close

[Album Review] Morgue Vanguard x Still – Fateh

mv_tbs-collabo-promo-02
Fateh
Fateh

 

Morgue Vanguard x Still – Fateh

Grimloc Records

Watchful Shot: Fateh, Dol Guldur 

 [yasr_overall_rating size=”small”]

Pengumuman: Raja bacot hip-hop lokal telah kembali. Tentu dia bukan bernama Homicide karena sudah jadi mayat, bukan Trigger Mortis yang tak jelas kabarnya, bukan pula Bars of Death yang sempat bikin kita bangga punya alergi polisi. Sang raja bacot, MC Morgue Vanguard, kembali dengan gandengan Hsi Chang Lin A.K.A. DJ Still dari Dalek yang berisik.

Bagaimana MC MV kali ini mengemas proyek musikalnya? Banyak yang bagus-bagus. Sampul album dari Arian13 keren, gaya musikalnya beratmosfer gelap yang dibungkus dengan gaya ambient-drone-noisy + setumpuk tape loops yang rada-rada mengingatkan pada My Bloody Valentine, Godflesh, dan Einstürzende Neubauten. Repetan MV juga tetap sangar (“kami akan jalin koalisi dengan halilintar”, teriaknya) dan tetap kreatif. Simak saja lagu “Dol Guldur” ketika MV mengakali tarikan nafasnya yang habis dimakan usia dan asap rokok dengan teknik freestyle. Kalau boleh protes, barangkali saya hanya akan bilang mengapa tidak ada nomor anthemic seperti beberapa lagu di album Nekrophone Dayz (“Rima ababil”/”Puritan”) yang bisa membuat kita-kita, pendengar yang tidak punya kemampuan merepet cepat, tetap bisa melafalkan lirik mereka dan dengan mudah teridentifikasi teman sepergaulan yang sedang terkena virus Homicide seperti dulu. Sampai di sini, kalau dideretkan dengan proyek MV terdahulu, album ini sekilas biasa saja, tapi standar biasa saja dari seorang eks MC Homicide juga sudah cukup untuk jauh melampaui standar musisi indie lokal yang makin ‘absurd-absurd gimana gitu..’

Tapi ini baru soal teknis, karena mengulas MV yang telah lama mengingatkan kita kalau hip-hop itu bukan 50 Cent, bagaimana dengan tema filosofis-politisnya? Ini yang jauh lebih menarik. Dibanding mengulang-ulang seruan moral dan sikap personal is political yang sudah teramat sangat basi itu, MV memulai albumnya dengan lagu berjudul “Volume 1, Bagian 8, Bab 32” yang tak lain merujuk pada bab buku paling legendaris dalam ilmu-ilmu sosial yakni Capital-nya Marx. Keseluruhan album ini, termasuk pamflet ‘akumulasi primitif’ yang jadi bonus album, tak lain dan tak bukan adalah bentuk musikalisasi dari konsep Marx yang menerangkan proses historis terjadinya perpisahan paripurna antara produsen dengan sarana produksinya—sebuah proses yang jadi titik mula lahirnya sistem sosio-ekonomi yang sayup-sayup sering kita dengar sebagai kapitalisme. The so-called primitive accumulation, ditulis Marx untuk mengencingi Adam Smith yang percaya bahwa kapitalisme sejak awal diperoleh dari leluhur yang pandai, hemat, dan rajin menabung—sejenis pramuka teladan. Kenyataannya, seperti yang kita lihat di Rembang, Karawang, dan ratusan lokasi konflik agraria di Indonesia, sistem ekonomi kapitalis hanya mungkin dibangun lewat perampasan tanah-tanah petani entah lewat pekik “atas nama undang-undang” (Manufaktur Pre-teks) atau seringnya lewat laras senapan (Tak Berbayang di Roban Batang) yang jadi prasyarat dasar lahirnya proletariat; kelas yang untuk hidup, harus menjual tenaga-kerjanya demi segepok upah.

Buat saya, album ini karena itu bukan saja layak beli, tapi juga layak dipelajari. Semacam paket singkat kuliah ekonomi-politik agraria di jurusan antropologi tapi minus dosen produk orba. Semacam paket yang juga cocok buat menemani para aktivis petani yang belum juga move-on dari Iwan Fals dan “Darah Juang”. Semacam paket musik yang seksi dan berkualitas di tengah fenomena lingkar musisi lokal yang sedang berlomba untuk naik haji. [Dicky Ermandara]

Fateh
Fateh
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response