close

[Album Review] Scaller – Senses

Scaller – Senses

Review overview

WARN!NG Level 8.1

Summary

8.1 Score

 

Label: Scaller

Watchful shot: “Youth”, “A Song”, “Upheaval”

Year: 2017

Duaribu tujuhbelas sudah berjalan hampir empat bulan dan saya belum mengulas satu album pun yang keluar di tahun ini. Bukannya tak dapat atau tak sempat, tapi—jujur saja—tahun lalu masih menyisakan banyak memorabilia yang patut ditelisik lebih dalam. Deretan arsip tersebut kiranya tetap relevan dikaji karena tak dapat dipungkiri, kualitas yang dihasilkan berada di taraf memuaskan. Dari tingkat lokal ataupun regional; dari beraneka kejutan sampai yang melengkapi epos perjalanan. Lengkap adalah kata kunci. Meskipun pada titik tertentu timbul sepercik kebosanan akibat menjamurnya kolektif yang terbawa arus latah memainkan pola itu-itu belaka.

Walaupun tertahan di kondisi lampau, bukan berarti saya menutup diri dari gelombang informasi yang menautkan serba-serbi rilisan terkini. Otak menyimak dengan seksama; melihat siapa saja yang menelurkan kumparan bertaji di tengah ombak dinamika. Faktanya tidak mengecewakan. Masing-masing dari mereka menawarkan sesuatu yang baru seakan sepakat menolak terjebak dalam dalil kesamaan di era terdahulu. Sederhananya, 2017 sadar bahwa tak ada yang lebih baik dibanding meneruskan estafet kejayaan 2016 daripada tenggelam di palung ketakutan.

Saya membuka ekspedisi 2017 dengan album Scaller yang bertajuk Senses. Sebuah karya yang telah melewati fase check and balance berkali-kali, diimpikan banyak orang, serta meletuskan ambisi tak bertepi. Satu hal yang wajib disampaikan; kebuntuan berhasil dipecahkan. Setelah lama melintang dari hajatan ke hajatan, gigs demi gigs berkadar makro juga mikro, akhirnya rekaan yang bernatur jangka panjang maujud ke marcapada.

Tak bisa ditampik, kedatangan Scaller di papan pertalian independen menghisap minat para penikmat. Selain faktor karisma Reney Karamoy maupun Stella Gareth yang membuat hati penonton menjadi tak karuan, gaya bermain keduanya melebarkan energi sampai habis tak bersisa. Format yang mereka usung memiliki ponten bermutu; dominasi synth, kerapatan down stroke dari Fender kepunyaan Reney, dan pukulan ritmis liar nan atraktif.

Apabila dihitung matematis, mereka memerlukan durasi sekitar tiga tahun untuk melahirkan Senses semenjak EP 1991 keluar di pasar bebas. Namun penantian itu terbayar tuntas. Senses menciptakan klimaks yang dicari sepanjang petualangan. Konsep matang, aransemen cemerlang, sampai prototipe instrumen yang mengagumkan. Ada corak A Flock of Seagulls semasa Mike Score nampak sangat remaja dengan setelan rambut berponinya maupun ragam Nine Inch Nails yang melenggangkan sentuhan loop lewat fantasi industrial.

Senses dibuka dengan “The Alarms” yang melontarkan invasi senyap dari bongkahan Korg. Seperti Emily Kokal kala membawakan “Love Is To Die”, Stella memenuhi ajakan untuk meleburkan nuansa gelap yang memancar. Di nomor “Flair”, Reney bersenang-senang dengan tekstur feedback picking yang sedikit tersamarkan. Walhasil, ia membungkus nada dalam komposisi terdengar begitu ganjil bersama penggunaan distorsi yang tak terlampau banyak. Sedangkan “Move in Silence” mengajak menelusuri kaidah pop melalui haluan synth Stella yang mengudara laiknya entitas Peaches sebelum tiba-tiba berubah jalur di tengah lagu.

Pada komposisi “Senses” yang terpapar merupakan konjugasi dream pop. Agresifitas mereka tak tertahankan tatkala “Three Thirty” berkumandang. Stella memamerkan kemampuan olah Mellotron keluaran 1965 di samping Reney mengisi kesempatan dengan solo gitar minimalis. Intimasi muncul di trek “A Song” serta “The Youth”. Sepasang nomor tersebut rasanya ampuh digunakan untuk memancing kumpulan massa. Ditambah, harmoni synth Stella merapalkan kecupan science-fiction yang proporsional.

Melalui Senses, mereka membuktikan bahwa persiapan panjang berbanding sejajar dengan hasil yang diharapkan. Tak ada celah berarti di keseluruhan Senses, walaupun di beberapa trek muncul intonasi yang tak perlu ditambahkan. Di lain sisi, marwah lagu tetap terjaga meski pada posisi drum terdapat tiga pemain yang justru—beruntungnya—menyuntikan karakter masing-masing.

Album ini menjadi ajang pengkultusan Reney dan Stella terhadap pijakan musik yang mereka hadapi. Mendengarkan Stella tak ubahnya menyulut romantisme terhadap Eurhytmics atau Soft Cell Culture Club yang bergelimang intensi. Dan Reney pun setali tiga uang; mengubah dunianya sendiri menjadi wadah improvisasi yang tidak bersekat. Ia paham kapan musti mengumbar melodi dan menyeimbangkan tiang penyangga.

Sedari dulu, Scaller telah mencuri perhatian banyak penikmat. Pelbagai rencana sudah mereka pasang untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sebatas lewat belaka. Ambisi, motivasi, dan tentu saja kreasi menuntun perjalanan mereka ke dimensi yang entah jauh di sana. Satu langkah berhasil dipijakan lantas menunggu gerak berikutnya di kotak penyedia. Apakah sekedar mencapai klimaks sesaat atau melaju terus hingga menggaet status tak terlupakan? [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response