close

[Album Review] Honne – Gone are the Days

honne_gone_02
honne
honne

Label                                      : Tatemae Recordings, Atlantic Records (2015)

Watchful Shot                       : 3AM”, “No Place Like Home”, “Gone are the Days”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Honne dalam bahasa Jepang berarti “keinginan yang sebenarnya” . Anehnya,  dua musisi Britania Raya bernama Andy Clutterbuck dan James Hatch adalah pilar utama dari band electro-soul ini. Pada akhir tahun 2014, debut single bernamakan “On a Warm Cold Night” berhasil mengantarkan Honne menuju jajaran band indie papan atas Inggris. Warna musik mereka terlihat kental dengan pengaruh electro modern, sejajar dengan musisi sejenis seperti Lauv atau Alina Baraz dan Galimatias.

Album pertama dari Honne menggabungkan dua elemen instrumental unik. Electro-folk menghasilkan melodi yang modern, urban, dengan atmosfir kota yang kental. Di sisi lain, suasana musik soul dari Honne menghadirkan vokal yang mengupas jiwa, perih dan sendiri. Honne adalah simbol seni disasosiasi sosial dari dunia yang semakin menyempit.  Apabila anda termasuk salah satu individu yang diingkari keramaian di kota besar, Honne adalah pilihan yang tepat untuk sekedar teman minum kopi hingga jadi benang untuk menjahit luka batin.

Awal tahun 2016, Honne kembali merilis album dengan judul Gone are the Days. Melihat dua album sebelumnya dirilis berturut turut pada 2014 dan 2015 –Over Lover dan Coastal Love, setelah dua buah EP, Warm on a Cold Night dan All in the Value, Honne bisa dibilang sebagai band dengan produktivitas tinggi. Sayangnya, kreativitas dan pendewasaan musik berkata lain. Dari segi instrumental, album ketiga ini tidak memiliki banyak perkembangan berarti dibandingkan album pertama. Nuansa yang ditawarkan masih sama, hanya dibumbui beberapa elemen sensual –dengan lirik yang lebih dewasa dan nuansa nokturnal yang lebih kronis. Petikan sensual dan perkusi lembut, seperti pada track “The Night”, adalah kesempurnaan untuk mengiringi silaturahmi kelamin Jumat petang.

Track nomor dua bernamakan “3 AM” adalah salah satu track unggulan Honne. Irama yang sederhana, lirik yang maskulin, digabungkan dengan potongan piano elektronik rancau, menghasilkan kesempurnaan murni dari musik electro-soul. Setelah menit kedua, irama centil “3 AM”  akan menelanjangi tulang, habis dilahap, memaksa kita tergeletak di ranjang. Bagi penikmat musik yang sudah membiasakan diri  bertuhankan kesendirian, “3 AM” sebenarnya memiliki susunan instrumen yang cukup umum di kategori serupa. Kunci minor dan gabungan piano bertempo rendah adalah komposisi umum. Tetapi Honne menyadari kekuatan dari electro-soul tidak hanya pada kepiawaian mereka melakukan inseminasi musik modern dan sensualitas. Daya bunuh dari vokal Honne adalah kunci. Kaliber vokal Honne tidak kalah saing dengan Bon Iver atau Phosphorescent, tipikal suara yang menguras oksigen dari paru-paru pendengarnya. Seksualitas adalah seni yang ditransformasikan oleh Honne menjadi pesan romantis subliminal, tidak sopan, dan tanpa batas. [contributor/Dewangga Dura]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.