close

[Album Review] M83 – Junk

m83
junk
junk

Label                     : Naïve Records, Mute Records (2016)

Watchful Shot   : “Do It, Try It”, “Go!”, “Atlantique Sud”.

[yasr_overall_rating size=”small”]

Pamor M83 jelas melonjak pesat sejak “Midnight City” mulai terdengar di beberapa serial TV dan film. Walaupun bagi sebagian orang lain, beberapa lagu M83 sudah menjadi nomor wajib putar di setiap akhir pekan sejak kemunculan mereka di awal millenium. Baik di bawah hingar bingar pusat hiburan maupun di tengah remang-remang kamar orang tertinggal. Karya-karya M83 bisa dengan tangkas menyiasati pikiran seseorang membangun konstruksi atas masa muda yang begitu ideal. Penuh energi dan semangat untuk menaklukkan segala keresahan umur belasan.

Bahkan hingga terakhir kali menggarap soundtrack untuk film Oblivion, synthesizer Anthony Gonzales tetap disetel untuk mengulur nada-nada melankolis. Membawa kita mengawang di atas bentangan reruntuhan perkotaan futuristik. Hasilnya adalah setengah mimpi buruk yang tak kunjung berakhir.

Karakter M83 justru tergambarkan dengan jelas lewat dunia yang jarang mereka hampiri itu. Terserah kalau album soundtrack dan filmnya kurang disambut hangat oleh para kritik. Tapi komposisi musik M83 merupakan alasan terkuat untuk memberi Oblivion tempat khusus dalam ingatan, bukan Andrea Riseborough yang berenang tanpa busana ataupun pesona Olga Kurlyenko.

Ada sebuah kesan yang tertinggal mendalam terhadap M83 sejak saat itu, yang kini sedikit berserakan dengan dirilisnya Junk. Rasa heran mungkin bisa sedikit dipendam dengan “Do It, Try It” sebagai pembuka album. Dentingan piano berfrekuensi tajam mendominasi lagu ini sebelum masuk ke mantra “A dance on repeat. A trance on a hard beat.Sampling elektronik kemudian mulai mengatur tempo gerakan tangan dan kaki yang tidak tahan untuk berdansa.

Cukup panas, dan tetap heran, album berlanjut dengan “Go!” yang terdengar seperti remix balada cinta lawas. Lirik yang tergagap-gagap dilantunkan oleh Mai Lan dengan mudah memperdaya pendengarnya untuk turut menyumbang suara lantang di lagu ini. Atau setidaknya turut menghitung mundur sebelum solo gitar klimaktik sumbangan Steve Vai menandai usainya bagian terbaik di album ketujuh M83 ini.

Setelah itu kita harus menunggu beberapa lagu selanjutnya, tepatnya di “Laser Gun”, untuk kembali mendengarkan penggalan-penggalan lirik catchy dari Mai Lan. Beat nakal dalam lagu ini seperti berusaha meyakinkan kita kalau Junk layak untuk didengar hingga akhir. Usaha yang patut diapresiasi. Meskipun tidak membuahkan hasil yang diinginkan. Begitu pula dengan celotehan français dalam “Atlantique Sud” yang terdengar sejuk.

Tapi mau bagaimana lagi? Ada beberapa lagu yang sulit sekali untuk setidaknya dimaklumi dalam album ini. “Moon Crystal” rasanya dipotong langsung dari infomercial tengah malam. Lagu ini menembus batas bawah hingga memberikan arti baru terhadap kata “norak” yang sebelumnya didefinisikan sebagai iklan Lejel Home Shopping. Sementara “Time Wind” terdengar seperti Rod Stewart yang melangkah terseok-seok ke diskotik pinggiran. Perjalanan menuju Minggu malam di tahun 1987 bukanlah perjalanan yang mudah. Hanya ada beberapa perhentian untuk sedikit bersenang-senang.

Ekstase mulai memudar dan menyisakan rasa heran yang sedari tadi disinggung. Anda yang mengharapkan petualangan gila-gilaan dalam kurungan imajinasi mungkin akan sedikit kecewa dengan Junk. Hanya ada satu orang yang jelas puas, yaitu Anthony Gonzales sendiri. Entah bagaimana dengan sisanya.

Agaknya Anthony Gonzales juga tidak menaruh banyak peduli dalam aspek tersebut. Bisa jadi Junk merupakan luapan frustrasinya setelah melihat reaksi publik terhadap Hurry Up, We’re Dreaming. Sebuah album padat visi yang tertutupi oleh bayangan pamor “Midnight City”. Judul album sendiri bisa jadi merupakan langkah sarkastik. Sayangnya, ia terlalu berkomitmen dengan candaan tersebut sehingga benar-benar memasukkan beberapa sampah dalam Junk. Tapi kalau hal ini bisa membuatnya bahagia, siapa saya untuk menghakimi?

Junk adalah overdosis nostalgia, yang kali ini dikemas dalam sisaan rekaman synth yang mengumpulkan debu sejak tahun 80-an. Bukan berarti itu merupakan hal baru. Justru, kita sudah terbiasa untuk bernostalgia tentang masa muda dengan lagu-lagu M83. Sejak mereka masih mengandalkan renyahnya musik penuh distorsi hingga bereksperimentasi ke ranah shoegaze dan electronik.

Sisi yang hampir romantis ini memang merupakan daya tarik utama mereka. M83 dapat memutar ulang memori kita dan mengikatnya dalam rangkaian momen tertentu, nyata atau tidak. Biasanya pada gambaran buram masa muda penuh kebahagiaan yang sebenarnya tidak pernah, dan tidak akan pernah tercapai. Lalu datang kesadaran bahwa itu adalah hal terbaik yang bisa kita dapatkan saat ini, saat semuanya perlahan memudar dimakan waktu.

Sensasi itu terasa jelas sesudah mendengar Saturdays = Youth atau Before the dawn Heals Us, misalnya. Dalam Junk, yang didapatkan adalah umpatan orang dewasa yang kehabisan pilihan dan terjebak dalam pembuktian dan pembenaran yang sia-sia. Terpaksa ia harus menjalani hidupnya sebagai runtutan konsekuensi yang mengecewakan.

Bisa jadi kesimpulan yang diambil itu terlalu jauh atau terlalu dalam. Walaupun jika dipikirkan lagi, tidak ada salahnya. Tapi initinya, bukan kesadaran pahit seperti itu yang diharapkan dari M83. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response