close

Album Review: Float – 10

float

[ratingwidget_toprated type=”pages” created_in=”all_time” direction=”ltr” max_items=”10″ min_votes=”1″ order=”DESC” order_by=”avgrate”]floatFloat– 10

Demajors

Watchful Shot: Song of Season

WARN!NG Level: !! 1/2

 

Untuk ukuran album peringatan satu dekade sebuah band sekelas Float, 10 rasanya kelewat sederhana. Album ini terasa seperti effortlessly released, secara harfiah. Selain packaging rilisan fisiknya yang sangat simpel–bahkan sleeve lirik harus dilihat secara online—enam track di album ini juga tidak semuanya lagu baru, termasuk di antaranya dua bonus track live record. Hanya kolase foto di seluruh bagian sampul yang terlihat mencoba merangkum perjalanan Float selama sepuluh tahun keberadaannya, lain tidak.

Tentang umur dan kedewasaan, ada dua hal yang mungkin dialami oleh sebuah band ketika sampai pada tahun kesepuluhnya, semakin kuat karakter musiknya, atau justru berubah ke arah yang baru. Float, di 10, seperti gamang mau kemana. Pasalnya, tambahan bebunyian perkusi, rebab dan ukulele membuat warna musik Float di sini berbeda dengan Float ketika di No Dream Land atau ketika menggarap soundtrack film 3 Hari Untuk Selamanya. Cara Meng menyanyikan “Perlahan”, “A Theme For Nothing”, dan “Ke Sana” juga lebih menyerupai ekspresi malas daripada santai seperti biasanya.

“Perlahan” membuka rangkaian album. Tetabuhan perkusi terdengar mendominasi menjadi latar genjrengan gitar yang membawa tempo lagu semakin naik di akhir. Looping vokal Meng membuka nomor “Ke Sana” yang santai sampai di akhir lagu. Bunyi alat tiup di awal lagu membuat “Ke Sana” jadi terdengar cukup etnik.

“A Theme For Nothing” lalu menyuara seperti sebuah perayaan atas kehilangan tak berharga, kehilangan yang tidak memberimu apa-apa kecuali rasa hampa yang pun tidak ada gunanya. Bunyi alat tiup etnik dan rebab seolah menjadi bumbu andalan musik folk masa kini. “That nothing will grow from this loss/ cause no love you gave that cost sacrifices/ not a thing,” penggal liriknya. Dan jika ada satu lagu paling orisinal dari Float di album ini, itu adalah “Song of Season”. Hanya Meng, Bontel dan Raymond, dengan lirik simpel yang diulang-ulang dan komposisi bersahaja yang megah, dan tetap bernuansa piknik sekaligus. Tahun 2012 lalu, lagu ini jadi theme song sebuah iklan pariwisata di televisi berjudul “Wonderful Indonesia”.

Dua bonus track di album ini adalah live record penampilan Float saat menyanyikan “I.H.I” dan “Sementara”. Berbeda dengan “I.H.I” yang bersih, “Sementara” versi live lebih seperti rekaman crowd-choir yang khusyuk. Vokal Meng bahkan hanya terdengar di beberapa bagian. Seolah menunjukkan bahwa lagu-lagu mereka masih lekat di hati penikmatnya walau Float sempat hiatus lama dalam memproduksi album.

Pun begitu, cara seseorang melakukan ritual perayaan memang tak bisa disamakan. Dan tidak ada yang salah jika alih-alih mempersiapkan album perayaannya secara maksimal, Float justru sibuk menyiapkan Float2Nature di Kiluan sebagai momen puncak perayaan. Dan alih-alih meromantiskan satu dekadenya dengan album ‘Best Of’ misalnya, mereka memilih menerjemahkan keadaan yang apa adanya. Salahkan saya yang berekspektasi terlalu tinggi saja. [Titah Asmaning]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response