close

[Album Review] Pink Floyd – The Endless River

Pink_Floyd_
Endless River
The Endless River

 

Pink Floyd – The Endless River

Parlophone, Columbia

Watchful Shot : (Semua atau tidak sama sekali)

[yasr_overall_rating size=”small”]

Kesalahan ada pada pihak pendengar jika berharap The Endless River akan menebar decak kagum selayaknya The Wall, Wish You Were Here, The Dark Side of the Moon, atau bahkan, setidaknya A Momentary Lapse of Reason. Sadar akan kondisi band yang kian di ujung nafas, tak ada dari David Gilmour dan Nick Mason yang pernah berucap bahwa The Endless River akan menjadi album terbaik Pink Floyd, album yang lebih baik dari The Division Bell, “Kami akan kembali menguasai dunia dengan album ini!!”, atau sesumbar promosi lain. Mereka hanya bilang ini adalah persembahan untuk mendiang Richard Wright, berisi materi lama, dan merupakan album terakhir Pink Floyd. Dalam konteks itu, The Endless River yang hanya sekedar memuat kumpulan ambience dan nomor instrumental—kecuali lagu terakhir, ”Louder Than Words”—merupakan sebuah keberhasilan.

Gilmour dan Mason memilih untuk menyeka nafas terakhir Pink Floyd dengan lembut, subtil, non-ambisius, elegan, dan cantik. Mereka meramu 20 jam sisa materi dari sesi rekaman The Division Bell untuk merakit sebuah wahana nostalgia floydian yang otentik. Tak ada lagi intensi untuk melantarkan terobosan seperti merekam gemerincing uang, bunyi jarum jam, atau sebagainya. Sudah cukup dengan semuanya. Pink Floyd bermain seperti Pink Floyd yang natural dan begitu familiar. Mereka tak butuh lebih dari semata-mata mengingatkan khalayak atas induk riwayat berkesenian Pink Floyd, yakni ketukan drum teler, sound psychedelic tipikal, melodi gitar mengangkasa “Shine On Your Crazy Diamond” pada “It’s What We Do”, intro “Another Brick On The Wall” dalam “Allons-Y1”, dan kelambu atmosfir candu lainnya. Mereka juga tak ingin topik-topik kisah pribadi personil, aristokrat Inggris, dan narasi-narasi semacamnya menganggu pengembaraan pulang itu. Mereka memilih menelanjangi semuanya demi reminisensi akan apa yang terlahir dan terwariskan oleh setengah dekade Pink Floyd. Sesederhana itu.

Pada akhirnya ini bukan hanya eulogi bagi Wright, namun juga memorial untuk Syd Barret, Roger Waters, The Piper at The Gates of Dawn beserta belasan album setelahnya, Astoria, Floydian, Radiohead, The Flaming Lips, hipster psychedelia renta, penjaja LSD, ganja linting, dan semua yang pernah menjadi korban kontrol Pink Floyd. Satu yang tak mereka hormati adalah iTunes, dimana The Endless River menyalahi tataran album yang ideal untuk diunduh per-lagu. The Endless River sama sekali tak berpeluang menjadi album esensial, revolusioner, atau memuat lagu-lagu yang akan masuk ke The Best of dan semacamnya. Namun, jika harus ada yang menutup karir Pink Floyd, kiranya inilah cara terbaiknya. [Soni Triantoro]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response