close

[Album Review] Noah – Second Chance

noah
Noah - Second Chance
Noah – Second Chance

Noah – Second Chance

Musica Studios

Watchful Shot : Hero

[yasr_overall_rating size=”small”]

Jika album perdana Noah (Seperti Seharusnya) dirilis beriring euforia keluarnya Ariel dari jeruji besi, maka tak mau kalah, peredaran album kedua ini dikobarkan dengan wara-wara keluarnya sang drummer, Ilsyah Ryan Reza dari band. Upaya yang baik, namun Second Chance jelas masih kalah pamor dari Seperti Seharusnya. Tak ayal, 9 dari 12 lagu di dalamnya hanya merupakan gubahan ulang dari hits lama Peterpan, dan mereka gagal memberikan kesempatan kedua bagi lagu-lagu itu untuk kembali mengulangi masa keemasannya.

Di sisi lain, tiga lagu sisanya yang merupakan materi anyar justru tak bisa disepelekan. Dari tangan dingin produser sekelas Steve Lillywhite (Pemegang lima trofi Grammy Awards dan catatan kerja dengan U2, The Rolling Stones, Morrissey), “Hero” sebagai lagu pertama dengan sangat tegas memperlihatkan jurang perbedaan kualitas produksi Noah dengan rata-rata band pop industri nasional seangkatannya. Ada britpop mewah—masih rasa U2 dan Oasis—dengan colongan drum roll “Welcome To The Black Parade” dari My Chemical Romance. Nyali atas penggunaan bahasa Inggris juga patut diapresiasi kendati lirik ciptaan Ariel dengan asistensi Giring ‘Nidji’ itu memang tak mampu berkelit dari pakem langganan lirik lagu Nidji sendiri. Pun “Seperti Kemarin”—entah kenapa lagu ini terdengar amat ideal untuk iklan sepeda motor matic atau semacamnya—dan “Suara Pikiranku” juga bukan materi picisan.

Adalah merugi kemudian ketika kapasitas Noah untuk membuat lagu baru lain yang menjanjikan justru lantas terpinggirkan oleh tuntutan pembaharuan musikal yang buntu pada hits lawas seperti “Dara”, “Langit Tak Mendengar” dan “Walau Habis Terang”. Saya tahu tak ada perbedaan warna musik mendasar antara Peterpan dan Noah, namun saya berharap ada semacam sentuhan aransemen yang segar. Nyatanya tak ada perubahan yang kentara kecuali jika Anda sengaja mendengarkan lagu-lagu itu bergantian dengan versi lama masing-masing. Tak jarang malahan banyak bunyi-bunyian tak perlu seperti string section, serpih-serpih elektronik dan layer-layer yang cenderung industrial. Perbedaan yang mudah direkognisi justru mutu suara Ariel yang menurun. Dengar vokal sumbang pada “Tak Bisakah” (Andaikata tak disokong aransemen dan sound mahal, lagu itu akan berakhir seperti program karaoke radio asal-asalan). Di luar kompetensi Steve Lilywhite dan tiga lagu anyar, Second Chance adalah semacam album The Best Of yang mendekati kesia-siaan. [Soni Triantoro]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.