close

[Album Review] Mac Miller – Circles

Mac Miller

Review overview

WARNING LEVEL 8.5

Summary

8.5 Score

Label: Warner Records

Watchful Shots: “Complicated”, “I Can See”, “Hands Me Down”.

Rating: 8,5/10

Circles (2020) jadi bunga penutup hidup Mac Miller. Hanya sebulan lebih sedikit pascarilisan terakhirnya yang bertajuk Swimming (2018), Mac Miller tutup usia akibat insiden overdosis pada 7 September.

Just like a circle, I go back to where I’m from” adalah coda dari Swimming. Tidak ada yang tahu saat itu bahwa Mac memiliki rencana untuk merilis album sekuel, apalagi ditambah album ketiga untuk membuatnya jadi trilogi.

Kematian tidak pernah masuk akal. Ia adalah satu-satunya kepastian dalam hidup, tapi tidak ada yang pernah bisa memahaminya. Hidup hanya berputar-putar. Kuliah yang sama. Pekerjaan yang sama. Hutang yang sama. Pacar yang sama. Patah hati yang sama. Air mata yang sama. Kematian mengarahkan kehidupan pada garis lurus yang pasti: kematian yang sama.

Swimming adalah perayaan terhadap hidup. Album ini adalah kompilasi dari daya hidup seorang artis yang ingin terus menciptakan sesuatu yang berarti bagi orang lain. Mac tidak ingin lagi tenggelam oleh keteterpurukan. Masalah-masalah seperti ketergantungannya terhadap zat adiktif dan alkohol, perpisahannya dengan Ariana Grande, diperparah kasus tabrak lari yang menimpanya.

Mac harus terus “mengambang” untuk bertahan hidup. Teritori musik baru yang menggabungkan funk, jazz, lo-fi soul, dan hip-hop jadi katalis baginya untuk self-love. Oleh karena itu, Swimming terasa begitu penuh, kaya, dan grandeur. Dengan mudah kita bisa mendengar suara Mac menggapai langit. Aura yang sangat positif ini beresonansi dengan pendengarnya.

Perjalanan karir Mac memang tragis. Tepat pada situasi yang seolah jadi lebih baik baginya, ia harus pergi untuk selamanya. Diskografi Mac benar-benar merefleksikan perkembangannya tidak saja sebagai seorang artis, tetapi juga sebagai seorang manusia. Mac adalah figur yang relatable bagi banyak orang. Ia adalah seseorang yang pada dasarnya genuine, kawan main yang asyik, dan teman curhat yang bisa diandalkan. Namun, ia juga teman yang tertutup dengan pikiran-pikiran negatifnya, yang tidak selalu mencapai apa yang diinginkannya, atau sebagai kawan yang tiba-tiba menghilang untuk menyendiri tanpa diketahui sebabnya.

Profilnya di Rolling Stones pascaperilisan Swimming mempertegas pula sikap positifnya untuk “fokus pada realitas” yang bisa dimaknai bahwa ia sudah membaik, termasuk perihal adiksinya. Musik seumpama amphetamine yang membuatnya ketagihan untuk terus-menerus mereka cipta. Dalam konteks seperti ini, kita bisa memahami Circles.

Album ini secara penuh sudah “dibuat” Mac. Jon Brion adalah produser yang menyelesaikan album ini setelah ia juga berkolaborasi dengan Mac di Swimming. Para pendengar Circles berutang banyak padanya. Rute Mac di rilisan ini kembali berubah dari diskografinya dengan bertopang lebih banyak pada musik yang lebih lambat, chill, soulful, introspektif, dengan bumbu-bumbu psikedelia.

You hear him acknowledging aspects of himself, either that he doesn’t feel capable of changing or things he thinks are questionable,” komentar Brion pada Apple Music. Circles seolah-olah adalah muara dari usahanya berenang bertahan hidup. Tempat yang tenang dan damai. Ia sudah memahami bagaimana dunia ini bekerja, tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi, mungkin juga termasuk kematian.

Title track album ini membuka dengan getir, “Well, this is what it look like right before you fall,” seolah-olah Mac sudah tahu bahwa ia akan pergi selama-lamanya. Pembuka album ini memang sekadar monolog, tetapi mendengar seseorang yang sudah meninggalkan kita bicara, “And I cannot be changed, I cannot be changed, no/ Trust me, I’ve tried/ I just end up right at the start of the line/ Drawin’ circles”, perasaan ini hancur lebur.

Lagu kedua bertajuk “Complicated” membahas awal permasalahan yang berpangkal dari isi kepala sendiri. Kondisi mental yang semakin hari semakin akut mengancam semua orang. “Some people say they want to live forever/ That’s way too long, I’ll just get through today.” Bertahan hidup adalah persoalan keseharian bagi banyak orang.

Persoalan mental ini juga dibahas dalam single utama Circles, yaitu “Good News”. “I spent the whole day in my head/ Do a little spring cleanin’/ I’m always too busy dreamin’/ Well, maybe I should wake up instead,” persis pada momen ini kita bisa memahami “lingkaran setan” yang menjebak Mac dan banyak orang serupa. Hampir seperti ‘idealisme’, pikiran seseorang bisa jadi dunia tersendiri yang begitu luas, tak berujung. Realitas tidak pernah semenyakitkan ini, sehingga bermimpi bisa semewah itu.

Eksplorasi musikalitas Mac memang sangat inspiratif. Selain mood yang memang disetel kendur, nomor “Blue World” dan “Everybody” serta “That’s On Me” yang bertempo sedang memiliki corak yang amat berbeda, tetapi masih berada dalam visi musikalitas yang sama. “Blue World” diiringi oleh potongan sampel yang pitch-nya nyaring, hampir seperti nomor dansa. Guy Lawrence dari duo Disclosure memproduseri lagu ini tanpa membuatnya jadi nomor EDM yang banal.

Di sisi lain, “Everybody” adalah tembang rock psikedelik. Lagu ini adalah tafsir bebas Mac dari single Arthure Lee bertajuk “Everybody’s Gotta Live” yang rilis pada 1972. Nuansa rock klasik berlanjut di tembang “That’s On Me” yang bercorak Beatles-esque dengan melodi gitar yang kuat. Hal ini membuktikan bagaimana Mac selalu berusaha melampaui musikalitasnya sendiri tanpa meninggalkan karakter yang membuat kita jatuh hati padanya, suara yang empuk, flow yang halus, dan pembawaan yang jujur.

Circles ditutup oleh “Once a Day”. Hanya Mac seorang diri dengan synth, bass, dan perkusi minimalis. Ia pernah mem-posting potongan lagu ini entah kapan sebelumnya. Sudah umum bagi musisi untuk membagikan potongan-potongan lagunya lewat sosmed. Lagu ini seperti terpotong begitu saja di akhir, sehingga menjadi satu-satunya lagu yang terkesan belum selesai. Sebelum chorus terakhir dan lagu terpotong setengah dipaksa, Mac bernyanyi lirih, “And everybody means something/ When they’re stuck on your mind/ But every now and again, why can’t we just be fine?

Mac seakan mengingatkan pendengarnya untuk ‘just be fine’ dan lanjutkanlah hidup. Kematiannya memang tiba-tiba dan tragis. Namun, Mac seolah-olah bilang bahwa sejauh ia bisa bermakna bagi pendengarnya, kematian pun bukan sesuatu yang harus terus-menerus diratapi.

Jika kita melihat kolom komen di Youtube, kita bisa menemukan dunia kecil yang begitu indah berisi pendengar Mac atau kerabat/keluarga dari pendengar Mac yang berbagi cerita seputar pengaruh musiknya dalam hidup mereka. Banyak orang merasa kehilangan teman akrabnya. Ada memori penonton konser yang mendapatkan akses gratis dari Mac. Ada juga seorang ibu muda yang baru saja melahirkan anaknya taksabar mengenalkan musik Mac ke pendengar baru. Ada pula orang tua yang berterima kasih kepada Mac, karena menemani putra-putrinya dalam masa terkelam mereka.

Dari sini setidaknya kita tahu, Mac mungkin sudah meninggal, tetapi ia tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Ia menjelma musik yang kita dengar dan terus hidup. [Devananta Rafiq]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.