close

[Album Review] Sheila On 7 – Musim Yang Baik

Sheila on 7

Sheila On 7 – Musim Yang Baik

Sony Music

Watchful Shot : Lapang Dada

 [yasr_overall_rating size=”small”]

Sheila on 7 - Musim yang Baik
Sheila on 7 – Musim yang Baik

Lewat artwork bunga raya yang bersemi ria hasil kreasi Farid Stevy Asta (vokalis FSTVLST) di kovernya, album ini bak simbol belasungkawa atas gugurnya satu lagi peluang kelahiran musik berkualitas dari major label negeri. Musim Yang Baik dicanangkan sebagai album terakhir Sheila On 7 bersama label Sony Music Indonesia, dan celakanya ini adalah album yang bagus. Kita pun tinggal makin skeptis dengan apa yang lantas tersisa di label-label raksasa sana.

Formula basic track dan penggunaan varian instrumen yang minim menjadi corak paling mencolok di album ini, terutama pakem komposisi dua gitar Sheila On 7 yang dipangkas menjadi gitar tunggal. Terdengar lebih kosong itu pasti, namun jika ruang permainan gitar yang cuma satu itu dipegang oleh seorang Eross Candra, kekosongan itu juga berarti sebuah kesempatan untuk lebih fokus mendengar permainan guitar hero lokal. Kocokan gitar funk dan bluesy riah merekah. Sudah cukup lama industri musik arus utama tanah air tak menyajikan musik pop dengan performa gitar seimpresif ini. Menyentil mereka yang mengaku-aku sebagai band rock dengan gitar-gitar berwujud seram, Eross dengan Telecasternya terdengar cuek, rileks, dan begitu merdeka menyuguhkan melodi dan riff-riff kering bersahaja.

Single pertama, “Lapang Dada”, tentang relasi deja vu antara Eross dengan ayahnya dan putranya adalah salah satu lagu terbaik yang pernah diciptakan Sheila On 7. Dirilis di penghujung tahun lalu, “Lapang Dada” seperti menutup tahun 2014 dengan begitu khidmat. Melodi sederhana yang legit membuai dalam aransemen yang ajaib. String section yang lumrahnya hanya jadi bumbu penyedap semata, di lagu ini menjadi elemen vital yang kuat pesonanya, berayun-ayun tanpa harus cekcok dengan riff gurih pembuka larik “Apa yang salah dengan lagu ini? Kenapa kembali ku mengingatnya ”. Tak ada yang salah dengan lagu ini kecuali ia bisa terlalu berkesan dibanding lagu lainnya. Tapi, bukan berarti saya mengarahkan Anda untuk hanya mengopi lagu itu dan menghapus sisanya. Pukau permainan gitar yang disebut sebelumnya pun tak meninggalkan melodi-melodi nikmat ala Sheila On 7 di lagu lain, semisal “Canggung” atau “Selamat Datang”—lagu untuk para perantau.

Sayang, kendati tetap (dan selalu) menangkap tema-tema melankolia yang cerdas, mulai lebih banyak sisipan bahasa inggris yang mengganggu di lirik, termasuk reff karangan Adam pada “Satu Langkah”: “Sayang coba lihatlah aku. Seluruh tubuhku inginkan kamu. When I say ‘I love you’ please baby say you love me too”. Namun, ia membalasnya dengan kreasi manis di “My Lovely”, seperti “Masih asik sendiri, tersenyum jari menari” dan “Bukan enggan bergabung, bukan takut awan mendung”. Sementara pada “Musim Yang Baik”, selain intro gitar yang menggigit, lirik “Kucari dan terus kucari ternyata dia tumbuh mekar di dekatku” punya sentuhan penuturan khas dari Eross selaku pakarnya.

Terlalu muluk untuk membayangkan Musim Yang Baik akan banyak dikenang sebagaimana tiga album perdana Sheila On 7, namun album ini menutup 16 tahun pengarungan mereka bersama label Sony Music Entertainment Indonesia dengan sebuah pembuktian: Industri musik arus utama semakin memburuk—dari manajerial maupun konten—tapi apapun, Sheila On 7 tetap dalam kualitasnya. Selamat datang di rumah yang baru dan sampai jumpa di karya –karya selanjutnya. [Soni Triantoro]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.