close

[Album Review] Kula Shaker – K 2.0

Kula Shaker – K 2.0

Review overview

WARN!NG Level 7.2

Summary

7.2 Score

 

Label: Strange Folk Records

Watchful shot: “Infinity Sun”, “Get Right Get Ready”, “High Noon”

Year: 2016

Dari tajuk albumnya, Kula Shaker seolah ingin mengulang masa-masa di mana kesuksesan besar di album K yang rilis satu dekade lalu dapat diraih kembali. Bukan suatu perbuatan yang haram. Tentu mereka sah-sah saja melakukan demikian mengingat perjalanan Kula Shaker sebagai band tersapu pasang surut tak berkesudahan. Mulai dari kritik terhadap kualitas yang overrated, dalil kontroversi lambang Swastika, sampai memutuskan berpisah sementara waktu dalam medio yang tak ditentukan. Intinya, lewat album barunya, Kula Shaker mencoba menampik komentar-komentar yang menganggu gendang telinga.

Sebetulnya Kula Shaker merupakan band potensial yang muncul pasca rubuhnya kejayaan Britpop. Kala publik mulai bosan, suntuk, dan membutuhkan nuansa segar setelah gebrakan Britpop menguasai daratan Britania, mereka lahir di momentum yang tepat. Album K adalah bukti aktual saat mereka meleburkan nafas ketimuran, taburan sitar atau tabla bersama konstruksi psych-rock yang atraktif beserta lirik-lirik terinspirasi mistisme Sanskrit. Fenomena berskala besar yang turut menyeret antusias publik ke taraf menepuk tangan tanda apresiasi.

Seketika popularitas mereka menanjak tajam seiring asumsi keberhasilan menghidupkan kembali mantra-mantra yang pernah diluapkan Brian Jones atau George Harrison semasa menasbihkan diri pada eksotisme India. Namun, layaknya sindrom rock star yang mendera pendatang baru, Kula Shaker seperti tak dapat membendung ekspektasi publik. Album-album setelahnya dihasilkan lewat kekacauan-kekacauan teknis yang celakanya menurunkan level bermusik Kula Shaker. Ditambah lagi, liarnya pikiran Crispian Mills yang terlampau berpatok pada filosofis Kresna serta epos Mahabharata turut andil menyebabkan gejolak di atas. Setidaknya bagi saya.

Sadar bahwa mereka membutuhkan peluang untuk bangkit dan menepikan semangat nostalgia selepas tahapan rekonsiliasi dikumandangkan, Kula Shaker perlahan memasuki studio dengan konsentrasi penuh hingga menghidupkan panasnya panggung melalui tur mandiri maupun gelanggang festival di penjuru Eropa. Sampai di titik tertentu, album berjudul K 2.0 disebarluaskan ke khalayak ramai selagi mengupayakan peruntungan ke sekian kalinya.

Sepintas, sampul album ini mirip dengan ornamen dan corak visual seperti halnya album K. Sosok dewi dengan tangan banyak, guratan rona kuning, cokelat, dan merah yang dipadukan, juga panorama gunung bernuansa senja matahari menjelang hari pembaptisan. Melihat apa yang tersaji di mata membuat saya antusias untuk segera memutar lagu-lagu di dalamnya dan berharap akan ada lagi kejutan-kejutan tak terduga.

Dan dugaan saya benar. Setidaknya lebih dari enam buah track berhasil memenuhi kepuasan. K 2.0 dibuka oleh “Infinity Sun,” tipikal nomor khas Kula Shaker dengan petikan sitar menggugah nikmat sebelum hentakan pedal distorsi Les Paul membuyarkan keheningan dan berganti kepadatan komposisi. Ibarat mendengarkan The Who bermain di pinggiran Mumbai bersama jumlah penonton yang melebihi kapasitas. Tak berhenti sampai di situ, “Holy Flame” meneruskan gegap gempita dengan sempurna. Lagu yang cocok dijadikan anthem dengan bass line seksi guna mengajak memutar kepala maupun pinggul barang sejenak.

Selanjutnya ada “Death of Democrazy” yang berteriak lantang menyoal kebusukan politik dan kritik terhadap melunturnya people power. Sejak mula sampai outro, performa Kula Shaker mengingatkan pada aksi The Rolling Stones. Sedangkan “Let Love Be (with U)” kental akan nuansa gospel lengkap dengan dentingan organ yang dimainkan di gereja tua pelosok Birmingham. Lalu di “Here Comes My Demon,” Kula Shaker menyajikan variasi tempo. Tak hanya mengalun pelan, tetapi juga menghentak lantai seperti Deep Purple.

Jangan lewatkan “33 Crows” yang penuh dengan aroma Bob Dylan. Bedanya untaian semi folk ini dilantunkan di perbatasan Skotlandia, bukan Texas apalagi Nevada. Tentunya dengan sedikit modifikasi agar tak terdengar sama. Tiga nomor sesudahnya merupakan penjaga konsistensi yang baik. “High Noon” dilumuri hook menyegarkan, “Hari Bol” menyerupai sumpah serapah spiritual selama dua menit, dan “Get Right Get Ready” memamerkan kemampuan mereka menyusun kocokan funk yang tak terlupakan.

Jujur saya menikmati bagaimana Kula Shaker membuat kebangkitan tak sekedar angan-angan kosong. Bisa dikata mereka sukses menarik minat para penggemar untuk membeli dan memutar lagu-lagu K 2.0. Tapi yang harus digarisbawahi ialah album K 2.0 belum dapat menyamai kiprah fenomenal K tatkala meletus di pasaran. Ini musti ditegaskan. Walaupun demikian, bukan berarti K 2.0 dipandang buruk kapasitas. Buktinya saya menikmati sepanjang album berjalan. Yang ingin saya tegaskan yakni dalam konteks lebih spesifik, Kula Shaker berhasil melepaskan diri dari jurang kegagalan demi kegagalan. Entah pada konflik internal atau di karya terdahulu. Pada album K 2.0 tiap personil rasanya kembali menemukan gairah bermusik. Dan hal itu jauh lebih esensial dibanding terobsesi romansa masa lalu. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response