close

[Album Review] GAUNG – Opus Contra Naturam

a

Label: Orange Cliff Record

Watchful shot: “Eridanus Supervoid”, “Summa Injuria”, Killing with Virtue”

Year: 2017

Empat tahun terlewat sudah, duo Rama putranta dan Randy Pandita yang mengusung nama GAUNG merampungkan album perdana. Setelah melewati masa-masa klise kelompok music mandiri, hingga mengalami kejadian fatal kehilangan alat music mereka saat hendak melahirkan Oppus Contra Naturam.

Seperti yang dikatakan GAUNG pada kesempatan wawancara bersama WARN!NG pertengahan Juli lalu, menginterpretasikan kalimat Opus Contra Naturam bias secara ringan sekaligus berat. Ringannya, kalimat ini membawa makna “karya penentang alam”. Pada konteks yang lebih berat, menentang alam disini bias jadi kecendrungan dalam sifat dasar manusia, aturan, budaya, nafsu, stigma, doktrin, konservatif, emosi, dan suatu kebaruan yang mana dalam koridor musik bisa menjadi sebuah genre.

Pemetik gitar berdistorsi gahar dan penggebuk drum emosional menyatukan ragam selera music menjadi satu-kesatuan. Unsur progressive-sludge, pyschedelic-rock, stoner-rock hingga experimental-rock, diramu sedemikian rupa hingga melahirkan 9 gema penentang alam. Jika kamu terlalu kikir untuk membeli rilisan fisik Opus Contra Naturam, coba dengarkan album ini pada laman musik daring kesayangan kamu.

Nomor pembuka berjudul “Lucinae” dan “Eridanus Supervoid” mulanya akan terasa lembut sebelum akhirnya menggempur telingamu tanpa melewatkan unsur experimental-rock. Hingga pada menit-menit selanjutnya kamu akan tersadar, dua orang peramu album ini bukanlah tipe laki-laki lemah lembut. Setidaknya pada sentuhan rasa melahirkan karya.

Nomor ketiga adalah “Hole of Paradiso”. Lantunan lembut yang bias buat kamu sejenak rileks dari penatnya rutinitas. Tapi jangan terkecoh, sejak durasi 2:46 terjangan suara gitar dengan distrosi kasar akan segera menggulung kenikmatan awal. Pun sama halnya pada hentakan drum, tak lagi malu-malu seperti 2 menit awal.

Kejutan serangan bunyi gitar berdistori kasar dengan sautan drum tanpa pukulan malu-malu bukan saja milik “Hole of Paradison”. Pada nomor “Killing with Virtue” pun setali tiga uang. Lembut di depan, sangar di belakang. Sepertinya frasa ini sudah mewakili.

“Old Master: A Comedy” memberikan sensasi berbeda. Satu dari sekian keistimewaan duo Rama dan Randy dalam mengerjakan sebuah lagu akan nampak pada track ini. Bagaimana tidak, alunan pyschedelic-rock yang mengena di menit awal lantas berganti dengan cepat menjadi progressive-sludge.

Selanjutnya “Summa Injuria”. Disebut-sebut sebagai track andalan tiap GAUNG naik panggung. Nomor ketiga ini meminimalisasi basa-basi. Sekonyong-konyong membabi buta menyautkan bunyi gitardengan ketukan pria pemarah dengan skill drum mumpuni. Makin lama makin brutal. Namun kebrutalan tersebut tidak berlangsung datar. Ada pasang surut bunyi yang dirangkai di sana.

Nomor ketujuh berjudul sama dengan tajuk album. Pada track ini, duo Rama dan Randy Pandita tidak lagi malu-malu menunjukan betapa lenturnya jemari dan pergelangan tangan saat meyiksa instrument kesayangan mereka. Meminimalisasi basa-basi sudah seperti cirri khas mereka pada track ini.

Track pamungkas GAUNG pada album debut ini terasa lebih istimewa. Ada unsure rekaman wawancara jurnalistik yang dimasukan oleh duo Rama dan Randy. Wawancara yang diselipkan pada track berjudul “Evidance of Extraordinary Bliss” ini merupakan sesi Tanya jawab antara jurnalis CNN Indonesia, Hanna Azarya Samosir bersama Marc Navales yang selamat dari aksi pembantaian jurnalis yang dilakukan kelompok radikal yang kini mengancam stabilitas Filipina.

Dibungkus dengan kemasan seni gambar artistik, album yang telah rilis sejak Juni 2017 ini sangat disarankan untuk didengarkan dengan kadar volume tinggi. Inilah sensasi nada bising tanpa teriakan meraung-raung seperti mayoritas pengusung musik cadas.[Kontributor/Indra Kurniawan]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response