close

[Album Review] Gerram – Genderang Bencana

gerram
Genderang Bencana
Genderang Bencana

Gerram – Genderang Bencana

Blacksheep Records

Watchful Shot: Tiga Pilar Iblis Eschaton Jeram

 [yasr_overall_rating size=”small”]

Skena musik Palembang kembali lagi unjuk taring melalui Gerram, sebuah unit hardcore punk/metalcore, yang baru saja merilis album perdananya, Genderang Bencana melalui Blacksheep Records. Album ini diproduseri ujung tombak ((AUMAN)), yaitu Farid Firmansyah yang juga turut serta mengisi beberapa bagian lirik dan bernyanyi disini. Berisikan total 12 lagu yang kencang, bengis, sekaligus epik, Gerram merupakan salah satu unit yang patut diwaspadai kehadirannya di kancah musik nasional.

Dibuka dengan lagu pertama, “Victims” diisi oleh riff-riff gitar yang saling menyusul bersahutan – justru mengingatkan kepada Kvelertak – yang kemudian disusul oleh beat hardcore berkecepatan tinggi serta diselingi riff-riff gitar ala Converge era Jane Doe. Nomor berikutnya, “Tiga Pilar Iblis”, yang merupakan single utama dari album mereka, menjadi sebuah signature di album ini. Riff gitar bergaya stop and go ala lagu “Tiga Pilar Iblis” akan beberapa kali dijumpai di beberapa lagu lain. Lagu-lagu lain seperti “Kaca Hitam”, “Cursed To Be Sentenced” dan “Eschatos” malah justru bernuansa metalcore yang kental. Lagu “Kaca Hitam” sendiri, entah mengapa, mengingatkan kepada Down For Life. Lagu “Eschatos” sendiri meskipun tetap bernuansa metalcore, terasa lebih epic karena adanya nuansa simfoni serta choir yang menambah nilai angker bagi band yang melabeli dirinya sendiri dark hardcore.

Peran Farid Firmansyah sendiri terlihat menonjol pada lagu “Mordrake”, dimana dia mengisi porsi vokal yang lumayan banyak di lagu tersebut. Namun, cara Farid mengeksekusi vokal di lagu justru menambah nuansa yang lebih ‘cerah’ daripada lagu-lagu lainnya dan akan sedikit mengingatkan kepada band seperti Killswitch Engage. Lagu-lagu lain seperti “The Bloodthirst”, “Jeram”, serta “Lencana Brana Durna” merupakan komposisi hardcore punk yang impresif, dengan serapan crossover hardcore-punk dimana-mana.

Sayangnya dengan komposisi musik yang terhitung matang untuk band yang sedang berusaha menapakkan langkah mereka ke permukaan, terjadi sebuah kecacatan. Lagu keempat, yang seharusnya adalah “Lencana Brana Durna” menjadi tergantikan oleh nomor kelima, “The Bloodthirst”. “Lencana Brana Durna” sendiri pun pindah posisi setelah nomor kesepuluh, yang akan membuat kita sedikit kebingungan dalam menyesuaikan liriknya di dalam booklet. Lirik-lirik lagu dalam album ini sendiri terdiri dari dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Yang patut mendapat pujian disini adalah bagaimana mereka mampu merangkai kata-kata yang tidak terlalu generik, namun tidak terlalu memaksa untuk terlihat pintar. Tata bahasa Inggris yang dipakai pun tergolong impresif dan diletakkan dengan sangat baik, tidak seperti band kebanyakan yang memaksa dan justru malah terlihat lucu karena hanya sekedar berguru pada google translate. [WARN!NG / Made Dharma]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.