close

[Album Review] Nyanyian Anak Bintang

1 (2)

Review overview

WARN!NG Level 9

Summary

9 Score

Label: Maraton Mikrofon

Year: 2018

Watchful Shot: “Papua”, “Petani”, “Nelayan”, “Rumah Bintang”

 

Senandung. /se·nan·dung/ k.b

  1. nyanyian atau alunan lagu dengan suara

lembut untuk menghibur diri atau

menidurkan bayi.

  1. Duuu du du du du duu du

Senandung sulit dipisahkan dari lagu-lagu di album Nyanyian Anak Bintang. Memang, tanpanya sebuah lagu di sini masih dapat bekerja tanpa kehilangan elemen ceritanya, namun ia, mungkin, tidak dapat bekerja sebagai nyanyian. Ia memberikan tenaga pada nyanyian anak-anak Rumah Bintang, tidak hanya berperan sebagai dekorasi melainkan menjadi fungsi dimana anak-anak bisa leluasa mengungkapkan keadaan pengalaman dan imajinasi mereka. Kita orang dewasa ini pun tidak saja ikut menggoyangkan kepala saat mendengarkannya, namun juga terdorong untuk merespon ajakan-ajakan mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang bersenandung kapan saja hatinya melonjak, terkulai, sedang mengalami perubahan suasana, atau hendak merespon pengalaman jiwanya. Ia mengungkapkan sesuatu yang tak terbahasakan. Seorang anak bersenandung mengiringi langkahnya dengan berjingkrak ketika lonceng jam istirahat sekolah berdenting. Seorang ibu bersenandung sambil menyetrika baju di sabtu pagi. Lalu seorang bapak menyenandungkan irama masa mudanya di teras rumah ditemani segelas kopi dan sepiring pisang goreng. Senandung memanifestasikan denyut jiwa pelantunnya.

Dalam album ini, senandung bergerak seirama petikan gitar akustik yang padu. Terkadang, ia memberikan penekanan emosi anak-anak sehingga lirik pun mendapatkan bobotnya. Ia menjadi jembatan antara musik dan bahasa, merangkul keduanya sebagai nyanyian yang utuh. Ia bergerak seiring anak-anak mencandai makhluk hidup, benda-benda, orang-orang, sampai situasi-situasi yang tak jarang sulit dan pelik.

Senandung menghantarkan semangat-semangat yang mungkin tidak kita temukan dalam diri kita orang dewasa. Ia bergerak bersama ikan-ikan dan burung-burung, menyampaikan keintiman lewat pengamatan sederhana atas gerak-gerik keduanya. Kita menemukan sebuah cara pandang yang tak muluk tentang kebenaran, membiarkan makhluk hidup bergerak dalam irama alam diiringi sebuah pengertian dan pemahaman, sebuah hubungan yang jauh berbeda dalam jalinan antara peneliti dan objek penelitiannya.

Di lagu “Nelayan” dari Deugalih yang di-cover anak-anak, senandung membungkus kita dalam suasana petualangan yang kental. Namun petualangan ini bukanlah sekadar urusan menyusuri tempat-tempat baru atau melihat pemandangan, terdapat perhatian terhantar di sana. Anak-anak mengikuti pak nelayan berlayar menuju tempat ikan-ikan. Sekembalinya anak-anak, mereka kemudian menyusuri pantai, namun mereka tetap berlayar, mengamati petani garam yang tubuhnya terpapar cuaca terik. Lantas mereka menyampaikan sebuah doa, “Oh matahari berkati kami,” senada dengan doa yang mereka sampaikan kepada pak petani di lagu “Petani.” Dan dengan bersenandung, mereka kembali mengembangkan layar. Layar, sebuah simbol pemberanian diri melangkah ke luar batas (ny)aman untuk sebuah bahagia atau bahaya atau alasan lain yang bisa sangat beragam, dalam nyanyian ini mendapatkan makna baru, menjadi kendaraan untuk membuka hubungan-hubungan dengan lingkungan kehidupan yang bisa jadi luput dari pandangan kita karena terlalu hal-hal di dalamnya sudah sangat biasa.

Senandung yang bernuansa petualangan pun muncul lagi di lagu “Hutan-hutan” dimana anak-anak menyusuri sebentang lapangan gundul. Terdapat semacam kontradiksi ketika ia bergerak untuk mengiringi kabar bahwa hutan sudah jadi mandul sampai-sampai “kecoa sampai musang pun mati.” Namun penilaian ini segera runtuh ketika kita memasuki babak dimana nyanyian bergerak dalam gestur yang mengajak untuk bertindak atas keadaan. Di ujung lagu, senandung besama keceriaan yang dikandungnya mengantarkan ajakan menanam pohon, dan menjaganya. Memang, dipandang dari sudut manapun, pesan itu klise, tetapi bukankah semangat yang riang itu lah yang benar-benar dibutuhkan untuk mengatasi krisis ekologi kita hari ini, sembari kita memikirkan urusan niat politik, perancangan strategi sampai tetek-bengek pelaksanaannya?

Keriangan mewarnai sebagaian besar lagu-lagu yang kita dengar. Keriangan itu di telingaku terdengar absurd sebab bagi mataku yang dewasa ini, masalah-masalah sosial dan lingkungan biasanya dipersedih. Kita bisa mencoba mengingat lagu-lagu masa kecil untuk memeriksa semangat ganjil masa anak-anak. Aku ambil contoh lagu “Balonku” ciptaan Pak Kasur, yang sampai sekarang masih menjadi lagu-anak favoritku. Di lagu yang menggunakan suara “dor” itu, di lagu yang sedih itu, irama yang bermain tetaplah ceria. Irama itu mendorong hati yang bersedih untuk bertindak, mendorong yang menyanyikannya untuk memegang balon-balon yang masih bertahan dengan “erat-erat”. Di sini musik memainkan peran yang sangat penting tidak hanya dalam rangka mengiringi lirik yang dilantunkan melainkan juga berfungsi sebagai pemanggil sebuah daya purba, yang mungkin selalu berada dalam diri: sebuah daya yang menggerakkan jiwa manusia.

Pada tahun 1992, di siaran TVRI berputar sebuah video musik berjudul “Si Komo Lewat” yang dilantunkan oleh Melisa dan beberapa anak-anak. Lagu itu bercerita tentang kemacetan Jakarta yang disebabkan oleh Komo, digambarkan sebagai kadal raksasa, yang sedang jalan-jalan keliling kota. Polisi bingung, orang-orang ikut bingung, dan semuanya berhenti di sana. Irama musik dalam lagu dua dekade lalu itu digunakan kembali dan digubah ulang dalam lagu “Macet”-nya album ini dengan mengangkat tema yang sama, dalam bahasan kemacetan kota bandung. Kemacetan dipandang bukan disebabkan oleh Komo yang abstrak, melainkan oleh kendaraan yang memang semakin banyak jumlanya melebihi batas kenyamanan kota. Lirik dan perubahan intonasi anak-anak memberikan suasana kegentingan yang mana seorang mesti segera bertindak sehingga memungkinkan mereka untuk menyampaikan ajakan “membantu pak polisi.” Kemudian senandung masuk dengan gestur yang tetap menyayangkan keadaan. Dari sana kita temukan bahwa anak-anak tidak selalu ceria dalam memandang dunia yang mereka hidupi.

Senandung bernada sama di lagu “Macet” pun muncul kembali di lagu “Layang-layang”. Tetapi, di kesempatan ini ia bergerak mengikuti goyangan layang-layang. Ia berlaku seperti seorang ibu yang sedang menimang anaknya, menampakkan dirinya sebagai rasa kasih-sayang. Hubungan antara anak-anak dan layang-layang yang dipertahankan dalam jarak jauh itu memberikan kesan kerawanan pada jalinan ikatan. Gambaran ini megantarku membayangkan seorang ibu yang sedang menjaga tali(-pusar) di bumi, sembari anaknya terbang kian jauh, hampir tak terlihat di angkasa. Anak rantau boleh bersedih namun senandung dan ungkapan sayang anak-anak Rumah Bintang ini mengajak kita untuk tenang, untuk tidak khawatir, teruslah anteng di langit!

Lagu yang paling menghentak untuk kita para pendengar dewasa, mungkin, adalah “Papua”. Anak-anak menyapa papua dengan keluguannya (atau ketulusan?), menyatakan dengan yakin ‘Aku dari jawa’. Perihal kemelutsejarah-ekonomi-politik di sana yang mengutub dalam soal menetap atau merdeka dari NKRI dibuat lebur oleh nyanyian yang bernada persahabatan, walaupun tidak berarti konflik malah dibiarkan. Senandung memainkan perannya sebagai pencerminan yang ingin menunjukkan seperti apa suara burung-burung yang anak-anak dapatkan dari cerita-cerita. Persahabatan mereka dibuka atas landasan rasa ingin tahu dan sekadar keinginan untuk bercerita. Di hadapan lagu ini, kita orang dewasa, bisa bercermin dan bertanya,Apa yang kita lihat di sana?

Keberadaan-bersama mengikat album ini dengan semangat perjumpaan-pertemuan, saling mendoakan, saling menjaga, dan yang terutama yaitu digelar dengan cara sekadar berkumpul.

Mari tengok cerita anak-anak tentang rutinitas-harian berangkat kesekolah dalam lagu “Sekolah”. Sekolah, yang formal itu, mengalami pemaknaan ulang: menurut anak-anak Rumah Bintang, ia tidak melulu tentang menggapai cita-cita atau menjadi bintang kelas. Mereka lebih percaya padahal-hal praktikal yang lebih bersahabat dengan hubungan intra-personal seperti belajar bersama teman dan juga memerhatikan guru supaya “… mudah selesaikan pekerjaan rumah.”

Dorongan untuk berkumpul dan berinteraksi ini terwujud dengan sangat lembut dalam lagu “Rumah Bintang” dimana anak-anak bergerak mendekat, mendatangi teman-teman mereka, “Aku ingin terbang/ tinggi ke angkasa/ menemani bintang/ yang berkilauan.” Gerak si “Aku” ke langit itu mewujudkan dirinya menjadi sebuah kenyataan ketika bait-bait berikutnya melanjutkan cerita bagaimana ia berkumpul, untuk belajar dan bernyanyi, dengan teman-teman riang di Rumah Bintang.

Mendengar lagu-lagu Nyanyian Anak Bintang lewat senandung yang terselip di antara musik dan bahasa itu, adalah satu percobaan yang mungkin membuka hubungan yang lebih dekat dengan suara jiwa anak-anak. Sehingga kita tidak saja terkagum-kagum dengan karya dan performa mereka namun menyimak dengan rasa ingin tahu yang sebanding dengan yang mereka upayakan dalam memandang dunia kehidupan. Dari sikap menyimak yang intim, kita mungkin bisa melihat kembali hal-hal gamblang di sekitar kita dengan cara yang lebih segar. Dan ketika kebenaran yang terlupakan ditemukan kembali di dalamnya, kita bisa mengingat Newton, bahwa pengetahuannya hanya mungkin oleh usaha pendahulu-pendahulunya. Kita orang dewasa inipun bisa berkata serupa dengan sedikit merundukkan badan, “If I have seen further it is by standing at the shoulders of giants the side of children.” [Kontributor/Abdul Haris Wirabrata]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response