close

[album review] Father John Misty – I Love You, Honeybear

father johny misty

 

father johny misty
father johny misty – I Love You, Honeybear

Father John Misty – I Love You, Honeybear

Label: Sub Pop

Watchful Shot: Bored in the USA – When You’re Smile and Astride Me – I Went to the Store One Day

 [yasr_overall_rating size=”small”]

Coba bayangkan jika pantat atau payudara Anda dielus untuk pertama kalinya oleh pacar atau sahabat. Selain rasa nyaman, tentu akan ada rasa canggung yang mampir. Namun perlahan, toh Anda juga bakal menikmatinya. Sama seperti saat mendengarkan I Love You, Honeybear untuk pertama kalinya.

Kemunculan Josh Tillman pada bulan November lalu nyaris sama. Ia hadir dalam sebuah program televisi dan menampilkan balada berjudul “Bored in the USA”. Penampilannya berkelas. Brazer ketat, kerah terbuka, mata tertutup menghayati lagunya, sembari memainkan grand piano, memperkuat kesan sepi dan mewah. Musiknya syahdu dengan iringan orkestra nan lembut, sedikit mengingatkan pada Andrea Bocelli, tapi lirik yang ia sampaikan membuat pendengarnya sedikit canggung.

Frasa “Save me, white Jesus” saat itu langsung mengejutkan audiens. Belum selesai terkejut, Tillman kembali mengutarakan kebosanannya, “They gave me a useless education/ And a subprime loan/ On a craftsman home!” Lirik yang kontroversial, tapi jadi terasa gelap karena musikalitas yang terlampau syahdu.

Kecanggungan kembali terasa. Beberapa di antara audiens memutuskan untuk tertawa, menertawakan kisah malang Tillman yang memuat masalah cetek masyarakat kelas menengah. Dan sebagai penutup friksi batin antara canggung dan kagum – mungkin juga tersindir – beberapa audiens akhirnya memutuskan untuk memberikan aplaus.

“Bored in the USA” hanya salah satu dari 11 nomor dari I Love You, Honeybear, album yang menyampaikan gairah sekaligus kekecewaan, kelembutan dan kemarahan, sinisme dan kemuakan yang bisa menyakiti hati, tapi disampaikan dengan humor layaknya stand-up comedy.

Namun, tak semua nomor dalam album tersebut mampu menggelitik basah. Beberapa nomornya bahkan tak bisa disebut sebagai dagelan. Tillman turut menyampaikan curhatan tentang kisah cintanya. Jika mendengarkan “The Night Josh Tillman Came to Our Apartment”, “Nothing Good Ever Happens at the Goddamn Thirsty Crow”, ia banyak mengucap kata “fuck”, sedikit kurang cocok dengan gambaran dirinya yang memainkan glockenspiel.

Lewat Honeybear, Tillman sekaligus bercerita tentang cinta, pernikahan, kekacauan yang disampaikan secara ironis dan empatik. Ia menyajikan musik kontradiktif yang bakal meninggalkan aroma canggung yang kuat. Tillman memang orang yang humoris, tapi dagelan yang ia sampaikan didominasi oleh kehinaan dan rasa benci pada diri sendiri. Nomor-nomornya manis, tapi ia tak bisa menyampaikan hal-hal baik tanpa menyelundupkannya dalam candaan. Mungkin terlalu sulit dicerna sehingga beberapa orang akan hijrah begitu mendengar dua hingga tiga nomor.

Canggung, tapi semakin mendengarnya, semakin tenggelamlah dalam kemanispahitan Tillman. Canggung yang mengenakkan, sekaligus mengkhawatirkan. Dan kalau masih belum paham dengan gambaran yang disampaikan dalam artikel ini, cobalah minta teman, pacar atau siapapun untuk menyentuh bagian sensitif Anda.

Jangan berontak, maka Anda akan merasakan apa yang dirasakan oleh para pendengar Honeybear: canggung yang nikmat! [WARN!NG / Yudha Danujatmika]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response