close

[Album Review] Peonies – Landscape

Peonies
Landscape
Landscape

Label: Nanaba Misashi Records

Year: 2016

Watchful shot: “Wednesday”, “Summer”

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Ini merupakan album yang tepat dibawa apabila handai taulan sekalian sedang berpelesir ke pantai nan jauh di sana. Bersama kawan-kawan, meninggalkan dan menanggalkan sejuta keriuhan media sosial maupun seluk keramaian serta menaiki mobil jenis Volkswagen klasik panjang berwarna kuning dengan gradasi abu-abu di samping bongkahannya. Tujuan utama jelas menikmati hamparan pasir putih yang bertekstur sedikit lembut, sebelum nantinya mendengar desir suara ombak yang saling melempar kesunyian; kemudian bertukar kesan tak terlupakan di muka api unggun yang terus memancarkan cahaya merah. Lupakan sejenak rutinitas yang menyita banyak waktu juga pikiran di selaput otak karena bebunyian drum repetitif, kocokan gitar yang menimpali secara gurih tanpa tendensi dan lantunan vokal yang tenggelam dalam spektrum efek menjadikan musim panas di ujung haribaan semakin lekat penuh pengharapan.

Peonies, trio indie pop asal ibukota baru saja meluncurkan album penuh sekaligus yang perdana bertajuk Landscape beberapa waktu silam. Di dalamnya, memuat total keseluruhan 11 (sebelas) lagu yang tersusun dari kombinasi jangle-pop yang centil, swedish-pop yang minimalis atau surf-pop yang terdengar manis di lubang telinga. Kemunculan mereka seakan membawa angin segar di tengah ekspansi genre folk yang hilir mudik mencari tempat khusus di belantika terkini. Pembawaan musik yang catchy meluruskan memori mengenai keriaan masa kecil; selain mengingatkan pula kebengalan The Pixies yang memancing ledak tawa Brian Wilson semasa pembuatan narasi visual di Santa Monica. Terbentuk di tahun 2015, Jodi Setiawan (gitar), Citra Marezi (bas), dan Paramitha Citta (keys) sempat mengalami masa vakum akibat kesibukan masing-masing meski akhirnya memutuskan kembali untuk berkutat di dapur studio dan menghasilkan karya yang menyegarkan. Walaupun tampil mengusung format trio, mereka tak merasa hal tersebut adalah bencana. Bagi mereka, musik yang sederhana merepresentasikan kebersamaan yang terjalin; dimana saling melengkapi satu sama lain mampu mengisi kekosongan harmoni.

Saya sudah memilih beberapa lagu favorit di album Landscape. Tidak semuanya masuk ke dalam kategori pilihan akan tetapi beberapa yang disebutkan setelah ini nyatanya berhasil memenuhi rasa dan juga selera terbaik untuk menjelajahi musim panas tahun berikutnya. Sekedar berjalan tanpa tujuan atau memilah jodoh dibalik ramainya pedestrian. Landscape dibuka dengan “Whispering (All The Colours). Dentuman bas melambat lantas disisipi permainan keys melodius yang seolah malu menunjukkan diri. Sedangkan alunan gitar berlari dengan kecepatan tetap; menemani efek delay yang merajam kekosongan ruang. Di nomor “Intro (I Got You)” vokal Cinta melenggang bebas dari kawalan efek delay misterius. Sejurus kemudian keys milik Citta melukis awan disko medio 80an yang tanggung namun memaksa diri untuk bergoyang mengikuti alur. Bagi yang merindukan (atau mendambakan) eksotisme Malibu dan sekitarnya jangan lupa sertakan nomor ini dalam bucket-list idaman. Tempo kembali menyalak tatkala “Wednesday” diputar di pelupuk mata. Pukulan electric-drum memacu keliaran derau gitar; menjadikan semacam himne surf yang dibalut nuansa swedish cantik. Alhasil waktu bersepeda Anda tak akan senikmati hari terakhir dan setelahnya. Lalu “Summer” mendeskripsikan kekuatan empat chord yang merangsang mood terbagus. Saling menyerang dengan konstelasi mayor seperti “Misirlou” yang dipadupadankan bersama tepi kediaman Dick Dale. Tak perlu merepotkan diri dengan perpindahan irama yang kompleks, cukup sandarkan bahu di atas gantungan setengah tiang dan resapi lirik yang teruntai secara malas-malasan. Sedangkan “Falling” menyatakan impresi sendu yang bertubi. Walaupun memaksa indera meleas hasrat lara, Peonies mampu membuatnya tetap upbeat disertai jalinan jangle yang memikat.

Apa yang dilakukan Peonies melalui Landscape adalah bagian dari penyematan frase untuk bersenang-senang. Mereka tak memperdulikan pendapat orang lain secara intens. Cukup berada dalam wahana insipirasi yang luas, tuliskan beberapa bait lirik yang nantinya menjadi dasar pengerjaan lagu dan mendatangi perkakas permainan; melupakan ritual yang membosankan sehari-hari. Landscape merupakan idiom terbarukan bagi mereka yang penat akan kenyataan. Bahwa sejatinya urusan pekerjaan, uang yang mengendap dalam tabungan maupun target usia pernikahan yang terlalu berkecamuk di pikiran patut disingkirkan perlahan; menggantinya dengan nafas matahari yang terik, parade fashion musim panas yang selalu berubah tiap waktu serta kebersamaan yang tak henti-hentinya memintai dicumbui dengan nikmat. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response