close

[Album Review] Muse – Drones

muse -drone
Drone
Drone

Muse – Drones

Warner Bros.

Watchful Shot : “Reapers”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Drones adalah sebuah album konsep dengan tema besar resistansi lewat tiga babak konvensional: penindasan, kebangkitan, lalu pemberontakan. Berangkat dari renungan atas teknologi drone sebagai potensi distopia militer, Matt Bellamy menyuguhkan kisah pemanfaatkan dan indoktrinasi manusia menjadi drone, sebuah metafora mentalitas psikopat. Dalam peperangan drone atau pesawat tanpa awak, manusia diasumsikan sanggup mengambil keputusan sembarangan tanpa mempertimbangkan konsekuensi dan nurani akibat adanya pemisahan jarak dan rasa takut. Sebuah tema heroisme futuristik yang dahulunya biasa disajikan Muse lewat seruan pemberontakan banal dan perangkat efek yang bermewah-mewah. Sayang, itu lagi-lagi terjadi. Ehem, sedikit lebih buruk.

Lagu pertama, “Dead Inside” belum menjadi representasi materi Drones, melainkan sebuah sengatan electro funk yang masih identik dengan materi album The 2nd Law (2012). Selaku single pertama pun nampaknya lagu ini tak mau membuang sia-sia isu perpisahan Bellamy dengan sang tunangan, Kate Hudson. Ada perpotongan makna lirik antara kepentingan intro narasi Drones—tentang sang protagonis yang mulai rapuh dan kehilangan asa—dengan impresi asmara agar mungkin tetap aman masuk radio:“Your lips feel warm to the touch/ You can bring me back to life / On the outside you’re ablaze and alive / But you’re dead inside!”.

Interlud “[Drill Sergeant]” dan riff raksasa “Psycho” baru benar-benar membuka horizon album ini. Performa gitar Bellamy di Drones lebih dominan hingga mampu mengingatkan kita pada apa yang membuatnya heboh dipuja sebagai virtuoso di album Origin of Symmetry (2001) hingga Black Holes and Revelations (2006). Simak guitar-driven mega-eksplosif di “Reapers”, yang walau tetap surplus, namun faktanya inilah karakter terbaik Muse selama ini dalam menghibur. Sayang, pengaruh berlebihan Queen dan U2 sejak The Resistance terus berterbangan di komposisi-komposisi Drones.

Seyogyanya, Drones dapat diapresiasi sebagai kampanye kesadaran bahaya drone—baik selaku suatu entitas, maupun simbolik—yang mana merupakan isu yang aktual dan berkesan. Namun, bicara faedah pesan sosial-politis yang sudah dibawa sejak lalu oleh Muse, kelemahan krusial resensi ini adalah saya tak punya data statistik resmi demografis pendengar Muse. Apakah mereka bocah sepuluh tahun yang terharu menonton ending The Avengers? Atau warga Amerika Serikat yang seumur hidupnya belum pernah mendengar lagu politis selain “Star Spangled Banner”? Topik narasi Drones seperti luluh lantak dalam departemen lirik Bellamy. Bagai pembacaan naskah Sumpah Pemuda yang ditakdirkan masuk kuping kanan keluar kuping kiri di upacara bendera Sekolah Dasar. Lagi-lagi Bellamy berlagak semacam Ultraman yang terlahir di bumi untuk menyelamatkan jagat raya dengan kekuatan atraksi gitar super penuh laser dan deklamasi sepretensius They will not force us / They will stop degrading us / They will not control us / We will be victorious” seperti di “The Uprising” (The Resistance).

Dari sepengamatan saya, nampaknya yang mengisi kerumunan penonton di video-video konser Muse adalah remaja dan dewasa normal. Lantas untuk siapa lirik-lirik infantil dan prosais ini? Bahkan, kiranya tak butuh membuka pikiran demi menelusuri alur pengisahan Drones yang terlampau enteng untuk musiknya yang bombastis. Mulai dari “Psycho” yang memperkenalkan sang antagonis (So come to me now / I could use someone like you / Someone who’ll kill on my command / And asks no questions”), lalu “Mercy” sebagai klimaks penindasannya (“Show me mercy, from the powers that be Show me mercy, can someone rescue me?”). Sementara “The Handlers” cukup apik andai saja tak dipersenjatai lirik perlawanan bermutu rendah (“Let me go / Let me be / I am escaping / From your grip / You will never own me again”). Finalnya adalah “Defector” merayakan kebangkitan (You thought, you thought I was weak / But you got it wrong / Look into my eyes / I’m a defector”) yang berakhir dengan siklus berulang akan lahirnya kezaliman dari kekuasaan dan keterasingan (“There are no countries left / To fight and conquer / I think I destroyed them all / It’s human nature / The greatest / Until we’ll survive alone / With no one left to love”)

Perjalanan eksesif yang cheesy itu masih diselipi dua interlud “[Drill Sergeant]” dan “[JFK]” (pidato John F. Kennedy) yang semakin eksplisit memandu plot narasinya. Ampunlah, dan akhirnya saya harus menyerah untuk tidak menyebut kata ‘lebay’ pasca mengetahui bagaimana album ini diakhiri. Delapan lagu hiperbolis ditutup dengan lagu gegap gempita berdurasi sepuluh menit, disusul paduan suara klasik “Killed by drones / My mother, my father / My sister and my brother / My son and my daughter”. Ada yang lebih klise? [Soni Triantoro]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.