close

[Album Review] Monkey to Millionaire – Tanpa Koma

Monkey to Millionaire – Tanpa Koma

Review overview

WARN!NG Level 8.9

Summary

8.9 Score

Label: Binatang Records

Watchful Shot: “Tular,” “Malam Mangsa,” “Bencinya Untukmu,” “Kekal,” “Nista”

Year: 2017

Jeda waktu empat tahun bukan waktu lama bagi Wisnu dan Aghan untuk menghasilkan Tanpa Koma –album ketiga paling introspektif, gelap, juga confessional yang pernah mereka telurkan selama ini. Ada Lantai Merah (2009) yang kini genap nostalgik, juga Inertia (2013) dengan foo fighters-esque nya. Lebih daripada itu semua, Tanpa Koma ada baiknya ketika dimaknai dengan membuang jauh-jauh romantisisme akan dua album penuh mereka sebelumnya, percayalah, Anda tidak akan kecewa ketika melakukannya.

Melalui tajuknya secara literal, Tanpa Koma muncul secara murni tanpa basa-basi. Apa yang benar-benar menonjol adalah tuturan lirik-lirik khusyuk juga sendu tentang hal-hal seputar kehilangan, rindu, juga kehilangan, dan masih banyak lagi kehilangan. Dalam bentuk apapun, rasa kehilangan terasa seperti komponen utama pembentuk nyawa dari nomor-nomor di Tanpa Koma.

Ia seperti bagaimana sekelompok grup musik membuat aransemen pengiring narasi berupa puisi-puisi magis yang lahir dari pengalaman personal Wisnu, sang frontman. Ada kisahan tentang seorang yang mengkhianati keluarganya hingga rela meninggalkan anaknya sendiri, tentang istri yang menelantarkan suami dan anaknya, perasaan tidak senang ketika bertemu teman lama, hingga tentang orang yang perlahan ditinggalkan sekitarnya. Membuka lyrics-sleeve-nya terasa seperti menemukan kembali kumpulan cerita dari seorang kawan lama, tidak banyak berbalas kata ketika berjumpa, dengan raut muka yang mengisyaratkan bahwa belantara pikirnya telah cukup sesak untuk kegetiran-kegetiran lainnya. Ia berkartarsis dengan cara menulis, dan tak ada sisa waktu yang cukup untuknya menulis.

Sedang Wisnu dan Aghan, dua manusia di balik Monkey to Millionaire telah secara apik menggenapi kisah-kisah tadi secara dinamis juga eksplosif; ia terkadang berbisik, berbincang biasa, sampai-sampai berteriak kalau-kalau memang perlu. Tumbuh lebih dewasa dari Lantai Merah juga tidak terlalu marah seperti Inertia. [WARN!NG/Dwiki Aprinaldi]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response