close

[Album Review] Low Pink – Phases (EP)

phases-ep
Phases
Phases

 

Label: Kolibri Rekords

Year: 2016

Watchful shot: “Keep Walking”, “You”

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Dalam sebuah ruangan berkumpul beberapa orang yang mengenakan atribut bermotif bebas. Mereka menasbihkan diri sebagai kritikus ternama yang sedang melakukan penilaian mengenai sepak terjang terkini musisi dalam negeri. Sembari memegang peralatan elektronik yang memancarkan kemilau putih cahaya, tangan para kritikus tersebut berkeliaran kesana kemari menekan layar sentuh. Tak lama berselang, muncul sesosok lain yang hadir memicu perdebatan. Ia membawa setumpuk berkas atau lebih tepatnya jika disebut draft yang berisi fakta, statistik, serta trivia mengenai pendatang baru belantika sidestream. Seketika teriak opini membasahi ruang yang ukurannya sebesar lima kali enam meter itu. Ada yang berucap bahwa belum saatnya sang musisi merilis karya. Ada pula yang meyakinkan untuk terus melaju dan tatap kesempatan di depan mata. Perundingan semakin seru. Saling serang analisa dengan perspektif yang kompleks tak dapat ditahan lagi keberadaannya. Bahkan pada satu titik, petuah bernada intimidatif pun dilayangkan agar melemahkan mental. Apabila dibiarkan, situasi bakal menjadi-jadi; cenderung runyam minim antisipasi. Di tengah suasana yang berkecamuk, sang musisi datang seraya mendobrak pagar penutup lantas memukul godam emas 24 karat dengan begitu keras. Saat semua terperanjat, perkataan tegas meluncur deras dari mulut tajamnya; tak usah berusaha keras untuk berdebat, mari nikmati sesaat jamuan memabukkan yang sudah dibuat melalui mekanisme panjang.

Sang musisi itu bernama Raoul Dikka atau biasa dikenal dengan identitas Low Pink. Pada tanggal 18 Agustus lalu, Raoul baru saja merilis EP perdana bertajuk Phases. Melihat caranya dalam mengumumkan hasil karyanya secara satu per satu melalui single yang terpisah, naga-naganya Raoul merupakan tipikal konseptor sejati; mengutamakan detail kesempurnaan. Baginya terjadi kesalahan sedikit pun tidak dapat ditolerir dengan bijaksana dan hati terbuka. Sama halnya di EP ini. Phases memuat 6 (enam) track yang didominasi gemuruh psychedelic lezat, proporsional dan juga meresahkan. Kadang merajut warna dream pop, mengurai ke angkasa luar maupun meletupkan percikan daya yang muncul tanpa pemberitahuan.

Phases dibuka dengan sajian berjudul “Enter”. Nomor sarat ledakan instrumental ini berada pada posisi layaknya salam pembuka perang. Berteriak lantang, berisi kata-kata perjuangan lantas memberi komando juga instruksi untuk menyebru lawan dari pelbagai sudut kemungkinan. Raoul bermain begitu eksepsional. Mengerahkan satu dua upaya melodi panjang yang terlintas mengingatkan tentang barisan memori kalbu yang berserakan di kaki buku. Di urutan kedua, pedal gitar Raoul merajam celah-celah kosong yang menggantung isi bebunyian. Alih-alih terpaku dalam keheranan, Raoul memaksa diri untuk mengasah variasi nada yang menyeret “Phases” masuk jauh ke belakang. Melambat di awal, mengikuti alur tempo yang berpola, dibumbui racun yang melenakan kemudian kembali menggema ke siku deviasi sebelum memantul ke mesin ampli Orange miliknya seorang. Lewat “Someone for Your Days” Raoul mengagungkan teori jatuh cinta secara kasat mata. Baginya sebab akibat yang ditimbulkan tak ubahnya kesiapan untuk melepaskan; cepat atau lambat bakal berujung nestapa duka lara. Dengan menggoreskan ornamen dream pop minimalis, Raoul memuja keadaan ini seraya berucap Leave behind all your loved ones//All your loved ones will leave you behind. Sedangkan “I Feel Like My Life Stops” dipenuhi distorsi gitar yang meraung. Dentuman efek merangkul koneksi dengan kepadatan berlapis; membuahkan keterikatan erat dalam ranah tak berantah. Dan di nomor “Keep Walking” serta “You”, ia memasukkan improvisasi secara liar. Tidak hanya dijejali serbuk psychedelic tapi juga menjaga ritme dengan kocok gitar yang lebih terdengar familiar dan natural. Atas penegasan tersebut, ia merangsang marwah psychedelic dengan cara yang menunjukkan integritas bermusiknya sendiri.

Meski demikian, beberapa kali terdengar pengulangan dengan abstraksi yang sama. Sehingga mau tidak mau berakibat pada kontur musik Phases yang sedikit berubah imbisil. Keberadaan Raoul sebagai one-man-band nyatanya meletakkan kekosongan; berdampak kemiripan satu dengan yang lain. Walaupun pucuk kontrol kekuasaan kreatif masih melekat dalam dirinya, terkadang gerak Raoul tertahankan oleh kemacetan ide. Tentu sangat disayangkan apabila potensinya terbuang cuma-cuma jika terus berada di enigma kekacauan. Setidaknya cukup terjadi kali ini saja.

Raoul merefleksikan kebingungan kepribadian hidup ke dalam karya perdana tanpa harus merasa menghilangkan keaslian jati diri. Ia seperti terkungkung gelombang ketidaktahuan, berjalan berulang di jalur yang sama tanpa melihat direksional yang ada. Sejurus kemudian ia berdiri; melihat sekeliling dan menciptakan sugesti tentang keyakinan diri. Sampai pada suatu momentum dimana ia menemukan konstruksi tetap dalam pikirannya; memberanikan diri pindah ke Jakarta dari kota kecil berwujud Malang demi mendapatkan kreasi selanjutnya yang sesuai benak dan harapannya. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response