close

[Album Review] San Cisco – Gracetown

sansisco

San Cisco – Gracetown

Island City Record (2015)

Watchful Shot : “Too Much Time Together” – “Run” – “Magic”

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

sansisco
sansisco

Setelah nomor “Awkward” dari album Self-titled membuat mereka menginjakkan kaki di 10 besar Triple J Hottest 100 pada 2011, kuartet asal Australia Barat ini seperti ditelan bumi. Nihil lagu baru, jarang tampil live dan tanpa kabar. Belum sempat khalayak angkat kaki, San Cisco kembali menarik perhatian dengan merilis LP kedua mereka yang bertajuk Gracetown awal maret 2015 lalu.

Masih seperti LP perdananya, selain tetap pada tema cinta, rata-rata lagu Gracetown berdurasi pendek. Bedanya, pada album Self-titled hal tersebut ditujukan agar pendengar tidak bosan dengan ratusan (bahkan ribuan) “da da da da” yang memekakkan telinga. Kali ini, tak ada lagi kebodohan-kebodohan macam itu. Selain itu, kita tidak lagi menemukan lagu-lagu imut dengan suara laki-laki dan perempuan yang seperti berdialog. Pada Gracetown, jatah vokal Scarlett Stevens dikurangi. Hanya pada nomor “Magic” kita dapat menikmati suara halusnya secara utuh. Sisanya hanya sebatas suara latar. Meskipun tidak menjawab kerinduan khalayak akan suara drummer ayu itu, langkah tersebut semakin menegaskan peran Jordi Davieson sebagai vokalis utama pada kolektif ini. Dapat dirasakan bahwa Gracetown diracik dengan lebih hati-hati, lebih dewasa dan padat. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan tangan terampil produser Steve Schram yang kembali ke dalam dapur produksi San Cisco. Kepiawaiannya membimbing San Cisco meracik musik yang kaya rasa.

Dibuka dengan “Run”, kita seakan bernostalgia dengan keagungan “Awkward”. Irama bass funk yang dinamis dan cermat ditambah suara desahan Jordi Davieson di awal membuat nomor ini memiliki nuansa liris seperti “Awkward”. Terlebih, nomor tersebut disusul spektrum psychedelic “Too Much Time Together” yang memabukkan. Dari sini, muncul harapan Gracetown akan kembali mengunci perhatian khalayak.

Gracetown juga menawarkan wujud lagu yang beragam: mulai dari indie pop, disco, funk, soul hingga hip hop, walaupun tidak semuanya berakhir manis. Keluar dari zona nyaman tanpa persiapan yang matang adalah sebuah kesalahan. Menjajal RnB lewat “Super Slow” dan lo-fi folk pada “Skool” bukan pilihan yang tepat. Meski begitu, hal ini menjadi tanda bahwa Gracetown cukup eksploratif dan menampung ide-ide tematik yang liar.

Penjelajahan konsep Gracetown berada pada titik bimbang: antara manis dan pahit. San Cisco kini terdengar seperti sebuah kuartet aji mumpung yang menawarkan awalan brilian hingga pertengahan, namun lenguh di akhir. Kemampuan untuk menghadirkan musik-musik yang lebih rapi terkikis dengan kebingungan untuk memasukkannya ke dalam sebuah kategori. Pada akhirnya, memaklumi adalah jalan keluar.

 

[dikirim oleh kontributor: Anas AH]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response