close

[Album Review] Kendrick Lamar – To Pimp a Butterfly

3813bcd3d4accb7634eea23a2a7ab190.1000x1000x1
kendrick lammar
kendrick lammar

 

Label: Aftermath Entertainment

Watchful Shot: “i”, “Institutionalized”, “How Much A Dollar Cost”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Apa yang kau lihat ketika sudah sampai di puncak permainan, Kendrick? Ia tidak berhenti. Sama sekali tidak. Secara subsekuen ia berjalan perlahan – lahan layaknya ulat. Ya, sekarang kita bermain metafora. Kendrick sangat senang menggunakan gaya ini. Dari Section.80 hingga To Pimp a Butterfly ia telah memahat jalannya sendiri menjadi kupu – kupu. Bak Marcus Garvey dan Martin Luther King, Jr., ia melihat masyarakat Afro-American dari atas podium permainannya dan membuka orasinya dengan sentuhan yang apik.

Berangkat dari tema rasisme, black-on-black crime, white-on-black crime, emansipasi rasial, frugalitas, permainan industri pop di ranah hip – hop, dan kontemplasi hati nurani, Kendrick mengisi kekosongan substansi di dalam industri.

Dimulai dari “Wesley’s Theory” ia membuka orasinya dengan prolog dari Boris Gardiner yang egaliter; Every Nigger Is a Star”. Menyadari posisinya yang berada di puncak permainan yang penuh harta, tahta, wanita ia merefleksikan dirinya dengan sebuah pertanyaan: “Are you really who they idolize? To pimp a butterfly.” Laksana ulat yang keluar dari kepompong, sang kupu – kupu yang mempunyai elegansinya sendiri pun langsung melihat kembali: “Apakah ini benar?”. Di lagu ini pun ia bermain peran; di verse pertama ia memposisikan diri menjadi rapper yang sudah sukses dan bergelimang harta; dan di verse kedua ia menjadi Uncle Sam – paman gober yang murah-hati dan “dermawan”.

Berlanjut ke track kedua, “For Free?” yang merupakan sebuah interlude. Setelah tribut untuk Wesley Snipes yang disampaikan di prolog, Kendrick melanjutkan percakapannya dengan Uncle Sam di interlude pertama ini. Berlanjut ke track ketiga, “King Kunta” yang disampaikan dengan konvensional – vulgar dan brutal – namun tetap piawai dalam peralatan sastrawinya. Merendah namun meroket. “Institutionalized”lagu selanjutnya – yang dibalut dengan hook yang catchy dan gagasan yang terdahulu dipaparkan di lagu “Poe Man’s Dreams” pada album Section.80 membawa saya terhanyut dalam lantunan beat yang jazzy nan chilly.

Kepiawaian Kendrick dalam menulis lirik pun juga tidak bisa terlepas dari kata – kata yang saru nan vulgar yang sangat umum ditemukan di dalam musik Rap. “The Blacker The Berry” – track ke-13 di album – dipotong dari “Keep Ya Head Up”-nya 2Pac memberi contoh deklamasi yang luar-biasa brutal. Martin Luther King pun hanya bisa menggelengkan kepala andaikan ia mendengarkan orasi yang bergelora ini.

Dilanjutkan dengan kebanggaan hitam-legam sebagai ras dan identitas dalam track i yang dimulai dari diri sendiri. Dengan intro dalam music video yang memperlihatkan seorang pastur berujar, “One nation under a groove” ; bagaimana juga dalam seni dan budaya rasa kebanggaan dan kesadaran lalu juga pencerahan bisa terbentuk: inilah yang menjadi podium di mana Kendrick berdiri – selain sebagai rapper juga sebagai seorang tokoh sosial.

Ditutup dengan ciamik di track Mortal Man Kendrick bercakap – cakap dengan seorang Raja Rap di pantai barat: 2Pac. Bertukar pikiran layaknya manusia biasa yang bernafas dan mati, Kendrick melakukan desakralisasi yang dulu terjadi pada zaman 2Pac. Pada outro dari album ini, Kendrick menekankan opini pribadi: “…in my opinion only hope that we kinda have left is music and vibrations.” yang merupakan jawaban dari kegelisahannya sedari kemarin sore.

“To Pimp a Butterfly another classic CD, ghetto lullaby for every one-day MC.” Dengan meminjam berbagai instrumen dan kurasi beat yang berbeda dari album sebelumnya – Good Kid m.A.A.d. City – album ini tampil elegan, berbeda dari album sebelumnya yang sedikit mengandalkan sentuhan Roland 505. Perbedaan yang ada di antara kedua album ini semakin memposisikan Kendrick sebagai kupu – kupu yang berhasil keluar dengan jumawa. Terlepas dari ‘kesuksesannya’ di industri, ia tetap bersikeras dengan pendapat pokok “You can take a homie out the hood, but you can’t take the hood out of homie.”. Dengarkanlah dengan hikmat!

Dikirim oleh kontributor: Rama Syailendra

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.