close

[Album Review] Sleater-Kinney – No Cities to Love

cover album
Sleater-Kinney - No Cities to Love
Sleater-Kinney – No Cities to Love

Sleater-Kinney – No Cities to Love

Sub Pop

Watchful Shot: “Fangless” – “No Anthems” 

[yasr_overall_rating size=”small”]

Tak ada yang meragukan kemampuan Sleater-Kinney dalam menjejalkan deru punk elegan ke khalayak ramai sampai saat ini. Karakter musik mereka yang konsisten juga tegas, menambah tebal keyakinan independen sedari awal bahwa trio ini punya nilai lebih dalam memegang prinsip permainan do-it-yourself. Penampilan di Lollapalooza Festival 2006 menjadi aksi panggung terakhir sekaligus penanda fase hiatus berkarya mereka yang sejatinya cukup disayangkan para penggemarnya. Terlebih semenjak kemunculan perdana di tahun 1995, kualitas berproses mereka selalu mendapatkan apresiasi bagus melalui sederet album yang menyuarakan (keras) isu politik, sosial, hingga kesetaraan gender.

Meski dari Carrie Brownstein, Corin Tucker maupun Janet Weiss tetap produktif di jalan masing-masing, kiranya waktu sembilan tahun dirasa cukup untuk bernafas sebentar dari kehidupan Sleater-Kinney. Di tahun 2015, mereka kembali hadir menyapa kerinduan penggemar dengan rilisan album bertajuk No Cities to Love; sebuah hasil refleksi diri atas pencarian semiotika punk-rock selama hampir satu dekade.

Romantika Sleater-Kinney dibuka dengan hentakan bertenaga khas Olympia; desir riff blues bertemu cabikan bass kasar yang siap meledakkan hari Anda. Walhasil nomor berjudul “Price Tag” ini layak diputar sebelum kembali ke rutinitas membosankan. Semangat pekerja kelas menengah rupanya menginspirasi Brownstein cs. dalam menciptakan “Fangless”. Teriak vokal Brownstein yang melengkapi seruan protes Tucker mampu menghidupkan aliran denyut nadi suara ketidakpuasan. Di “Surface Envy” mereka membuat pembenaran tatkala peraturan hanya sebatas kiasan. Sembari menguatkan jemari tangan, gema koor massal terdengar bagai kata perlawanan. “We win, we lose, only together do we break the rules. We win, we lose, only together do we make the rules.” Meski keras dalam gerak protes, Sleater-Kinney juga memiliki celah sentimentil yang bisa diserang. Adalah tembang “No Cities to Love” sebagai representasi patah hati delusional milik mereka. Guyuran ritmis konstan ala Cadallaca nyatanya tak mampu menutupi kesedihan temporer akan waktu dan kesendirian. Gelombang pop muncul di tengah tataran kosmis punk yang dominan pada album ini. “A New Wave” sarat ketukan laten empat-per-empat dengan perbedaan warna timbre yang cukup kentara namun masih terjangkau pesta pora kesenangan. Tidak berhenti di situ saja karena “No Anthems” sudah berdiri dalam antrian demonstrasi budaya selanjutnya. Gebukan statis Weiss melengkapi kombinasi bunyi gitar parau Brownstein dan melodi ganjil Tucker yang mengingatkan saya akan kehebohan Siouxsie and the Banshees. Cukup menjanjikan.

Sudah dua puluh tahun Sleater-Kinney menapakkan pengaruh kritisnya lewat nada-nada subversif terhadap kondisi terkini. Genderang penolakan ketidakadilan ekonomi, politik, dan sosial-budaya masih mereka letakkan sebagai fondasi bermusik. Sempat berhenti sejenak nyatanya tak mengurangi taji trio ini untuk terus berlari menerjang berbagai konspirasi pemerintahan. Jika pada The Woods mereka masih terbelenggu sedikit keraguan, maka No Cities to Love adalah wujud penegasan etentitas Sleater-Kinney di garda terdepan suara perubahan. [WARN!NG/ Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.