close

[Album Review] Savages – Adore Life

Savages-artwork-433
savage - adore life
savage – adore life

Savages – Adore Life

Label: Matador Records (2016)

Watchful Shots: The Answer, Adore, Evil, Slowing Down the World

[yasr_overall_rating size=”small”]

Bagaimana Savages mengeluarkan dirinya dari “klise” ritme post-punk yang mereka turunkan secara langsung dari pengaruh-pengaruh besarnya—Siouxsie and the Banshees,  Joy Division dsb—seperti pada nomor yang tercatat album debut Silence Yourself (2013) bisa menjadi alasan utama mengapa album Adore Life tidak kalah menarik dari album debut yang mendahuluinya. Coba saja putar Adore Life dan temukan diri anda memukul meja secara ringan, mencoba mengikuti repetisi pola drum yang tidak biasa dari nomor pembuka “The Answer”. Progresi chord dan bass line secara apik bergerak mengikuti repetisi hentakan drum, ditambah dengan lirik posesif “If you don’t love me, don’t love anybody” membawa nuansa keresahan seperti layaknya Savages.

 “Evil” sebagai nomor kedua juga merupakan contoh lain dari sesuatu yang tidak dapat ditemukan di dalam Silence Yourself. Bertumpu pada tempo dengan kecepatan menengah, lagu dengan ritme dancy ini bermuatan lirik yang sarat akan nilai punk—rasa tidak takut menjadi defian dan mengesampingkan ekspektasi orang banyak: “They will try to make you stay/ Steal the beats away from you/ Soak your actions in self doubt/ If you don’t live the way they like.” Chorus lagu seolah menggambarkan sudut pandang orang banyak—dengan akhir yang justru mempertegas pendirian untuk menyimpang—yang memaksa sang defian: “So don’t try to change, don’t try to change/ The way we made you/ Don’t try to change, don’t try to change/ Although we hurt you and we break you down.”

“Adore” sebagai nomor keempat patut disimak karena merepresentasikan ciri distingtif Adore Life. Di bawah tempo lambat, vokalis Jehnny Beth berulang bertanya melalui frase yang ada di setiap akhir bait lirik: “Is it human adore life?”. Nomor kelima “Slowing Down the World” menawarkan groove yang tidak pernah dimainkan Savages. Coba ikuti pola drum pada bagian verse dengan pundak anda bergoyang dan coba ingat apakah gerakan tersebut dapat pula anda lakukan ketika nomor lain yang pernah diciptakan Savages dimainkan. Potongan-potongan pada bagian chorus yang dilanjutkan dengan sustain gitar Gemma Thompson sebagai jembatan menuju verse memberikan sensasi yang semakin nikmat pada gerakan pundak anda ketika verse kembali masuk.

Kejemuan terhadap hidup yang membangkitkan hasrat atas kebaruan di dalamnya dibawa melalui “I Need Something New”. Ramai dan bisingnya permainan Thompson pada bagian klimaks membawa sedikit kemiripan gaya pada chorus lagu “Husbands” dari Silence Yourself.

 “When in Love” bisa jadi nomor yang tidak se-catchy nomor-nomor lainnya di dalam album dan cenderung terdengar klise karena tidak memberikan tawaran lain di luar tempo pada kecepatan menengah, begitu juga “Sad Person”.  Pada “Surrender”, bassis Ayse Hassan memainkan bass line yang terdistorsi berat sehingga memberikan sustain panjang. Di saat yang sama, Thompson memainkan not-not tunggal secara minimalis—dengan efek delay yang sepertinya tidak pernah dimatikan—ditambah dimainkannya pola drum yang juga dancy oleh Fay Milton. Tarikan nada vokal pada chorus menjadikan bagian tersebut begitu mengalir dengan aransemen musik yang tidak terlalu banyak berubah dari bagian-bagian sebelumnya.

“TIWYG”—akronim dari This is What You Get—adalah nomor agresif dengan hentakan bass drum yang padat dan beberapa “lubang frekuensi” pada bagian chorus-nya—yang menjadikannya keren. Coba bayangkan bagaimana drum dan bass yang berjalan bersama dengan padat pada kecepatan yang cukup tinggi dibarengi permainan gitar pada tiga senar terbawah dengan progresi yang cenderung sedikit. Kembali, adanya “lubang” yang membuat lagu terdengar tidak terbalut pada setiap sisi frekuensi justru mengukuhkan gaya post-punk yang penuh resah. Album ditutup dengan “Mechanics” yang nuansa aransemennya serupa dengan Dead Nature dari Silence Yourself, tetapi ditambah dengan adanya vokal.

 Adore Life adalah album yang dimotori lagu-lagu dengan pola ritme yang lebih lambat dan tidak sebising Silence Yourself. Namun, anda tidak sama sekali akan kehilangan raungan gitar Thompson dan resahnya vokal Beth. Dengan gayanya yang kontemplatif terhadap kondisi kehidupan, lirik-lirik di dalam Adore Life menjadi tersampaikan dengan baik terutama melalui gaya estetika musik yang distingtif dari debut yang mendahuluinya. Adore Life mungkin tidak berisikan materi-materi yang seluruhnya sempurna atau bahkan tidak memiliki satu pun lagu dengan komposisi dan impresi yang dimiliki lagu seperti “Husbands”. Namun, tentu dengan baiknya aspek-aspek lain, fondasi ritme yang cenderung variatif memberikan Adore Life kelengkapan bagi pendengarnya, suatu pengalaman yang mungkin tidak dapat dirasakan melalui Silence Yourself.

[contributor/Adam Bagaskara]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response