close

[Album Review] Heals – Spectrum

Spectrum

Review overview

WARN!NG Level 8.1

Summary

8.1 Score

 

Label: FFWD Records

Year: 2017

Watchful Shot: “False Alarm”, “Void”, “Monolove”

Sebagai sebuah genre keturunan, shoegaze mempunyai ruang tersendiri yang mungkin hanya dapat dinikmati dalam keadaan tertentu. Ia seakan menciptakan dimensi yang tersusun atas sekat-sekat fantasi, imajinasi, serta bayang-bayang mimpi. Mengajak masuk ke pusaran yang abstrak, lalu melepaskannya perlahan dalam hamparan luas berupa fatamorgana. Entah bersifat sementara atau dalam kurun waktu lama, semua tergantung seberapa tinggi dosis yang disuntikan.

Perkembangan band shoegaze di Indonesia bisa dikata tidak sekencang band dari aliran lain seperti alternative, folk, sampai indie-rock. Timbul rasa penasaran mengapa gerakan mereka mengalami keterlambatan. Namun saya teringat satu hal. Jika ingin memperhatikan atau menikmati pertumbuhan band-band shoegaze lokal sebenarnya mudah. Cukup simak rilisan Anoa Records di tahun 2015 yang bertajuk Holy Noise – Indonesian Shoegaze Compilation.

Secara jitu, Anoa menangkap pasar shoegaze dengan sistem kurasi yang melegakan. Tercatat ada Damascus, Mellon Yellow, Astrolab, Seaside, sampai Elemental Gaze. Total 14 band masuk dalam pilihan. Membawa karakter masing-masing dan Anda bisa menyimpulkan sendiri bagaimana perkembangan ranah shoegaze dewasa ini.

Dari kompilasi tersebut, rupanya shoegaze bermain dalam tamannya sendiri. Tak perlu melihat sekitar, tak perlu melihat apa yang orang lain lakukan. Shoegaze terus melompat dan menjalani ritualnya dengan seksama. Seperti halnya yang ditempuh oleh Heals, kolektif panas dari Bandung.

Heals adalah potensi di ranah shoegaze. Saya ingat bagaimana mendengarkan lagu-lagu mereka pertama kali. Kesan jujur tidak bisa dihilangkan tatkala mendengarkan nomor “Myselves” dan “Waves”. Ada nuansa tenggelam serta terseret dalam bayang bayang black hole yang mereka bentuk intens; seolah kita berada di bawah dimensi lain. Mengingatkan band-band keluaran 4AD semacam Lush atau Pale Saints.

Di April 2017, materi penuh mereka resmi dilepas. Berjudul Spectrum, Heals memainkan 10 komposisi dengan judul singkat namun bermakna dalam. Kiranya jika boleh menganalogikan, Spectrum adalah pelangi yang membiaskan warna-warna delusional bagi tiap personil. Tapi dari pembiasan tersebut bermuara pada satu tujuan bernama identitas.

Mendengarkan Spectrum bagi saya perlahan meninggalkan kredo klasik bahwa shoegaze identik dengan tempo melambat dan sisi sendu dari Rachel Goswell. Lupakan sejenak karena itu tak berlaku untuk mereka. Dengan gayanya sendiri, Heals membuat shoegaze menjadi atraktif dan melaju kencang seraya mengajak meluapkan emosi dalam dunia yang entah.

Spectrum diawali dengan “Monolove” yang meliar. Raungan gitar Alyuadi Febryansyah meliuk tajam dengan intimasi yang naik turun. Di saat bersamaan dentuman bas milik Octavia Variana menghunus tetap di balik kontemplasi yang panjang. Kemudian di nomor “Lunar” deru improvisasi terasa di tengah lagu saat Muhammad Ramdhan memainkan pola baku sebelum ditimpali noise yang halus dari perkakas Reza Arinal. Sedangkan pada “Azure”, “Overcast”, dan “Anastasia” gebukan drum Adi Reza tak terkendali di samping teriak emosional yang memenuhi sudut-sudut perenungan.

Nomor favorit jatuh pada “False Alarm” dan “Void”. Heals memainkan nada-nada panjang disertai pertarungan distorsi yang tak bisa dielakan. Kadang mereka jatuh dalam lubang sama, tapi berselang setelahnya berupaya membuat wahana baru diisi melodi kesepian. Sedangkan melalui “Void”, Heals membuktikan sisi eksploratif yang memanfaatkan aroma dream-pop layaknya kontur My Bloody Valentine.

Rasanya satu tahun fase pembuatan Spectrum tak berakhir sia-sia. Sepuluh nomor yang membuktikan bahwa genre turunan rock ini masih bisa menjual musikalitas bagus. Personil Heals berhasil melengkapi kepingan yang biasanya muncul mengganggu jalannya keseluruhan album. Mereka paham kapan harus melebarkan, menggunakan distorsi maupun konsolidasi efek, hingga kapan harus membebaskan semuanya.

Permainan tiap personil juga mengesankan. Alyuadi sebagai konduktor telah mengarahkan sekaligus menemani kiprah teman-temannya. Mengisi bagian demi bagian agar tak terlihat usang dengan kombinasi pengulangan chord, mesin efek, maupun gebukan drum energik yang membuat telinga seperti disengat listrik. Saya yakin bahwa album baik tidak dibuat dalam satu malam. Melihat apa yang sudah dilakukan Heals melalui Spectrum, setidaknya keyakinan tersebut benar terbukti adanya dan juga telah mengembalikan pecahan romansa terhadap kiprah Cocteau Twins ataupun Slowdive. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response