close

[Album Review] Iksan Skuter- Shankara

shankara
shankara
shankara

Label: Barongsai Records (2015)

Watchfull Shot: “Tumbuh dan Tergesa”, “Tunjuk Hidung”, “Doa Dimana-mana”, “Tak Apa-apa”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Album keempat Iksan skuter masih mengangkat isu serupa album-album sebelumnya. Masih seputar isu sosial dengan keberpihakan kepada mereka yang tertindas, atau rakyat. Sikap ini terwujud dalam bentuk cerita tentang hidup, cinta, harap, dan seputar ketidakadilan. Tema-tema ini Iksan pampatkan menjadi satu album bermaterikan 13 trek dengan judul Shankara. Istilah dari bahasa Sansakerta yang berarti pembawa keberuntungan.

Meski begitu, setelah mencerna album ini, yang justru muncul di benak saya adalah apa alasan menggunakan kata Shankara sebagai judul album ini. Mengingat nuansa pesimis, aroma konflik, dan kalimat-kalimat sarat kritik yang lebih banyak mendominasi keseluruhan isi album. Hanya 2 dari 13 trek di album ini yang menyiratkan kebahagiaan, dan keberuntungan. Yakni di nomor “Bertemu Kamu” dan “Shankara”. Pula dengan desain kover hitam putih yang menampilkan kesuraman alam sekarang, ditampilkan dalam wujud awan mendung, sampah, dan sedikit tersisa tumbuhan. Cukup aneh bukan?

Meski tanpa dibekali sleve, sepertinya pendengar album ini tak akan punya kesulitan untuk mencerna makna apa yang ingin disampaikan Iksan. Bahasa sehari-hari yang digunakan serta isu-isu yang sangat dekat dengan kehidupan di negeri ini menjadi alasan. Diawali dengan “Logika Mana”, Kita langsung diajak melihat permasalahan negara yang cacat logika. Iringan akustik ringan nan renyah menjadi pembuka. Berlanjut,  petikan gitar rapat ber-akord minor menjadi pengiring nomor kedua yang cukup kuat dari album ini, “Tumbuh dan Tergesa”. Lalu ada “Shankara” di trek kedelapan yang bersyukur dan memuja negeri.  “Aku lahir, hidup, dan mati/ di negeri terindah di bumi/ beruntunglah aku berada di sini.” Nuansa kalimat yang jarang ditemui di album ini yang menariknya juga tersemat dalam sampul CD.

Baru di lagu “Tunjuk Hidung” saya mendapati nomor yang memang sangat pas untuk dibawakan Iksan. Kritis, bernas, tanpa tedeng aling-aling, dengan pembawaan sedikit menyalak. Simak petikan reff “Tunjuk saja hidung mereka/siapa yang curi uang kita/ Tunjuk saja hidung mereka/ siapa yang rampas uang kita.” Satu nomor yang mengingatkan dengan “Partai Anjing”. Kemudian satu harta karun album ini terselip di nomor “Tak Apa-apa”. Aransemen keroncong dengan lirik sedikit jenaka menjadi kombinasi yang asyik untuk disimak. Mengingat pula, ini satu-satunya lagu dengan perbedaan aransemen yang cukup menonjol.

Satu lagi nomor yang tak boleh dilewatkan dari album ini, “Doa Dimana-mana”. Tema yang diangkat saya pikir cukup cerdas dan begitu mengena. Cerita tentang doa yang bisa menguap dimana-saja oleh siapa saja diangkat dengan lirik jujur tanpa keseakanan namun tetap puitis.

Kekuatan album ini memang bukan pada musikalitas Iksan, justru pada penyampaian makna yang jujur tanpa keseakanan. Kepekaan sosial yang tercermin di hampir seluruh nomor menjadi nilai tambah bagi karya musisi Malang satu ini. Pula, sikap memihak Iksan Skuter di album ini juga semakin jelas, bagi Saya ini menjadi sokongan kekuatan daya dongkrak album ini.  [WARN!NG/Umaru Wicaksono]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.