close

[Album Review] Maliq & d’Essentials – Senandung Senandika

Senandung Senandika

Review overview

WARN!NG Level 8

Summary

8 Score

Label: Organic Records

Watchful shot: “Musim Bunga”, “Kapur”, “Manusia”

Year: 2017

Genre pop telah memiliki standar tertentu semenjak Maliq & d’Essentials mengeluarkan Musik Pop tiga tahun yang lalu. Membaurkan nuansa edgy 80’ dengan gemerlap sorot disko, mewahnya synth milik Indra Lesmana, maupun beat yang mengundang keriaan tamu undangan. Dari yang terlupakan karena sibuk mengeksploitasi unsur murahan atau menjual habis-habisan RBT, pop di tangan Maliq & d’Essentials terlahir kembali bak zaman renaissance.

Pasca tiga tahun setelah Musik Pop rilis, publik dibuat (dan dipaksa) menunggu akan seperti apa album Maliq & d’Essentials berikutnya. Suatu kewajaran mengingat kebahagiaan yang diberikan Musik Pop meletupkan keyakinan kepada pendengar bahwa musik pop—dalam definisi lebih jelas—tidak mati tertimbun masa. Di samping itu, mau tidak mau, suka tidak suka Musik Pop memberi ekspektasi sekaligus tanggung jawab tak sedikit untuk Maliq & d’Essentials agar membuat musik yang setidaknya dapat menyamai kiprah Musik Pop. Syukur-syukur bisa melebihi.

Semesta nampaknya mengabulkan doa umat. Sekitar akhir Mei lalu, Maliq & d’Essentials menyatakan kabar resmi; album baru mereka sudah bisa dinikmati. Saya cukup kaget mendengar berita tersebut. Rasanya tidak ada kabar terbaru soal album kecuali beberapa single yang mereka keluarkan bersamaan. Atau jangan-jangan asumsi di atas hanya fatamorgana dari ketidaktahuan tentang informasi mereka? Tapi, mengapa harus ambil pusing? Bukankah segera memutar lagu-lagu teranyar mereka jauh lebih mengasyikan dibanding berdebat dengan diri sendiri perihal perkara yang tak mutu?

Di album barunya, Maliq & d’Essentials membawa tajuk Senandung Senandika. Judul yang cukup menggambarkan betapa romantisme masa lalu, kini, dan depan ingin mereka angkat ke permukaan. Memberi selayang pandangan dari cara mereka menuturkan bait makna serta komposisi nada tanpa menyertakan kerumitan-kerumitan yang kompleks. Dengan selaput kesederhanaan, mereka berusaha membungkus keintiman antara cinta, harap, dan tentu saja sepercik rasa.

“Sayap” membuka Senandung Senandika dengan petikan sitar dari India sebelum mesin synth dan deru elektrik lainnya memasuki aula pertemuan. Di tengah-tengah, solo gitar Lale melakukan serangan secara rapi dan berpola, lantas diteruskan keys minimalis Ilman. Di “Musim Bunga”, mereka menawarkan soundtrack bagi kalian yang dimabuk asmara. Kocokan gitar yang sedikit funky bertemu instrumental khas selatan. Perpaduan manis untuk para penghamba cinta.

Tak melulu bertutur kemesraan, lewat “Maya” mereka mengutarakan kegelisahan tentang media sosial dan kondisi terkini yang kian mencederai nalar. Dengan aura yang sedikit gelap ditambah bebunyian bernafas timur, mereka mendedah ironisnya kenyataan. Gairah kembali terangkat kala “Senang” berselancar di udara seraya mengajak menatap esok dengan mata berbinar. Kemudian “Kapur” menjadi salah satu track favorit bersama kisah para guru, sentuhan jazz, dan sensualnya tiupan saxophone di babak pamungkas.

Maliq & d’Essentials menurunkan tempo di nomor “Idola.” Petikan Lale menemani vokal Angga yang tertarik kegetiran; mengingat kerinduan terhadap orang tua. Lalu pada “Titik Temu”, mereka menciptakan atmosfer yang pekat layaknya Incognito sewaktu bermain di pertigaan Chinatown. Sedangkan “Manusia” menyimpan kombinasi pop dan soul yang penuh kepercayaan. Berbicara soal esensi dan membiarkan musik yang terus mengalun tak peduli.

Senandung Senandika adalah langkah Maliq & d’Essentials untuk melupakan kemegahan serta kesuksesan Musik Pop. Meski masih terdapat beberapa pengaruh Musik Pop yang tidak dapat dilepaskan dan menjadi trademark seterusnya, sembilan nomor di album ini menandakan kiprah mereka untuk senantiasa berdiri di atas tahtanya sendiri.  Mewujudkan warna-warna baru dengan fondasi kesederhanaan tanpa harus mengurangi porsi kualitas keseluruhan.

Selain itu, ketakutan berupa terbebani ekspektasi pun lenyap seketika. Maliq & d’Essentials nyatanya mampu melepaskan diri dari jerat Musik Pop dan menggantinya dengan lanskap bermain baru yang ingin mereka nikmati sendiri secara bebas, cuma-cuma, di samping lebih banyak mengaduk melankolia di balik tembang-tembang bertenaga (“Idola”, “Musim Bunga”, dan “Kapur” merupakan track yang personal).

Dengan lahirnya album ini, Maliq & d’Essentials masih memiliki kuasa untuk mempertahankan hegemoni tidak langsung terhadap perkembangan genre pop. Kemampuan mereka dalam meracik adonan dengan segala resep jitu nan berkhasiat masih mendapatkan pengakuan dan penahbisan dari khalayak ramai. Sepasang album rasanya cukup untuk menggambarkan kompetensi mereka. Apabila Musik Pop adalah perayaan pesta besar yang disusun dengan beribu pengaturan dan menghasilkan meriahnya suasana, maka Senandung Senandika merupakan sikap perenungan, usaha mengingat masa silam dengan sederhana, diam-diam, tanpa harus kehilangan makna. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response