close

[Album Review] Mogwai – Atomic

a2404352268_10
atomic
atomic

Label                   : Rock Action (2016)

Watchfull shot  : “SCRAM”, “Bitterness Centrifuge”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Sebetulnya tidak terlalu sulit dalam menebak pola musikalitas Mogwai; komposisi post-rock Glasgow yang panjang, melodi yang mengawang dan bebunyian sarat makna yang terbentuk dengan kompleks. Semenjak kemunculan pertama pada Mogwai Young Team (1997) sampai fase Rave Tapes (2014), mereka konsisten dalam memainkan formula-formula indah irama post dan tentu saja memberikan penegasan status Barry Burns, Dominic Aithcison, Martin Bulloch serta Stuart Braithwate sebagai salah satu dedengkot post-rock terbesar yang pernah ada.

Album kesembilan Mogwai yang juga merupakan soundtrack film dokumenter garapan Mark Cousins berjudul Atomic: Living In Dread and Promise ini rilis pada April 2016. Secara konsep memang Atomic mempunyai perbedaan cukup signifikan dibanding album sebelumnya. Permainan synth eksepsional, deru post yang terdengar lebih kelam menjadi gambaran umum; disajikan secara menyeluruh tanpa celah. Kredit tersendiri saya berikan kepada sosok Barry Burns yang berani membawa Mogwai keluar dari zona nyamannya; melintas ke tanah eksperimental dengan ketakjuban haluan noise yang dinamis. Lupakan Rock Action yang sentimental atau Mr. Beast yang penuh kebimbangan maupun era The Hawk Is Howling yang melankoli, karena Atomic hadir dalam kepadatan yang berat sekaligus gelap.

“Ether” membuka Atomic dengan tempo lambat kemudian menjalar halus perlahan dan akhirnya menyeringai lewat corong elektrik yang keluar dari mesin gitar Stuart Braithwate. Selanjutnya muncul “SCRAM” yang penuh distorsi space-sound. Dua menit pertama kita diajak melihat dan memperhatikan alam semesta lalu berbalik terbang menyusuri ensiklopedia luar angkasa dan akhirnya terjebak dalam kebingungan sistemik. Alunan “Bitternes Centrifuge” datang membawa setumpuk problematika yang tidak mudah; mengembalikan memori “The Precipice” versi banyak efek dimana ritme bass Dominic Aithcison terkontrol tetap—kadang juga liar, riff gitar yang sedikit ber-shoegaze sembari menunggu improvisasi synth dan pukulan drum Martin Bulloch yang statis. “U-235” dibuat seakan untuk menggambarkan kondisi perang. Bentuk keprihatinan juga simpati tentang gesekan rudal dan hilangnya nyawa tak berdosa; sebuah anthem megah sekaligus tragis menjadi satu. Bayangan tentang korban berjatuhan disampaikan secara eksplisit lewat gesekan gitar: menyampaikan pesan kepada tuan-tuan yang beradu kekuatan. Fenomena sosial yang membingungkan memicu adanya dua komposisi bertajuk “Pripyat” dan “Weak Force”. Delusional merupakan kata tepat dalam menuliskannya. Menjadi semacam inspirasi kaum tertindas yang dibalut sirkulasi orkestra penuh imaji. Saya membayangkan sosok Ian MacKaye memainkan “Little Boy” di lapangan luas Bathgate. Sesaat ketika Barry Burns membangun konstruksi berlapis diiringi chord mayor yang dipetik dari dawai Fender milik Stuart, maka seketika itu pula Ian berorasi lantang mengenai kerusakan lingkungan; semua salah korporasi.  Lalu di “Are You A Dancer” mengingatkan warna “Scotland’s Shame” namun diciptakan di antah berantah. Sedangkan “Tzar” muncul dengan harmoni sampling ala Cripped Black Phoenix yang diiringi vokal latar bariton gospel dari St. Gilles. Dan akhirnya “Fat Man” menutup perjalanan secara lugas meski menyimpan banyak keraguan dibalik setiap tanda tanya.

Atomic adalah karya Mogwai yang kritis. Selama empat puluh delapan menit kita dibeberkan beragam panorama terkini yang dirangkum dalam tembang post. Celaan dan satir tentang kemanusiaan, keselamatan dunia, pembunuhan massal, sampai pertarungan adidaya tersusun secara rapi dalam wadah endemik berwujud instrumental. Bukan karya terbaik dari Mogwai, memang. Tapi apakah kita rela untuk menyia-nyiakan buaian nyata yang bercerita perihal kronisnya kehidupan dengan segala ketamakan manusia? [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response