close

[Album Review] Glare – La Dialectica

glare – la dialectica
glare - la dialectica
glare – la dialectica

Record Label: Utarid Tapes , Benalu Records , Partai Records dan Miles Records (2015)

Watchful Shot: “Obituary”, “An Ode of Discontent”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Menurut kamus Merriam-Webster, definisi glare adalah “to look directly at someone in an angry way” dan tampaknya istilah ini tidaklah sia-sia disematkan kepada trio dari Bandung ini. EP ini mengkombinasikan style Emo Violence penuh amarah dengan lirik personal yang sukses mengartikulasi tatapan kemarahan mereka.

Tadinya saya mau me-review mini album ini hanya dengan kalimat yang tidak jauh dari: Glare adalah versi Indonesia dari Orchid. Okay, itu ekspresi rasa jatuh cinta saya pada pandangan pertama kepada Glare karena 15 tahun sebelumnya (ketika saya mengenal musik ini melalui zine semacam Heart Attack) saya tidak pernah membayangkan bakal ada band semacam Orchid di Indonesia.

Sayangnya lirik yang diusung Glare masih minus estetika post-modernist yang ditulis sama Jayson Green nya Orchid yang banyak berbicara lugas tentang sexuality, politik sampai filosofi dengan referensi mulai Anna Karina, Nietzche bahkan Guy Debord. Walaupun secara musikal, Glare pastinya nge-fans berat dengan musik Orchid.

Entah kenapa saya lebih suka menyebut musik seperti ini sebagai Emo Violence, atau malah Skramz sekalian, mungkin terdengar seperti frasa yang bodoh tapi itu lebih mengena dibanding saya menyebut dengan istilah screamo. Males aja kalau harus menjelaskan bahwa apa yang dimainkan oleh Glare ini bukanlah sebangsa From First To Last atau other teen idols Screamo that took over the 2000’s. Ah iya, apa saya perlu menyebut kompilasi Revolution Autumn (yang kalau boleh memberi trivia, ide namanya menjiplak Revolution Summer itu) untuk menunjukkan bahwa di Indonesia sudah ada band-band EmoViolence atau Skramz tadi?

Akord oktaf yang dimainkan sang gitaris dengan kecepatan tinggi (saya menyebutnya akord gitar miring) yang ditingkahi dengan light-speed yet frantic drum pattern yang variatif. Juga beberapa momen keindahan di tengah kekacauan yang dipenuhi teriakan emosional merupakan salah satu ciri EmoViolence yang dipersembahkan oleh Glare.

Karakter musik mereka bisa dibilang rumit, banyak part naik turun yang dibangun dengan ritme dan melodi serta disajikan penuh energi dan intensitas tinggi. Mudahnya mungkin menganalogikan seperti anak-anak grindcore yang sedang patah hati lalu bikin musik yang merefleksikan perasaan mereka.

Saya suka dengan konsep EP tujuh lagu dengan durasi per lagu sekitar 1 menitan ini karena menurut saya “less is more”. Sama seperti rilisan band-band Emo Violence di era 90an yang biasanya merilis split atau EP (yang ultra rare) lalu bubar untuk kemudian dibikin diskografi album-nya setelahnya.

Jadi kalau materinya cuma sedikit (limited edition pula) begitu kan jadi semakin penasaran, apalagi terus band-nya bubar. Tapi saya sih berharap Glare tidak bubar secepat itu, apalagi split mereka bersama Warmouth pastinya sudah dinanti-nanti. Legit! [WARN!NG/Indra Menus]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.