close

[Album Review] Sarana – Heal EP

sarana – heal
sarana
sarana

Record Label: Self Release (2016)

Watchful Shot: “Anxiety Inhaler”

[yasr_overall_rating size=”small”]

Musik noise di Indonesia mungkin adalah sesuatu yang belum begitu diminati oleh orang-orang pada umumnya. Pertengahan 2000an ketika noise mulai berkembang, hanya kota-kota besar semacam Jakarta, Bandung, Jogjakarta atau Surabaya yang sekilas terlihat. Memang sebelum ini sudah ada beberapa proyek noise dari era 90’an bahkan bisa diturut lebih jauh ke belakang tapi masih terlihat berjalan sendiri-sendiri, sebagai proyek akademis atau menjadi satu kesatuan gerak dengan karya seni kontemporer.

Sekitar 3 tahun belakangan musik noise mulai menggeliat dan tidak hanya berkutat di pulau Jawa saja. Mulai dari Muara Enim, sebuah kota kecil di pelosok Sumatra sampai ke Sanggau di Kalimantan Barat bahkan Sulawesi, para penikmat dan pembuat musik noise mulai merapatkan barisan. Salah satu kota pada era ini yang kemudian marak dengan aktifitas noise adalah Samarinda di Kalimantan Timur. Dan salah satu penggerak utamanya adalah sebuah trio bernama Sarana. Mereka pelaku sekaligus terlibat sebagai pembuat gig noise di kota ini.

Sarana adalah Sabrina Eka (perempuan pelopor noise pertama di Kalimantan), Istanara Julias dan Annisa Maharani. Oke, maafkan saya bila penyebutan gender di sini menyinggung kamu wahai para aktifis, tapi saya ingin sekedar menjelaskan bahwa (CMIWW) “they are the first female noise trio in Indonesia”. Pada akhirnya memang bukan gender yang berbicara tapi apa yang sudah mereka hasilkan selama satu tahun dalam rangkuman album ini. Satu lagi, saya harus menambahkan bahwa Village Voice pernah memilih mereka sebagai 2016 March’s Best Noise Music.

Dengan kover depan artwork mandala hasil karya Annisa sendiri, cakram digital ini berisi enam track yang tidak seperti rilisan noise kebanyakan di Indonesia, mereka tidak bermain kencang atau memekakkan telinga. Sebaliknya komposisi mereka cenderung lembut, memakai suara vokal yang diolah kembali melalui loops, efek reverb, echo dan delay dengan setelan atmosfer yang sangat gelap. Kalau hati kamu mudah terbawa suasana, saya sarankan jangan menyetel album ini sendirian di malam hari.

Suara cekikan, spoken words, chanting, nyanyian opera, serta dalamnya tarikan nafas diiringi loops dan distorsi yang lembut membuat aroma kengerian membalut CD ini. “Anxiety Inhaler”, komposisi terpanjang di sini berbunyi selama sekitar 11 menit, yang dibuka dengan dering telepon masuk dan sapaan “Hallo” berulang-ulang membuat saya sedikit was-was ketika ada telpon masuk ke HP saya.

Saya rasa kuping kita tidak akan pekak mendengarkan semua materi mereka dengan volume maksimal sekalipun tapi entah dengan pikiran. Pengalaman saya dalam menikmati cakram yang hanya dirilis 14 kopi ini sama seperti ketika menonton film horror Jepang dengan soundtrack noise tipis-tipis. Beruntung saya mendengarkannya di siang hari. [WARN!NG/Indra Menus]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.