close

[Album Review] Polka Wars – Axis Mundi

uRVIaa4H
polka wars
axis mundi

Polka Wars – Axis Mundi

Record Label: Helat Tubruk Records

Watchful Shot: “Mokele”, “Tall Stories”, “Top Gear (Moth&Flies)”

[yasr_overall_rating size=”medium”]

 

Axis Mundi, membedakan orang jadi dua tipe: mereka yang sabar dan menikmati pengalaman menyibak lapisan metafor di lirik dan kompleksitas dalam sebuah karya musik, dan mereka yang masa bodoh dengan pencapaian estetika tersebut dan mengganti playlist mereka dengan album lain. Polka Wars, muncul secara pretensius dengan Axis Mundi. Sebuah album yang secara musikal maupun lirik cukup rumit. Axis Mundi yang berarti pertemuan dua dunia alias konsep keseimbangan yang hakiki ini mereka terjemahkan dalam delapan tracks indie-rock yang berjalin dengan ambient dan synthesizer dimana-mana.

Kuartet asal Jakarta ini memang terbilang masih muda. Namun secara musikal, album ini bisa menjadi pembuktian kualitas mereka. Rangkuman kegelisahan spiritual dan eksistensial khas manusia yang belum banyak makan asam garam dunia. Persoalan old soul macam dinamika hidup dan dialog dengan sang pencipta dihadirkan secara lebih universal dengan menggunakan istilah-istilah macam ‘Mokele-mbembe’, ‘Alfonso’, ‘Ataraxia’ dan lainnya (saya bahkan juga sempat mencari istilah ‘yin yang’ di sleeve liriknya). Penggunaan lirik Berbahasa Inggris juga bisa dilihat sebagai strategi membawa album ini ke pendengar yang lebih luas.

Axis Mundi dibuka oleh cerita spiritual yang dimetaforkan dalam “Mokele” yang secara literal adalah nama mitos monster sungai di benua hitam sana. Keadaan ada dan tiada ini membayang saat not-not dari synthesizer muncul di tengah ramainya distorsi gitar membayangi reff ‘Often see you out there/ Mokele-Mbembe’. Ganjil, tapi memikat. Perjalanan lalu seolah membelok ke jaman baroque ketika betotan bass repetitif dan suara bariton dramatik Rahmadeva membuka “Alfonso”. Dialog sinis tentang hidup dengan kekuasaan yang mengingatkan kita pada sang kapten kapal yang tersohor di jamannya itu. Lalu coba dengarkan “Horse’s Hooves” dimana Karaeng mendapat giliran juga untuk menyuarakan vokal dramatik. Dibuka dengan suara ombak berderu-deru, Karaeng menyanyikan liriknya seperti sedang membaca puisi. Datar, diiringi musik shoegaze repetitif. Emosional.

“Top Gear” menjadi salah satu nomor paling intens di Axis Mundi. Lirik pada reff yang dinyanyikan dengan falset oleh Rahmadeva dan suara saxophone yang makin menaikkan tensi lagu patut diacungi jempol. Soundtrack yang cukup edgy untuk mendampingi sebuah adegan gelut dengan sang algojo kematian. Lalu jika lelah dengan permainan metafor mereka, pencet pemutar musik anda ke track “This Provindence” dan “Lovers” yang cukup lugas. Imbuhan whistling sound dan petikan gitar di “Lovers” membuat nomer terpendek di Axis Mundi ini terdengar folk-ish.

Namun Polka Wars mengembalikan pendengar ke jalur indie-rock melalui gebukan drum perkusif dan permainan gitar distorsif bertenaga di kisah kontemplatif berjudul “Tall Stories”. Axis Mundi lalu ditutup dengan “Piano Song”. Lagu berdurasi 14 menit ini seperti sebuah penyerahan diri. Setelah digempur di track-track sebelumnya, suara piano yang mendominasi menyediakan banyak ruang sunyi di lagu ini. ‘The sentence that cometh from him cannot be changed/ and he is in no wise a tyrant onto his realm’.

Konseptual, tapi memang cenderung susah untuk dicerna. Polka Wars seperti meningkatkan level pemaknaan dalam konsumsi musik pendengarnya. Secara utuh, album ini memenuhi ekspektasi dari judul Axis Mundi itu sendiri. Selain begitu banyaknya warna musik yang berkelindan di Axis Mundi, satu hal oke lagi bahwa Polka Wars menerapkan posisi egaliter dalam band mereka. Alhasil kita tidak dibuat bosan dengan suara dari seorang vokalis saja. Dengan konsep band unik, berbagai prestasi dan materi album seperti Axis Mundi, Polka Wars memang patut diwaspadai di 2015 ini. [WARN!NG/Titah Asmaning]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.