close

[Album Review] Soko – My Dream Dictate My Reality

Soko
Soko

Soko – My Dream Dictate My Reality

Babycat Records/ Because Music

Watchful Shot : I Came In Peace – Peterpan Syndrome – Who Wears the Pants?

[yasr_overall_rating size=”small”]

Lupakan gadis Perancis berambut brunnette yang dulu memainkan musik folk-minimalis dengan vokal manis di I Thought I was an Alien (2009). Sambutlah Soko yang sekarang. Gadis manis itu telah mewarnai rambutnya jadi pirang, mengganti mini-dress nya dengan kaos oblong dan jaket kulit, dan siap mengokupasi LA dengan musik post-punk berbumbu retro-synth dan suara low-fi serak ala New Wave tahun 80-an.

Dalam wawancaranya dengan WARN!NG beberapa waktu lalu, Soko berujar bahwa segala kesedihannya telah tercurah di album pertama, “now i just want to have fun!,” ujarnya. Dan benar saja, My Dream Dictate My Reality is brutally fun!

Diproduseri oleh Ross Robbinson, album kedua Soko ini begitu kental dengan pengaruh musik The Cure dan suara-suara rock lawas. Jauh dibanding saat ia menyanyikan “I’ll Kill Her” dengan hanya diiringi gitar dan piano. Meskipun begitu, karakter lirik Soko yang ceplas-ceplos dan jujur masih bisa terlihat. Jika didengarkan secara keseluruhan, lebih banyak lagu yang menghentak dengan tempo upbeat. “Temporary Mood Swing” mungkin adalah nomor yang sekaligus bisa merangkum album ini dalam satu judul. Soko dengan mulut tidak terkontrol, ide-ide liar, mood labil, dan attitude brutal.

“I Came In Peace” adalah awal yang cukup menjebak. Seolah album ini akan berisi melodi dreamy kasar yang melankolis, padahal tidak. Beruntung “Ocean of Tears” kemudian menyuara lebih bertenaga. Irama-irama New Wave juga bisa ditemukan di nomor lain seperti “My Precious”, “Visions”, dan “Bad Poetry”.

Dan bukan Soko namanya jika tidak berani mengangkat cerita tentang kecenderungan lesbiannya dalam sebuah lagu menyenangkan. “Who Wears The Pants??” yang menyuara dalam balutan musik post-punk adalah statement Soko menghadapi omong kosong orang tentang hidupnya. Judul nomor ini adalah analogi dari pertanyaan ‘Siapa yang menjadi laki-laki diantara kalian?’ yang biasa ditujukan pada pasangan lesbian seperti Soko.

Selain membicarakan kekasih perempuannya, Soko juga mempersembahkan “Keaton’s Song”. Lagu untuk Keaton Henson, penyanyi folk-rock asal Inggris yang sempat dekat dengannya tahun 2012 lalu. Resmi jadi lagu paling sendu di album ini.

Soko juga merekam dua lagu bersama Ariel Pink, musisi berambut merah muda asli LA yang tahun lalu menyuara lewat albumnya, Pom-pom. Berduet dengan vokal glommy di “Monster Love” dan ceria bak hits Billboard di “Lovetrap”. Di nomor “Lovetrap”, Soko dan Ariel juga menyisipkan dialog intim tentang percintaan. Bukan duet yang terlalu buruk.

Namun, walaupun mengubah karakter dan penampilan musiknya menjadi begitu lain, album ini belum bisa dianggap sebagai pendewasaan dalam karir bermusik Soko. Seperti nomor “Peterpan Syndrome”, mungkin Soko memang akan selalu masa bodoh dan bertingkah semaunya. Tidak peduli album ini akan dicaci atau dicintai setengah mati. Yang ia tahu hanya “My Dream Dictate My Reality”, nomor goth-punk dengan melodi gitar yang menggaung angker. Soko akan selalu dan hanya bersedia didikte oleh mimpinya, lain tidak. [Titah Asmaning]

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.