close

[Album Review] Feist – Pleasure

Feist

Review overview

WARN!NG Level 8

Summary

8 Score

thelineofbestfit.com

Label: Universal

Watchful shot: “I Wish I Didn’t Miss You”, “The Wind”, “Century”

Year: 2017

Feist telah kembali. Setelah melakoni pelbagai ritual perjalanan, pengembaraan, dan petualangan, ia datang membawa kabar tentang album barunya yang menyediakan ruang personal lebih dalam. Pleasure, begitu tajuk yang dilampirkan mengapungkan semangat indie-pop yang bercampur dengan ketukan harmoni ala Jasmine Minks maupun nafas chamber minimalis Burt Bacharach. Satu hal pasti; ia berupaya meneruskan estafet kesuksesan Metals serta The Reminder.

Pleasure dibuka dengan “Pleasure” yang menggebu. Suaranya tertekan dimensi loop yang berlapis distraksi tajam dari gitar. Sepintas terdengar kasar layaknya mesin grunge yang digeber Julia Cafritz dan kawan-kawan. Lalu “I Wish I Didn’t Miss You” mengungkapkan keluh kesah pribadinya yang elusif. Kemudian di “Get Not High, Get Not Low” capaian vokalnya menyibak ironi. Tanpa gegap gempita yang berujung fatamorgana. Sepi dan sunyi menjalar seirama dengan setelan seadanya pada perkakas studio yang mulai usang. Sedangkan lewat “Lost Dream” Feist merayu dawainya agar mengamini kemarahan folk-rock yang bernas.

Sesuai judulnya, “Any Party” menawarkan keleluasaan anthemic. Sediakan venue senggang dan biarkan koor massal memenuhi sudut-sudut kesedihan sembari menahan asumsi tentang maksud yang termaktub di penggalan kata demi kata. Selanjutnya, “A Man Is Not His Song” merapalkan kegetiran yang teramat dengan choir membahana sekaligus repetisi. Tatkala ia mengumandangkan syair “Eventually it could let you down//By believing in standing ovation”, aura ketidakpastian lahir seketika. Namun rasanya susah menepikan komposisi “The Wind” yang memaksa minat memutarnya berkali-kali. Desahannya mengawang ke atap lounge yang ganjil di tengah pengasingan dari keutuhan lagu.

Sebelas trek yang mengisi Pleasure memuat benang merah keterkaitan antara satu titik dengan titik lainnya. Membangun bingkai yang mengingatkan pada tumpukan jerami di awal kemunculannya. Walaupun demikian, kali ini ia berani meneteskan raksi Broken Social Scene (simak “Century”) untuk sekedar nostalgia dan melenggangkan batas tradisi yang perlahan lenyap di pikirannya hingga meleburkan campuran blues-country klasik di “I’m Not Running Away.”

Album kelima dalam rentang waktu enam tahun semenjak keluarnya Metals cukup menjanjikan keberlangsungan; Feist masih punya modal taji yang penuh. Menyadur konflik sureal yang menggambarkan tingkat depresinya dan mengambil langkah beresiko kegagalan justru menempatkan Pleasure pada taraf menyenangkan. Meski tak sehebat The Reminder, ia tak ambil pusing. Karena sejatinya Pleasure merupakan percobaan spiritualnya untuk menghilangkan keraguan. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response