gitar nylon classic dengan bergaya neo-folk ala Váli. Keduanya sama-sama bernuansa kosong, kelam sekaligus apokaliptik.

Keseluruhan album ini diselimuti oleh ketukan blast beat yang intens, riff-riff gitar bertremolo, serta vokal dari seseorang yang telah ‘mati’, mengingatkan saya kepada Mayhem era De Misteriis Dom Sathanas. Exhumation dengan sukses meredefinisi kembali apa itu ‘death’ dengan adanya album ini. Musik ‘death’ memang sepatutnya dihadirkan dengan ugly seperti mayat yang telah mati. Opus Death is a one hell of a ride thru death and back.[Made Dharma]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response