close

[Album Review] Kanye West – The Life of Pablo

1035×1035-8c74ca69
the life of pablo
the life of pablo

Kanye West – The Life of Pablo

Label                     : GOOD Music, Def Jam (2016)

Watchful Shot   : “Famous”, “I Love Kanye”, “Real Friends”, “30 Hours”, “No More Parties in LA”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Setelah banyak berganti judul dan bongkar pasang sampling, The Life of Pablo akhirnya dirilis. Beberapa waktu kemudian, album ini direvisi dengan tambahan banyak lagu, membuatnya semakin menggantung dan berantakan. Versi terakhir The Life of Pablo nyatanya juga tidak menghentikan rumor tentang revisi-revisi lain yang akan datang. Terakhir, sempat beredar berita kalau Kanye West justru sudah mulai menggarap album kedelapan berjudul sementara Turbo Grafx 16. Bagaimanapun keberlajutan isu tersebut, ada baiknya kita berfokus sejenak pada album ini. Menagih janji Kanye yang sudah banyak diingkari sebelum perilisan.

Akhirnya The Life of Pablo, selayaknya karya Kanye West lain, akan selalu dilepas ke tengah kerumunan skeptikal. Hal ini telah menjadi kutukan yang menyertai perwujudan Kanye West. Harus diingat, The Life of Pablo tidak dapat melunasi kesal Anda ketika melihat tingkah congkaknya. Album ini merupakan karyanya yang paling berbeda jika turut menimbang dua atau tiga album sebelumnya. Artinya, The Life of Pablo adalah album yang biasa-biasa saja.

“Ultra Lightbeam” membuka album tanpa urgensi. Perpaduan antara vokal Kelly Price yang menusuk jiwa dan rap padat Chance The Rapper memberi kesan potensial kepada keseluruhan album. Impresi terhadap nomor pembuka itu segera hilang pada bagian pertama “Father Stretch My Hands”. “Now if I fuck this model, and she just bleached her asshole, and I got bleach on my T-shirt, I’mma feel like an asshole,” Kanye West memang biasa bergurau kasar. Namun, biasanya ada substansi yang mencengangkan di dalamnya, tidak seperti penggalan lirik di atas. Apakah ia sedang membicarakan Kim Kardashian? Ya, mungkin tentang Kim. Tapi mengapa?

Bagian kedua “Father Stretch My Hands” terasa lebih wajar dan tidak begitu mengherankan. Dentuman beat kerasnya membantu kita merasakan luapan kegelisahan Kanye yang tidak ingin mengutamakan pekerjaan dibanding keluarga seperti ayahnya. Meski begitu, talenta Kanye baru benar-benar terasa di “Famous”. “I feel like me and Taylor might still have sex. Why? I made that bitch famous,” inilah Kanye dalam momen megalomaniak terbaiknya. Insiden VMA 2009 memang banyak mengundang simpati dan apresiasi bagi Taylor Swift. Sementara Kanye masih harus hidup dengan cap buruk yang ia terima sejak saat itu. Dengan referensi itu, “Famous” adalah penolakan Kanye atas keteneran yang tidak ia butuhkan untuk terus berkarya. Kontribusi Rihanna dalam hook “Famous” memberikan kepribadian terhadap ketenaran itu sendiri. Sampling “Bam Bam” milik Sister Nancy menguatkan karakter nomor keempat ini. Di samping itu, “Bam Bam” juga merupakan pilihan tepat mengingat semangat yang turut disampaikan antara kedua lagu ini.

Dengan banyaknya musisi lain yang ikut serta dalam The Life of Pablo, wajar kalau ada ekspektasi akan keberagaman musik dari setiap lagunya. Namun, lepas dari “Famous”, The Life of Pablo justru terasa kekurangan inspirasi dan berantakan. Sulit untuk berpegangan pada satu benang merah dalam album ini. Karena benang merah itu memang tidak ada.

“Real Friends” meyakinkan kita kalau Kanye West belum lelah menghujat orang-orang di sekitarnya. Lagu ini pula yang kembali menimbulkan optimisme terhadap album secara keseluruhan. “30 Hours” dan “No More Parties in LA” memenuhi harapan tersebut. Percakapan lewat telepon di ujung “30 Hours” tidak mengganggu komposisi musiknya yang memang tidak spesial. Mungkin saja musik yang sejenis pernah terdengar di sana dan sini. Tapi kesederhanaan itu yang sulit untuk diabaikan dalam lagu ini. Sementara di “No More Parties in LA” frustrasi Kanye West terhadap para orang kaya di Hollywood tersampaikan dengan kuat berkat bantuan Kendrick Lamar. The Life of Pablo seharusnya usai dengan lagu ini.

Dari awal sampai akhir, memang sulit untuk melihat satu visi atau tema yang mengikat The Life of Pablo sebagai album yang utuh. Untuk sebuah album dengan hits potensial yang berceceran, hal ini tentunya aneh. Tapi secara dekat, kemampuan Kanye untuk memberi daya hidup kepada karyanya tetap terasa kuat. Lagi pula, bersikap pasrah untuk menerima album ini sebagaimana adanya mungkin menjadi satu-satunya cara untuk memahami jelas apa yang ingin Kanye sampaikan. Rupanya dengan cara itu esensi album ini baru terbentuk. The Life of Pablo bukanlah album terbaik Kanye West. Mungkin salah satu yang akan mudah dilupakan, jika bukan karena kehebohan publik sebelum perilisannya, yang sebenarnya membosankan. Penilaian akhir untuk The Life of Pablo bergantung kepada bagaimana Anda melihat Kanye West dan apa yang Anda harapkan darinya.

Jika Anda ingin melihat Kanye melampirkan cetak biru untuk membangun musik di generasinya, dengarkan saja My Beautiful Dark Twisted Fantasy. Dengan album itu ia sudah mencetak banyak Kanye lain. Dia bosan melakukan hal itu, sebagaimana yang ia sampaikan di “I Love Kanye”. Atau jika Anda ingin mendengar puisi keras berbalut eksperimentasi yang sukses menjebol batas baru dalam dunia musik, dengarkan Yeezus.

Lagi pula, mengapa Anda mengharapkan hal setinggi itu dari orang yang sering dilabeli arogan dan tidak berbakat? Bukankah biasanya hal seperti itu adalah ekspektasi yang biasa dibebankan kepada suara yang mewakili satu generasi atau seorang jenius dalam permusikan? Tentunya salah satu dari dua pertanyaan di atas merupakan pertanyaan yang salah. Jadi, siapa sebenarnya Pablo? Bosan menganggap dirinya sebagai tuhan, tokoh besar mana lagi yang Kanye bandingkan dengan dirinya kali ini? Escobar, Picasso, atau Neruda? Album ini mungkin tidak memberi jawaban pasti. Yang jelas, Kanye adalah Kanye. Kejujurannya yang tak terbendung mulut sendiri menyampaikan sebuah kenyataan yang sulit diterima. Bahwa orang yang senantiasa mengkritisi perangainya, termasuk beberapa dari kita, tidak sedikitpun lebih baik atau berbeda darinya.

Memang, Kanye West bisa jadi merupakan orang tersombong di dunia. Lalu mengapa? Musisi dengan ego selangit jumlahnya sudah tidak berseri. Setidaknya Kanye tidak cukup munafik untuk membantahnya. Dengan The Life of Pablo, Kanye mengambil jeda, sedikit melonggarkan jarak antara dirinya dan kontroversi dan riuhnya kehidupan yang dihadapi. Tapi bukan berarti dia kehilangan taring atau lelah mencari masalah. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response