close

[Album Review] King Gizzard and The Lizard Wizard – Nonagon Infinity

nonagon-infinity

 

Label: Flightless Records
Year: 2016
Watchful Shot: Semua atau tidak sama sekali
Warning Level: !!!!!

Sebelum tahun 2016 mengalami tutup buku, pada akhirnya saya akan berani untuk mendaulat satu band terbaik di dekade ini sembari menunggu band-band era sekarang nantinya akan menelurkan karya ‘emas’ efek dari sindrom post-trump-stress yang tengah melanda. Hipotesis sama tatkala melihat banyaknya band-band timeless yang bermunculan di era resesi ekonomi global di tahun 80-an – well, it doesn’t make any sense but why not.

Nonagon Infinity sama halnya dengan Revolver (1966) atau Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967), dua mahakarya The Beatles setelah Riley – seorang dokter gigi, di satu waktu di sebuah jamuan makan malam, menyisipkan LSD ke dalam kopi milik Lennon dan Harrison. Efeknya luar biasa, Riley, secara tidak sengaja telah merubah bagaimana dunia mendengarkan musik. Hingga bagaimana akhirnya Harrison memutuskan untuk melakukan perjalanan spiritual nya ke India atau alternasi Lennon sebagai hippies bersama Yoko Ono pasca bubarnya Beatles. Di tahun-tahun sama ketika Syd Barrett bersama Pink Floyd atau Jim Morrison bersama The Doors menelurkan karya epik berkat konsumsi zat yang sama, nampaknya kepala dengan area sensorik imajinatif berikut falsafah khayali konstan mendompleng lahirnya karya-karya visioner, magis, menawan, nan abadi. Pun begitu dengan Nonagon Infinity yang berhasil masuk menyeruak dalam rentetan daftar album yang terbilang mampu mendobrak pangsa pop di tiap masanya. Bersebelahan dengan The Piper at the Gates of Dawn (1967) atau Waiting for the Sun (1968), album-album ini merupakan utopia yang berhasil ditelurkan di masa yang tidak pernah diduga sebelumnya, dan kelindannya ada pada; sentuhan zat-zat psychedelic yang mengalir deras pada nyawa album, ekperimentasi berbagai macam instrumen, dan absurditas konsep yang diusung baik dalam rekaman maupun penampilan secara live – kecuali untuk Beatles di poin kedua, teknologi sound on-stage saat itu tidak memungkinkan mereka untuk membawakan live nomor-nomor pasca Revolver hingga bubarnya di tahun 1970.

Perkenalan awal saya dengan King Gizzard and The Lizard Wizard cukup berbeda, katakanlah tentang bagaimana pemuda-pemudi yang sekarang menapaki usia kepala dua awal mencari referensi musik baru; internet adalah solusi, bukan dari rilisan fisik, dsb – apalagi jika band berada di luar jangkauan tempat tinggal kita. Seorang teman yang baru saja vakansi di Melbourne tempo hari menjadi biro ta’aruf saya dengan band ini, poin penting yang ia ujarkan ada dua; bahwa KGATLW berasal dari Melbourne, dan video klip yang ditelurkan selalu absurd af.

Dari berselancar di kanal youtube saya menemukan “Gamma Knife” dan “People Vultures” yang berkelindan antar satu sama lain – bukan hanya dari montase video klipnya, namun juga dari musik sci-fi yang disajikan. Konsepsi musikal Mackenzie, dkk tidak jauh dari alam dark fantasy, sebuah dunia imajiner di mana Anda akan terlempar masuk ke dalamnya, dan jangan coba untuk mengalami KGATLW melalui kajian semiotik karena seperti menuang secawan air di lautan, sia-sia saja.

Tajuk nonagon cukup menjelaskan substansi album ini, bahwa ada sembilan sisi – yang disuguhkan lewat kover albumnya, sebuah representasi dari sembilan nomor yang ada, dan infinity yang bukan tanpa sebab bersanding di belakangnya, bahwa album ini memang kekal tak berujung dengan not terakhir yang terhubung secara sempurna dengan pembuka di awal album dan juga pada transisi di tiap nomor – pembuatan atas catatan yang mengalir dan masuk akal secara keseluruhan, dan tidak berdiri sendiri-sendiri secara otonom.

Kaitannya dengan kemunculan musik digital dengan sertaan tombol repeat sendiri telah membawa kita dalam pengalaman jeda yang cukup mengganggu antar akhir dengan awal lagu pada sebuah album. Ia memunculkan sebuah lompatan ganjil dari pengindahan yang sebelumnya kontemplatif menjadi tempias kengiluan. Tatanan alami yang wajar untuk dialami di album manapun namun tidak akan terjadi di Nonagon Infinity. Fitur repeat secara efektif laiknya cenayang yang telah mempersiapkan kita akan kemunculan album ini. KGATLW bagaikan bermain secara full non-stop rentang 41:45 menit jalannya album ini, secara berulang-ulang, secara terus-menerus.

“Robot Stop” membuka dengan crescendo pendek lewat nukilan mantra penuh sihir “nonagon infinity opens the door / nonagon infinity opens the door / wait for the answer to open the door / nonagon infinity opens the door” dan seruan “one two three!” laiknya dopamin yang mencambuk Anda untuk terbangun dari realitas. Memutar album ini berarti membeli tiket masuk wahana roller-coaster penuh adrenalin tanpa akhir, secara sukarela menjual raga sekaligus jiwa untuk mengalami sebuah awal tanpa kesudahan yang pasti. Pun begitu dengan tampilannya secara live, coba tengok video saat mereka berada di KEXP live session dengan nomor-nomor dari I’m in Your Mind Fuzz (2014) atau yang lebih terbaru Live at Cabaret Vert dengan nomor-nomor dari Nonagon Infinity – belum ada perbedaan berarti pada sari pati albumnya dengan apa yang telah mereka sajikan.

Stu Mackenzie, frontman KGATLW, adalah antitesis dari Kevin Parker, sosok di balik Tame Impala. Perbandingannya pun bukan tanpa alasan, dua band ini berasal dari Australia dengan kesamaan output sound seiras. Produktivitas mereka lahir dari rahim kolektivitas, bukan perseorangan seperti yang dilakukan oleh Parker. Terutama pada Nonagon Infinity yang diakui Mackenzie sebagai “Part of the concept, at least for us, was to work out tracks which felt good with everyone playing and everyone figuring out their parts on the fly,” selepas pengalaman hanya beberapa personil saja yang aktif partisipatif di rekaman-rekaman sebelumnya. Atau mungkin tentang bagaimana solidnya ketujuh personil di tengah-tengah banyaknya tur keliling dunia dan jadwal rekaman padat. Tidak tanggung-tanggung; delapan album penuh, dua EP, dan satu album yang akan rilis tahun depan, belum ada band se-produktif mereka di dekade ini bahkan di usianya yang baru menginjak enam tahun berproses bersama.

Mackenzie dalam satu wawancara mengujarkan bahwa KGATLW adalah garage band meskipun keluaran sound yang dihasilkan sangatlah beragam dan eksploratif. Menganggap psychedelic hanya menjadi satu dari beragam pendekatan eksplorasi musikalitas yang dilakukan. Anggaplah bahwa KGATLW merupakan unit psych-soul-surf-fuzz-garage-space rock-jazz-DIY terbaik yang pernah ada saat ini, terlalu panjang? Mungkin tidak jika Anda telah mendengarkan diskografi mereka secara keseluruhan. Alternasi ragam suara yang ditawarkan per album pun beragam; Paper Mâché Dream Balloon (2015) yang secara dewasa dikemudikan oleh ragam folk dengan saturasi downtempo, irama akustik, dan jazz flute-solos, atau Quarters! (2015) yang berisi empat nomor dengan panjang masing-masingnya tepat persis 10 menit 10 detik, hingga Nonagon Infinity yang menjadi album pertama di dunia dengan fitur pengulangan tiada henti antar lagunya. Holy fuck, does a band like this even real today? Tak hentinya saya menggelengkan kepala dengan harapan kejutan-kejutan lain dari band ini ke depan. [WARN!NG/Dwiki Aprinaldi]   

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response