close

[Album Review] Smashing Pumpkins ­ – Monuments to an Elegy

Smashing pumpik
Smashing Pumpkins ­ - Monuments to an Elegy
Smashing Pumpkins ­ – Monuments to an Elegy

Smashing Pumpkins ­ – Monuments to an Elegy

Label: BMG

Watchful Shot : Being Beige

[yasr_overall_rating size=”small”]

Monuments to an Elegy berisi setoran cicilan sembilan lagu guna menggenapi Teargarden by Kaleidyscope, proyek Billy Corgan untuk mengumpulkan 44 lagu baru yang terinspirasi dari lakon kartu tarot. Dicanangkan sejak tahun 2009, proyek ‘album di dalam album’ ini sebelumnya sudah menampung 23 lagu: dua mini album (Vol 1: Songs For a Sailor dan The Solstice Bare), sepasang lagu lepas (“Lightning Strikes”, “Owata”) serta tentunya album alternatif epik Oceania yang meluncur tiga tahun lalu.

Berseberangan dengan titel album yang berlagak membahana, Monuments to an Elegy justru sebuah karya padat ringkas dengan perpaduan dream pop dan alternatif grunge yang enteng tanpa niat-niat enerjik dan semarak seperti Oceania. Sejak nomor pertama, “Tiberius”, gitar crunchy banyak mendapat tandingan dari manuver-manuver bebunyian synth. Pun dari segi lirik, tak ada pula rangkaian topik alot, melainkan elegi-elegi asmara yang gamblang seperti “I don’t love you / For what it’s worth / So if you’re leaving can you hurt” pada “Being Beige” atau Love can dust you easy, as you know/ And does this make you feel slow / Cause when the shakers pleasing, and you’ll go” di “Monument”.

Gebukan tipikal Tommy Lee (drummer Motley Crue) yang ritmis, bergema dan kadang danceable tersimak di beberapa bagian seperti “Drum + Fife” atau pada verse “Anaise!”—yang menyiratkan corak glam rock. Namun, dengan karakter solid musik Smashing Pumpkins, Anda dipastikan tetap tak akan menyadari semuanya jikalau tak sengaja mencari.

Kala didengar kali perdana, Monuments to an Elegy bisa berlalu begitu saja bak bunyi gerobak penjaja es krim yang lewat depan rumah. Selain hanya berdurasi setengah jam, seluruh lagu digeber dengan tempo mirip dan tanpa dinamika signifikan, dimana transisi antar lagu terasa ngebut dan tanpa introduksi berarti. Mungkin pada “Run2me” yang bernuansa new wave kita baru ujug-ujug menyadari telah sampai di lagu kelima. Tak ada lagu yang begitu melekat meski setiap menitnya kita tahu ini adalah Smashing Pumpkins dan musik bagus. Semoga tak gegas kadaluarsa guna menantikan sisa hutang 12 lagu yang masih terjaga di album selanjutnya, Day for Night. [Soni Triantoro]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.