close

[Album Review] Half Eleven PM – Sound Of Liturgi

half eleven pm – sound of liturgi cover
half eleven pm
half eleven pm

Record Label: Self Release (2016)

Watchful Shot: “Delusion”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Harus saya akui, konsep packaging album ini menarik dengan mengambil model buku novel grafis. Ya saya tahu beberapa band sudah pernah mengaplikasikannya ke album mereka tapi yang membuat Sound Of Liturgi berbeda adalah cara mereka mengisi buku ini. Terasa organik.

Ketika dibuka, buku ini ditemani artwork di setiap lagu yang ditulis seperti sedang menceritakan dongeng. Jadi setiap lembaran di sini tidak hanya berisi lirik saja tapi cerita yang saling bertalian satu dengan yang lainnya. Kalau itu masih kurang, hampir semua grafis hitam-putih dan tulisan di sini dikerjakan dengan tangan, kecuali di bagian biografi dan lembar terima kasih yang memakai font komputer.

Saya menikmati album ini seperti membaca buku dongeng dengan iringan denting akustik. Inti cerita pada novel ini berpusat di sebuah desa di tengah hutan pohon oak, Woodvill, yang kebanyakan penghuninya bekerja sebagai tukang kayu. Lalu dimulailah perjalanan kisah memilukan antara Meat dan boneka kayu-nya, Bone.

Keenam cerita fiksi ini dikemas dengan latar belakang kehidupan masyarakat di Eropa sekitar abad pertengahan dimana saat itu mitos masih berkembang dengan liar-nya. Di bagian terakhir mereka menjelaskan tentang tembang-tembang yang mereka sajikan, yang kebanyakan bercerita tentang diskriminasi sosial beserta akibatnya.

Mulai dari “Silent To Listen” yang menceritakan tentang keluhan mereka mengenai diskriminasi, semacam ungkapan tentang menjadi sendiri dalam kerumunan. Atau cerita tentang dunia imajinasi di Delusion, sampai klimaksnya tentang kerelaan berkorban demi bisa menemukan kembali arah kehidupan yang lebih baik di “Sacrifice”.

Lirik keenam tembang yang dijalin untuk saling bertalian di sini diambil dari inti sari cerita pada buku yang menyertainya tersebut. Dengan aroma mitos yang kuat, layak rasanya jika laras yang disandingkan pun bernuansa gelap. Ada warna-warna pelangi yang gelap menggelayut di notasi mereka. Akustik gitar yang diberi layer orkestra dengan aksen opera.

Tapi entah kenapa ketika saya mendengarkan Sound of Liturgi ini seolah saya mengimajinasikan Sarasvati yang sedang asyik bernyanyi diiringi petikan gitar temannya, Peter. [WARN!NG/Indra Menus]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response