close

[Album Review] Silampukau – Dosa, Kota & Kenangan

Artwork Cover Album Silampukau
Dosa, Kota & Kenangan Cover Album
Dosa, Kota & Kenangan Cover Album

Silampukau – Dosa, Kota & Kenangan

Record Label: Moso’iki Records

Watchful Shot: Puan Kelana – Doa 1 – Malam Jatuh di Surabaya

[yasr_overall_rating size=”small”]

Jika saya menempatkan kata ‘memukau’ di belakang Silampukau, percayalah itu bukan semata-mata karena mereka berima. Album Dosa, Kota & Kenangan ini adalah buktinya. Musiknya renyah bersahaja dengan lirik bernas yang menayang. Secara keseluruhan album ini memang tidak bisa diabaikan. Sebuah album sinematik tentang pojok-pojok tak terceritakan di meriahnya kehidupan urban di Surabaya. Menganut laku proud local youth, Eki Trisnowening dan Kharis Junandaru dengan jujur menceritakan Surabaya yang sebenar-benarnya. Mengajak kita mencintai kota dengan mengenal sisi-sisi gelapnya.

Walau tanpa disertai sleeve lirik di rilisan fisiknya, siapapun akan setuju bahwa gaya bahasa duo kepodang ini memang mencuri perhatian. Berbahagialah karena tahu bahwa masih ada musisi lokal yang mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan amat baik. Bermain dengan majas dan rima yang cerdik, mereka juga menyisipkan beberapa diksi klasik di KBBI seperti sonder, lingsir, mursal, puan, dan matrimoni.Tentu saja kemudian cerita-cerita itu dibalut lewat aransemen ciamik. Berbagai bunyi instrumen berkelindan, mewujud lagu-lagu folk dengan riuh yang tidak berlebihan. Pas.

Ada “Si Pelanggan”, “Bianglala” dan “Bola Raya” yang menyoal konsekuensi beberapa pembuatan kebijakan tentang tata kota Surabaya. “Si Pelanggan” adalah balada tentang Gang Dolly yang diceritakan dengan permainan rima yang elok. “Di dasar kerat-kerat bir/ yang kutenggak dalam kafir/ di ujung ceracau malam yang lingsir/ di dengung hambar aspal yang terus bergulir/ di lubang-lubang nyinyir ranjang matrimoni/ ku pertanyakan nasibmu Dolly,” rentet Eki. Pilihan sudut pandang yang sepertinya belum pernah digunakan siapapun ketika menceritakan tempat yang mau tidak mau juga telah jadi landmark Surabaya ini. Sedang “Bianglala” adalah protes tentang suplai hiburan murah di Taman Hiburan Rakyat yang semakin habis digerus supplier keriaan kapitalis. Sedangkan di “Bola Raya”, Eki dan Kharis melebur menjadi bagian dari sekumpulan anak-anak yang kebingungan cari tempat lapang untuk saling adu menyepak bola.

“Balada Harian”, “Lagu Rantau (Sambat Omah)” dan “Aku Duduk Menanti” bisa dikelompokkan sebagai lagu reflektif personal. Kesemuanya menggambarkan mereka yang babak belur di hajar kehidupan. Mereka yang kalah saat berlomba dengan pertumbuhan kota. Kumpulan lirik pesimistis (atau hanya realistis?) tentang kota Surabaya yang pertumbuhannya penuh cela.

Lalu ada “Sang Juragan” dan “Doa 1” yang dengan kurang ajar membongkar rahasia-rahasia umum yang sebelumnya kita simpan diam-diam. “Sang Juragan” adalah cerita tentang juragan ramuan rahasia di balik terciptanya lagu-lagu jenius dan aksi panggung gila yang pasti ada di setiap kota. “Hidup ini tambah keras/ semenjak naiknya harga miras,” nyanyi mereka seolah bergurau.

Dan saya berani bertaruh banyak musisi indie di luar sana yang diam-diam mengumpat sambil berkata “Damn it’s true!” saat “Doa 1” menyuara. Curhat eksistensial musisi indie yang hidupnya tidak jauh-jauh dari orderan sablon dan gantungan kunci. Di lagu ini, Kharis dan Eki menyanyi seperti tengah berlomba saling menimpali. Saling memotong ujung kalimat yang justru malah menghasilkan baris jenaka seperti “Aku cemas Gusti suatu nanti/ aku berubah murahan seperti Ahmad….”, menyisakan nama belakang yang hilang tapi kita semua tahu. “Doa 1” jadi salah satu lagu paling ramai dengan tempo drum konstan yang diselingi terompet, piano dan akordeon.

“Malam Jatuh di Surabaya” menjadi lagu paling sinematik. Baris “Maghrib mengambang lirih dan terabaikan/ Tuhan kalah di riuh jalan” yang dibalut musik noir gelap hasil efek musical saw yang lekat membayang. Menampilkan potret muram di tengah macertnya arteri Surabaya dengan begitu jelas. Tidak lupa menyoal balada merah muda, Silampukau menyisipkan “Puan Kelana”. Lagu cinta yang diramu dalam cerita nelangsa ditinggal kekasih ke Paris dalam melodi renyah dengan bumbu terompet yang bernuansa paris-ish. Sebutan puan dengan tambahan gombalan dengan kata-kata tidak generik membuat “Puan Kelana” jadi lagu romantis yang tak kehilangan derajat logikanya, jauh dari klise.

Setelah EP Sementara Ini yang dirilis 2009 lalu, Silampukau menunjukkan kematangan tingkat bermusiknya. Materi tematik yang digarap dengan apik, menjadi amunisi jitu untuk muncul di dunia musik independen Indonesia. Akhirnya Surabaya punya suara kembali. [Titah Asmaning]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response