close

[Album Review] Of Monster and Men – Beneath The Skin

of-monsters-and-men-skin
Beneath The Skin
Beneath The Skin

Of Monster and Men – Beneath The Skin

Republic Records

Watchful Shots: “Crystal” – “Hunger” – “Wolves Without Teeth”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Sebagai manusia yang tumbuh dewasa dengan usaha keras untuk terus mempertahankan sense of kiddo dalam hati, Beneath The Skin membuat saya patah hati. Seperti ditinggalkan kawan karib yang tiba-tiba sudah tumbuh sekejap lebih tua dalam sehari. Setelah terpesona dengan baris-baris dongeng, mitos, cerita tentang hutan dan monster gunung di My Head is Animal, Of Monster and Man bertransformasi jadi lebih dewasa. Mengganti ceritanya dengan lirik-lirik personal tentang kehidupan rumit orang dewasa. Begitu pun musiknya. Jika di album pertama dulu kita diajak berlarian bersama di line-line dreamy yang super ear-catchy dan 8-9x hook “Hey!” di tiap lagu, di album ini OMAM terdengar lebih elegan dan rapi.

Tapi syukurlah kuintet folk-rock asal Islandia ini tidak kehilangan trademark mereka. Masih lekat rasa Iceland-ish yang mewujud di gebukan drum serupa marching yang enerjik dan padat. Dengarkan “Crystal” yang masih mempertahankan nuansa perkusif tribal yang dijalin rapat dengan seluruh instrumen lain. Mereka juga masih menyisakan bait “Cover your crystal eyes/
And feel the tones/ that tremble down your spine”
untuk diserukan bersama. Lalu ada “Human” yang mendapat lebih banyak distorsi gitar elektrik di melodinya.

“Hunger” jadi lagu yang paling sempurna di lagu ini. Nomor ini memberikan porsi yang seimbang antara roots mereka dengan rasa elegan hasil tranformasi di album kedua ini. Di sini, maksud personal mereka dimasukkan dalam metafora perburuan serigala. Kemudian ditutup dengan klimaks yang manis di lirik “I’m drowning.. I’m Drowning..” yang diulang berkali-kali di ending. Klimaks epik ini dilanjutkan gebukan drum primitif di intro “Wolves Without Teeth”. Seru-seruan “Hu…Hu..” juga cukup melunasi candu menyerukan hook “Hey! Hey!” di My Head is Animal.

OMAM juga menyisipkan lagu akustik sendu di album ini melalui “Organs”. Sedangkan di “Thousand Eyes”, mereka terdengar seperti band post-rock. Sebagai latar, suara aliran air membingkai ritme drum yang konstan di separuh lagu yang semakin mencapai klimaks di akhir. Di spasi-spasinya, bebunyian gesek berjejal memenuhi ruang dengar sampai kemudian kembali ke ritme awal dan berhenti mendadak.

Satu lagi yang terasa berubah di album ini, yaitu pembagian vokal Nanna Bryndis Hilmarsdóttir dan Ragnar Þórhallsson yang lebih seimbang. Nanna bahkan mengambil porsi lebih banyak di nomor-nomor lain seperti “Empire”, “Slow Life”, dan “We Sink”. Tidak seperti di My Head is Animal yang seluruh lagunya terlihat outstanding, hanya beberapa nomor di Beneath The Skin yang langsung tinggal di telinga. Album ini juga menyertakan bonus track yang merupakan hasil remix Grizzly Bear dan Alex Somers, sayangnya juga tidak membuat “Black Water” dan “I of The Storm” lebih baik.

Di ujung album, saya sepakat bahwa walaupun memang kurang meledak-ledak dan lepas, Beneath The Skin merupakan pencapaian baru di level musikalitas OMAM. Walaupun tetap saja, seperti anak kecil yang ngeyel menolak tumbuh, My Head is Animal tetap nomor satu. Lebih menyenangkan rasanya tahu bahwa ada orang dewasa lain yang memilih meruangkan mitos-mitos imajinatif alih-alih refleksi personal karena dihajar kerasnya dunia orang dewasa. [Titah Asmaning]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response