close

[Album Review] Panic! At The Disco – Death Of A Bachelor

death of a bachelor
death of a bachelor
death of a bachelor

Panic! At The Disco – Death Of A Bachelor

Label :Fueled by Ramen and DCD2 (2016)

Watchful Shot : “Victorious”, “Crazy=Genius”, “Don’t Threaten Me With A Good Time”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Banyak hal yang telah terjadi dalam satu dekade karir Panic! At The Disco, baik dari polemik genre dan keluarnya personil. Meninggalkan Brendon Urie sendirian, Januari lalu Panic! At The Disco menggebrak kembali dengan album Death Of A Bachelor. Sang frontman kini berjalan sendiri membangun semuanya. Memang ada beberapa lagu yang ditulis bersama, namun seluruh isi abum adalah Brendon. Setiap kata, gebukan drum, betotan bass, alunan gitar, semuanya Brendon. Album yang berisi 11 lagu ini menjadi suatu awal dari era baru bagi Mr. Urie.

Album yang didedikasikan sebagai penghormatan oleh sang frontman kepada Frank Sinatra ini dibuka dengan eksplosif oleh Victorious. Lagu tersebut mengajak kita untuk chill out dan lebih santai dalam menjalani hidup dengan lirik “Oh we gotta turn up the crazy/ Livin’ like a washed-up celebrity/ Shooting fireworks like it’s the Fourth of July”. Victorious juga akan membawa kita ikut tergerak dengan drum beat-nya. Suasana serupa masih terasa di nomor kedua, “Don’t Threaten Me With A Good Time. Kemudian, “Hallelujah” yang lebih dulu populer, membawa pendengar keluar dari keglamoran Vegas a la Panic! menuju kesunyian gereja. Namun, tak lama  “Emperor’s New Clothes yang diproyeksikan Brendon sebagai sequel dari This is Gospel dari album Too Weird To Live, Too Rare To Die! menggiring pendengar kembali dengan sentuhan jazz swing yang menjadi agenda besar album ini. Lirik “Welcome to the end of eras…” dalam lagu tersebut juga seakan menjadi penanda datangnya Panic! At The Disco atau lebih tepatnya Brendon Urie ke suatu era baru.

Brendon Urie kemudian menghadirkan nuansa khas Frank Sinatra dalam nomor “Death of A Bachelor”. “LA Devotee” yang terdengar seperti lagu pop yang terlalu generik dan “Golden Days” meneruskan tema penyesalan yang terbalut kenangan dalam lagu sebelumnya. Lalu, jazz swing a la Sinatra dilanjutkan dalam “Crazy=Genius” yang juga ditujukan sebagai nostalgia untuk fan-base Panic!. Irama yang cepat dan alunan tom-tom serta brass benar-benar membawa kita untuk ‘swing along’. “Crazy=Genius” juga menjadi nomor yang paling mencuri perhatian banyak orang.

Album kemudian dilanjutkan dengan “The Good, The Bad And The Dirty”. Lalu ditutup dengan “House Of Memories” dan “Impossible Year” yang menutup Death Of A Bachelor dengan pelan. Dua nomor tersebut seakan menutup tirai panggung pertunjukan secara perlahan. Selain menutup album, dua lagu tersebut juga menyiratkan salam perpisahan Brendon kepada teman-temannya yang telah hengkang dari Panic!. Lirik “Baby we built this house / On memories…“ dan ”There’s no you and me / This impossible year…” menjadi ungkapan bahwa Brendon siap menjelang era baru yang ada di depannya.

Namun sayang sekali, dua nomor penutupan yang mencoba menurunkan tempo menjadi suatu hal kurang pas dalam album ini. Menurut saya, akan lebih baik jika “Death Of A Bachelor” ditutup dengan lagu yang sama eksplosifnya seperti lagu pembuka. Walaupun begitu, karisma Brendon dan kelihaian vokalnya yang akrobatik menjadi daya jual dalam albumnya kali ini, dan tentu album-album sebelumnya. Penggabungan banyak genre seperti jazz swing, pop, dan rock menjadi pengalaman tersendiri bagi pendengar. Death Of A Bachelor menjadi artefak dalam perjalanan evolusi Panic! At The Disco dari emo menuju jazz swing yang sekarang diusung. Album ini juga menjadi sebuah karya yang mengantar sang frontman yang kini berusia 28 tahun menuju kedewasaannya, baik dalam bermusik maupun dalam kehidupan. Secara keseluruhan, Death Of A Bachelor merupakan karya Brendon Urie yang brilian.

[contributor/Unies Ananda Raja]

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response